Honda CG 125…bukti deferensiasi teknologi OHV

Posted on 17 January 2011

80


Lagi-lagi Honda menunjukan teknologi berbeda dalam urusan mesin 4 langkah diera 70’an lampau. Dimana kebanyakan produk sepeda motor melenggang dengan teknologi OHC (Over Head Camshaft) atau secara teknisnya, untuk menggerakkan buka tutup klep masuk maupun buang hanya memerlukan satu buah camshaft yang terletak di cilinder head, maka penggerak daya dari crackshaft menuju camshaft memanfaatkan chain atau yang lebih familiar kita sebut sebagai rantai kamrat. Tetapi waktu itu PT. Federal Motor yang merupakan pabrikan Honda di Indonesia sebelum bertransformasi menjadi Astra Honda Motor, melakukan deferensiasi teknologi pada salah satu produknya yang berjuluk Honda CG. Tidak seperti kebanyakan teknologi yang dianut oleh produk kebanyakan, Honda CG menerapkan sistem OHV (Over Head Valve). Dimana posisi camshaft terletak dibawah, diarea blok silinder, sedangkan untuk menggerakkan buka tutup klep diatur oleh rocker arm yang menggunakan mekanisme dari Push Road atau batang stik.

Yeaahhh…Teknologi Honda CG series memang tergolong unik dimasanya. Mungkin saking uniknya tersebut, nilai penjualannya dipublikpun tidak sebegitu heboh layaknya sang kakak, Honda CB series. Terlahir secara built-up pada tahun 1975 dengan menyandang mesin 125cc berkode K1. Motor ini memang mempunyai model design layaknya varian CB series. Bahkan dikalangan bikers awam, jika tidak mencermati bentuk head silinder yang rata tidak bersirip, mungkin mereka akan menyebut CG sebagai CB.



Dengan teknologi push rod layaknya mesin Harley Davidson, motor ini mempunyai torsi melimpah diputaran bawah. Tapi jangan kaget jika RPM berkitir tinggi, suara kasar mesin adalah bunyi-bunyian yang biasa terdengar oleh sang rider. Motor  yang dijejali teknologi 4 langkah, berkubikasi mesin 124cc silinder tunggal, dengan mengandalkan pendingin mesin berupa udara, mampu menyemburkan maksimum power 8.0kw pada 8.500rpm, serta maksimum torsi 0.9kgf-m pada 7.500rpm. Mengadopsi 4 tingkat perpindahan gigi perseneling ala motor bebek (1-2-3-4-N), dibantu oleh kopling manual tipe basah, mampu membawa pengendaranya berakselerasi hingga batas kecepatan 110kph. Sedangkan eloknya jalanan makadam tanah air waktu itu, mampu diredam dengan kelembutan shockbreker tipe springer yang terpasang didepan maupun belakang. Lantas urusan ngebutpun tidak menjadi masalah bagi bikers nekad pada masanya, karena hanya mengandalkan rem tromol depan belakang, dipastikan laju roda berdiameter 18″-250 depan dan 18″-275 belakang tidak akan terkontrol secara sempurna :-D. Dan yang perlu diperhatikan pada CG K1 ini adalah sorot sinar lampunya, jika sang biker tetep kekeuh melintas jalanan nan sepi, semisal diareal persawahan, pastikan indra penglihatan masih dalam taraf normal, karena cahaya remang dari sumber listrik berdaya 6v dari otak pengapian platina, kadang akan menyebabkan bahaya yang berkelanjutan :-D.

Memasuki tahun 1977, oleh pihak pabrikan Honda CG dipermak pada sektor kaki-kaki. Urusan peredam kejut, kini motor yang sudah beralih kode menjadi B tersebut mengaplikasikan model teleskopik pada bagian depan, serta perbaikan instrumen panel pada speedo yang sudah memperlihatkan penunjuk RPM dan kecepatan.

Menginjak tahun 1980, lagi-lagi motor yang sudah berganti kode menjadi C ini mendapat facelift pada sektor kaki-kaki, yup…penambahan diskbrake pada bagian depan disertai embel-embel kata Sport Terbaru pada iklan komersial dimedia waktu itu, tetap saja tidak memberikan gambaran yang meriah diajang penjualan motor batangan. Mungkin konsumen lebih prefer untuk memboyong Honda GL 100-K1 ataupun Honda CB 125-K3 yang jelas-jelas lebih fresh dan hot modelnya kaleee :-D.

And the last…pada tahun 1982 akhir, produksi Honda CG 125 tersebut benar-benar dihentikan, serta penjualannyapun langsung dimatikan dari pasaran. Maka tidak heran jika varian CG 125 ini terbilang relatif kecil dibandingkan dengan saudara kandungnya CG 110. Dan mungkinkah karena teknologi push rod nan aneh tersebut yang menyebabkan populasi varian CG ini tidak bisa seheboh CB series maupun GL series? entahlahhhhh…..

Demikian dari saya,

Salam.

———————————————————————-

Ahhhh…mungkin si mbak ini sudah terlalu capek diboncengin motor tua macam Honda CG 125, makanya tiduran diranjang berbalut cover bed motif bludru adalah rileksasi terindah menurutnya :-).