Cannibal Holocaust (1980)

Posted on 25 February 2011

25


Mau intro sejenak. Sebenarnya mendapatkan download’an film ini sudah lebih dari setahun yang lalu, bahkan pada waktu kelas 2 SMP pun saya sudah memberanikan diri untuk menikmatinya. And the last…hasilnya tidak nafsu makan selama 2 hari :-D. Tapi jika sekarang memutar film ini lagi, bahkan untuk kesekian kali, koq rasa-rasanya malah jadi mirip nonton film Dono Kasino Indro ya…karena efek bloody gory’ nya yang dulu terlihat bad-ass sekarang terlihat lucu, apa lagi kalau melihat make-up dari para suku kanibal yang diekpos pada film ini. Whaaa!…suku kanibal?!

Yup, disini saya membicarakan film yang berlatar belakang tentang suku kanibal. Suku, pada era 70′an sampai awal 80′an lampau pernah diekpos habis-habisan layaknya pocong diindustri perfilman dalam negeri, hmmm…bener-bener kasian dech tu pocong, udah mukanya jelek disuruh main film lagi (terlihat bego!):-D. Lewat arahan tangan dingin ‘the father of cannibal’ Ruggero Deodato yang juga pernah eksis lewat film sejenis berjudul The Last Cannibal World, film yang digadang-gadang mendapat predikat ‘disturbing movie all of time’ ini, terlihat begitu mempesona bagi kaum horrodict (horror addicted). Yak!…Cannibal Holocaust, film asal Italia produksi tahun 1979 dan diedarkan pada beberapa negara terbatas ditahun 1980 sempat menuai kecaman keras dari beberapa kalangan. Suguhan disturbing picture ditiap menitnya, memang memberikan dampak traumatik bagi penonton awam yang kurang bisa menilai seni sinematik dari gorefiesta. Terlebih lagi gosip panas yang merebak dijamannya tentang film ini, salah satunya disebutkan bahwa sang sutradara sengaja menggunakan mayat asli untuk mendukung keakuratan filmnya. Hmmm…sungguh strategi yang bagus untuk menaikan rating sebuah film.

Cannibal Holocaust menceritakan tentang ekspedisi pencarian yang bertugas mencari tahu keberadaan kru film yang hilang ketika tengah melakukan dokumentasi dipedalaman hutan Amazon. Tim ekspedisi pencarian yang dipimpin oleh Harold (Robert Kerman) ini kemudian menemukan titik terang, bahwasannya para kru pembuat film tersebut tidak hilang melainkan dibantai habis oleh para suku pedalaman kanibal. Pembantaian tersebut memang sangat beralasan, ketika para kru film yang terdiri dari Alan (Gabriel Yorke) sebagai sutradara, Faye (Francesca Giardi) seorang scriptwriter, Jack (Perry Pirkanen) dan Mark (Luca Giorgio Barbareschi) sebagai kameramen, telah melanggar batas kemanusiaan yang ada, yakni memperkosa salah satu wanita pedalaman yang pada akhirnya membawa petaka bagi keempat orang tersebut.

Yeah…sangat sederhana sekali storyline yang ada pada film ini. Tapi buka sisi cerita yang ditonjolkan dalam Cannibal Holocaust, melainkan eksploitasi sinema bersimbah darah plus sayatan daging manusia maupun hewan lah yang disuguhkan oleh Mr. Ruggero, serta tidak lupa penampakan ujung pentil buah dada para wanita Amazon yang terlihat mengerikan diseparuh film…hmmm…memang benar-benar sinema sampah berkualitas film ini.

Bagi anda pecinta horor beraliran gore disturbing, adegan-adegan menyanyat hati akan banyak bertebaran diparuh 20 menit pada awal hingga akhir film. Saya tidak akan melakukan spoiler adegan apa itu, tapi silahkan nikmati dengan renungan hati terdalam, saya pastikan anda akan terbelalak akan special effek yang ada. Terus terang saya masih geleng-geleng kepala jika menikmati film ini, selain tertawa melihat akting bodoh para pemainnya, tapi juga takjub akan ‘tubuh lateks’ yang digunakan untuk set shooting adegan pembantaian ataupun tortured…it’s so real like human body!, belum lagi cairan merah darah yang keluar mewarnai sepanjang durasi film…damn!…bagaimana tim departemen efek di Cannibal Holocaust bisa membuat seperti wujud aslinya, mengingat film ini dibuat pada tahun 70′an.

Last my virdict,…Cannibal Holocaust bukanlah film sampah biasa, bagaikan berlian yang belum tersepuh, keindahan sesungguhnya dari film tersebut. Jika anda penyuka sinema eksplotasi layaknya saya, silahkan coba nikmati yang satu ini, dijamin mata anda akan dibuat orgasme olehnya.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film