Tidak semua tradisi harus diikuti, sebelum tahu benar asal mulanya.

Posted on 31 January 2012

57


Kemarin, minggu siang, tiba-tiba aja, pas lagi ngupil sembari ngabisin sisa umur dengan nonton film hasil download asal Korea, I Saw The Devil, lha kok tiba-tiba otak bodo saya mercikin sesuatu.

Jarang lho otak saya ini bekerja kalok ndak ada penampakan halus macam si mbak dibawah lewat didepan mata :-).

Lha emang kenapa tho kok sampe-sampenya otak yang dipenuhi timbunan upil inih memercikkan sesuatu?

Ceritanya ginih…

Ya, waktu ituh, saya nerima undangan syukuran dari tetangga belakang rumah. Syukuran dalam memperingati hari kebahagiaan. Kebahagiaan kalok tetangga saya ini udah dengan syuksyes memutilasi klitoris anak perempuannya.

Hah, Mutilasi?!

Terdengar mengerikan bukan?. Tapi untuk memperhalus, maka kata mutilasi akan saya rubah dengan khitan. Biar situ yang pikirannya dangkal juga ndak nelan mentah-mentah kata-kata barusan, apalagi nelan langsung dobosan ndak nggenah inih, nantinya.

Okei, sekarang lanjut lagi.

Mendengar kata khitan ato sunat memang bukan hal asing buat telinga kita, mungkin situh yang mbaca Blog ini sambil ngupil juga udah pernah jadi raja ato ratu sehari akibat syuksyes jadi korban ritual mutilasi alat kelamin, kan?

Sebuah ritual yang dulu-dulunya ato bahkan sampe saat ini dilakuin karena dianggap sebage tradisi yang ‘harus‘ dilakukan.

Kalok dulu, orang tua-orang tua kita bebas maksain kehendak atas nama tradisi turun temurun. Sebuah tradisi yang berhubungan dengan hilangnya secuil daging kelamin anak turunannya. Sebuah tradisi yang tidak seorang pun berani menggugat keabsahannya. Sebuah tradisi yang sampe sekarang pun dijalanin dengan tempelan kepercayaan tertentu. Dan seolah-olah ngelakuin tradisi itu adalah hal yang dianggep nyenengin keinginan Tuhan.

Tapi….

Apesnya, jaman terus berganti, waktu terus berjalan, dan kemajuan teknologi udah sanggup menelanjangi semua hal yang dianggap tabu. Gara-gara mesin serba tau yang dianggep biang laknat oleh sebagean kaum agamis terutama para makelar syurga, Internet udah berhasil mbuka mata semua orang yang emang mau mengesampingkan pikiran purbanya.

Ndak sedikit kaum yang merasa beradab menentang khitan ato sunat. Mereka yang berpikiran modern merasa bahwa, ritual mutilasi alat kelamin adalah bentuk pemaksaan sepihak atas kehendak egois orang tua terhadap keutuhan anggota tubuh si anak.

Jelas, ritual tersebut dilakukan atas kehendak si orang tua karena dirinya juga udah merasa diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya dulu. Bahkan sampe sekarang pun masih ada orang tua yang merasa berdosa dan bersalah jika belum mampu memutilasikan kelamin si anak ke tukang jagal. Tapi yang bikin galau, berdosanya itu pada siapa? bersalahnya itu karena apa?

Terkadang sayah suka keheranan dengan pola pikir orang tua-orang tua macam gituh. Ketika si anak laer lalu dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Dieman-eman, misalkan lagi maen jatuh kulitnya luka pun akan dengan sigap disembuhkan biar tidak membekas. Tapi, giliran akil balik, tanpa merasa bersalah, tanpa memandang hak anak atas keutuhan tubuhnya, malah dikuliti daging kelaminnya sampek membekas seumur hidup.

Aneh bukan?

..

….

Okei, okei, cukup, saya akan mengakhiri tulisan ndak nggenah ini.

Ketika situ masih ngebaca sampek disinih, saya asumsikan anda akan galau dengan dobosan sayah. Sayah tau, setelah ini semua, akal sehat anda akan berontak untuk segera memuntahkan semua kalimat yang sudah terlanjur masuk ke otak.

Oo, iya, untuk semakin menggalaukan isi kepala anda. Silahken baca-baca tulisan yang lebih berbobot di link bawah. Masih ada sangkut pautnya dengan tema hari ini kok, dan memang artikel ini terinspirasi dari sana. Tapi sebelumnya saya cuman mo bilang, kalok semua tulisan di link ituh make bahasa ‘linggis’. Sayah asumsikan situ udah fasih dengan basa bule. ;-)

http://www.sexasnatureintendedit.com/

http://www.circumcision.org/studies.htm

http://www.quranicpath.com/misconceptions/circumcision.html

Selamat tersesat dalam kegalauan anda sendiri.

 

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini