Lonteku

Posted on 14 July 2010

26


Shinta “pengen nambah lagi ngga..om?” seraya bertanya padaku.
Aku “nggaklah mbak…keliatannya udah cukup untuk malam ini” jawabku sambil melepas kondom yang sudah penuh berisi cairan surgawi.
Setelah selesai mengenakan celana dalam yang tadi terlepas aku mulai menarik tagan Shinta dan mengajaknya duduk disamping ranjang.
Aku “ojo lungo sek (jangan pergi dulu) ya mbak…aku butuh konco (teman) ngobrol…nongkrong ning kamar sedilit sik yo (sebentar dikamar dulu)”.
Dengan senyum dan polah agak nakal Shinta kemudian menggalantungkan tangannya kepundakku seraya
ikut merebahkan badannya didadaku. “…aku ora isoh suwe-suwe (nggak bisa lama-lama)…om” jawabnya dengan logat jawa yang sangat kental.

aku wedi (takut) yen mas *Joni nggolek i (mencari) aku, soale awak e dewe (kita) cuma kencan short time…”
*Joni = nama samaran si mucikari yang membawahi Shinta.
“…yo wis ora suwe-suwe (ngga lama) koq” jawabku.
“pingin ngobrol opo tho om?” tanya Shinta sambil memakai be-hanya yang tadi terlepas karena keliaran tanganku.
“yo ngobrol ngalor ngidul wae…” jawabku.

Dengan agak sedikit canggung karena takut mengusik perasaannya aku beranikan bertanya tentang hal yang agak sedikit privasi bagi dia “mbak sampean wis suwe yo kerjo koyo ngene (kamu udah lama kerja seperti ini)?”.

Shinta terdiam sebentar….
Sambil menundukan wajahnya yang masih kelihatan cantik walaupun bedak yang menghiasi mukanya agak luntur karena keringat, Shinta pun menjawab “kurang luwih (kurang lebih) setengah tahun…om”.
“emangnya ngopo (kenapa) koq om takoq (tanya) hal koyo ngono (seperti itu)?” balas Shinta bertanya yang sekarang berusaha bangkit dari dadaku untuk mengambil celana dalam warna hitam dan memakainya.
“mmm…ora opo-opo (ngga apa-apa) sih” “pengin ngerti wae (tahu saja)”
sak jane (sebenarnya) aku kerja nglonte (melacur) koyo ngene iki (seperti ini) yo isin (malu)…om”
“aku isin (malu) karo (sama) anakku” jawabnya sambil berusaha mengeluarkan dompet kumal dari tasnya yang berisi kondom dan gel pelicin untuk em-el dengan laki-laki nakal seperti aku.
Tak lama kemudian dia memperlihatkan foto gadis kecil yang berumuran sekitar 5 tahun, Shita menceritakan awal mulanya ia terjun kedunia prostitusi. Semua berawal saat sang suami pergi menjadi TKI di Hongkong tiga tahun lalu yang sampai sekarang ngga ada kabar beritanya dan uang biaya hidup yang dijanjikan akan dikirim tiap sebulan sekali ngga pernah nyampe ke Shinta dan putri kecilnya.
Dan demi untuk menjaga kelangsungan hidup putri semata wayangnya maka mulailah dia berpetualang dengan dunia malam seperti saat ini.
“lha kenopo (kenapa) musti dadi (jadi) lonthe (pelacur)?” “opo ndek mben (apa dulu) ga nyoba-nyoba paling ngga kerja ning toko opo (apa) paling elek jogo (jaga) konter hape” tanyaku yang sekarang gantian berusaha mengambil celana jeans sambil berusaha memakainya.
uwis (sudah) om”…”tapi ora segampang kuwi”…”saiki wong golek gawean (sekarang cari kerjaan) minimal kudu nganggo (pakai) ijasah SMU karo nduwe (dan punya) pengalaman kerja”…”lha aku iki cuma lulusan SMP”. Shinta menjawab dengan mata agak berkaca-kaca menahan tangis…

Menahan tangis…??????…jarang sekali aku melihat ada seorang lonte kalo ditanya hal seperti itu akan menahan tangis.

Kesadaran yang ada diotakku mulai pulih…otakku kembali bangun dari nikmat indahnya dunia basah barusan…mungkin Shinta berbicara seperti itu tidak mengada-ada dia memang butuh sekali uang untuk kelangsungan hidup.
Tapi apakah harus sepintas itu jalannya…????
Aku terdiam sambil melihat tubuh indah Shinta yang sebentar lagi akan tertutupi dengan baju dan roknya yang tadi terlepas semua.
Aku berpikir, kenapa seorang Shinta yang cantik harus menjalani dunia seperti ini?
Hatiku bergolak tatkala aku bisa merasakan indahnya surga dunia diatas beban hidup Shinta…
Hayalanku terbang melayang dan mencoba berpikir jauh jikalau semua pelacur-pelacur yang ada dimuka bumi seperti ini betapa bejatnya kaum laki-laki nakal sepertiku.
Andai aku bisa….demi semua lonte yang ada dimuka bumi ini…Aku akan menjadi dewa atau malaikat mucikari baikmu.
Aku akan menampungmu, mengajarimu dengan attitude yang baik, memperkaya wawasanmu agar semua tamumu bisa betah dan kerasan, sehingga kamu bisa menumpuk pundi-pundi sendiri tanpa harus lewat mucikari, memberikanmu ketrampilan…entah itu menjahit, belajar jualan via internet atau kegiatan kecil wirausaha lainnya, agar jikalau umurmu sudah tidak muda dan indah tubuhmu sudah berkurang, kamu bisa meneruskan hidup tanpa harus bergantung dengan dunia malam seperti ini.

“…om…uwis disik yo (sudah dulu ya)…”
mengko yen suwe-suwe ndak digolek i karo (nanti kalo kelamaan takut dicari) mas Joni” kata-kata Shinta membuyarkan lamunan tingkat tinggiku.
iyo mbak…ayo tak terke metu seko (mari aku antar keluar) hotel”

“mbak…ni ada sedikit uang jajan kanggo anakmu”
Shinta terdiam melihat uang lebih yang coba aku berikan….tapi…ternyata dia menolaknya…..
Aku heran dan terdiam kenapa dia menolak….
Masa bodoh ahhh….dikasih rejeki ngga mau
Setelah berpamitan kita berdua berpisah…aku menstater motorku untuk pergi dari hotel, ntah karena merasa agak lemes setelah melakukan perbuatan nakal tadi…waktu mengendarai motor dari arah berlawanan secara tiba-tiba kulihat lampu sangat terang dan bunyi klason mobil yang sangat nyaring ……
BBBBRRRRRRAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK……………………….!!!!!!

“mati aku…..”

……………………………………………………………………………………………….
ternyata semua itu hanya mimpi semalam dan sekarang aku sedang terjatuh dari tempat tidurku
“mimpi yang aneh” batinku dalam hati.

Demikian dari saya,

Salam.