“Kalo ngga dibeliin Satria F150, aku ngga mau masuk sekolah !!!!!”

Posted on 19 July 2010

29


“Pokonya kalau ngga dibeliin Satria F150…”
“aku ngga bakalan mau masuk sekolah lagi !!!!!!!” .
Brakkkkk !!!!!….suara keras pintu kamar terbanting tertutup sedangkan didalamnya terdengan suara napas seorang anak muda tengah terburu tanda sedang menahan emosi.

Taufik namanya dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara pasangan bapak Yudono dan ibu Sutarmi yang sekarang duduk dikelas 2 SMU swasta diseputaran kota Solo. Hatinya panas bukan kepalang, emosi mendidih bagaikan luapan lahar gunung merapi, dia merasa kesal dengan sikap sang ayah karena menolaknya mentah-mentah untuk membelikan sepeda motor baru.

“Tenang pak…sabar…istifar…jangan pakai emosi dalam menghadapi anak yang sedang seperti itu” bujuk bu Tarmi kepada suaminya yang juga tengah menahan emosi dan kejengkelan akibat ulah sianak.
“Ini sudah malam lho pak…malu khan kalo sampe terdengar sama tetangga”. Kata-kata halus tengah meluncur dari mulut bu Tarmi untuk meredakan emosi pak Dono.
“Dasar bocah mbeling (nakal) ngga mikir apa? emangnya kita ini orang yang sudah turah uang untuk beli motor baru?” tanya pak Dono pada sang istri sambil masih menggeh-menggeh meredakan emosi yang tadi sempat terlontar kepada si Taufik.
“coba ibu pikir…bapak ini khan cuman buruh pabrik biasa, gaji untuk makan, memenuhi kebutuhan hidup dan mbayar sekolah siTaufik dan adik-adiknya saja sudah pas-pasan…eee..lha sekarang koq malah ditambah pingin dibeliin motor baru”.
“sebenarnya utek si Taufik itu ditaruh didengkul apa? dasar bocah gemblung, apa ngga ngerti kondisi orang tuanya sekarang?” gerutu pak Dono.
“Pak…sebenarnya si Taufik itu pengin dibeliin motor apa tho?” tanya bu Tarmi yang tadi sebenarnya tidak begitu tahu permasalahan keributan antar anak dengan bapak yang sedang terjadi dirumah barusan karena dia sedang ada acara arisan ibu-ibu PKK di rumah pak RT.
“Taufik minta dibeliin Suzuki Satria F150…yang katanya sekarang sudah malu bawa yamaha Alfa punya bapak kalo kesekolah”
“harusnya Taufik itu mikir kondisi keuangan keluarga kita ini seperti apa…”
“bocah gede dewe tapi ga bisa dibuat contoh yang baik untuk adik-adiknya…mau jadi apa dia nanti?” jawab sang bapak dengan nada agak meninggi.
“Ya sudahlah pak…mungkin dia sekarang hanya terbawa oleh arus pergaulan dengan teman-temannya” sahut sang istri sambil membelai-belai dada pak Dono agar semakin mereda emosinya barusan.
“Maklumlah pak yang namanya anak muda…kalu ngga dituruti keinginannya pasti ngambek…”
“..dan disitulah seorang bapak atau orang tua diuji kesabaran dan kedewasaannya dalam menghadapi keinginan anak yang sudah terkontaminasi pola pikirnya dengan linkungan yang menjerumuskan kearah negatif…”
…coba tadi bapak ngobrol sama Taufik ngga pake emosi…pastilah kejadiannya tidak akan seperti ini”.
Kata-kata bijak terus mengalir dari mulut sang istri yang membuat bapak Dono semakin merasa dingin isi kepalanya.
“Terus sekarang gimana bu mengenai keinginan si Taufik?” tanya pak Dono.
“Ya sudah biar besok pagi ibu yang mencoba menjelaskan kepada Taufik tentang permasalahan ini…”
“…besok ibu jelasin dan ajak ngobrol secara dewasa dengan kepala dingin tentang kondisi kita sekarang ini…moga-moga saja Taufik bisa sadar dan menunda keinginannya untuk punya motor baru” jawab bu Tarmi dengan bijaksana.

“Sudah malam pak…ayo bobo…besok kesiangan lho khan bapak harus berangkat kerja tho?” ajak sang istri kepada suaminya sambil merayu agar dia melupakan kejadian barusan.
“tapi bapak belum mengantuk bu…” sahut pak Dono.
“Lha apa harus dibuat ngantuk seperti biasa pak?” tanya bu Tarmi sambil mulai melakukan gerakan nakal kedua tangannya ditengah belahan paha suaminya.
” boleh bu…..”
Dan akhirnya tidak lama kemudian……………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………

didalam keheningan suasana kamar pasangan suami istri malam itu tiba-tiba terpecah oleh suara kecil….
“aduhhhhhhhhhhhhhhhh !!!!” teriak kecil bu Tarmi kepada pak Dono yang masih dalam posisi terlentang dengan kondisi  tertindih oleh perut buncit suaminya.
“kenapa tho bu? ada yang salah dengan bapak ya?” jawab sang suami dengan agak kebingungan sambil menahan genjotan pantat yang akan dilakukan kepada sang istri untuk memulai acara olah raga malam.
“bapak sudah berapa lama ngga dicukur bulunya? tahu ngga bulu-bulu bapak yang panjang itu masuk njepit kepunyaan ibu…rasanya perih clekit-clekit tahu ga?”

GEDUBRAKKKKKKKK !!!!!!!!😀