“terus siapa yang bertanggung jawab dengan masalah kemacetan ini…”

Posted on 23 July 2010

14


Siang itu selepas sholat jum’at dari sebuah masjid dekat kota terlihat seorang laki-laki berseragam coklat-coklat dengan antribut tugas lengkap tengah menyeka keringatnya. Dia adalah Iwan seorang lelaki dengan profesi sebagai polisi yang saat ini tengah menjalankan tugas melakukan pemantauan dan pengaturan arus lalu lintas yang lumayan cukup ramai disebuah persimpangan lima disalah satu kota besar dinegeri ini. Tapi mungkin karena cuaca cukup panas dan terik matahari cukup menyengat kulit akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat sejenak dipos jaga yang jaraknya tak jauh dari tempat dia berdiri menjalankan tugas tadi.

Didalam pos ternyata sudah ada teman Iwan namanya Benny yang juga sama-sama berprofesi sebagai hamba hukum, sudah duluan beristirahat karena tidak kuat dengan udara luar yang benar-benar luar biasa panas dan berdebu.
“Eh Ben…tadi kamu ngga jum’atan ya? koq ngga kelihatan dimasjid sana?”
“Ngga Wan…lagi *M”
“Udaranya panas sekali hari ini ya…Wan” ujar Benny sambil mulutnya terbuka untuk meminum segelas es teh yang tadi sempat dibelinya dipinggir jalan dekat pos jaga.
“Iya…panas sekali…nerakanya lagi bocor kali ya ?” jawab Iwan bercanda sambil dia melihat temannya yang sedang meminum es teh.
“Wan…wan kamu tu ngomongnya soal neraka…kalau ngga itu ya surga…ngga ada yang lainnya apa”
“heee Ben…jangan gitulah kita nanti pada akhirnya pasti juga akan meghuni salah satu tempat itu kan…jadi wajiblah kalo kita harus sedikit mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya”
“halahhh…kentut lu bau…ngomong udah kaya ustad aja Wan”

Sebentar kemudian pandangan mata mereka sudah kembali berjaga kejalanan untuk memantau kondisi lalu-lintas dari dalam pos.
“Aku tu heran Wan kenapa ya tiap hari pertumbuhan sepeda motor dan mobil pribadi semakin bertambah jumlahnya…hanya bikin macet jalanan dan menambah resiko kecelakaan lalu lintas aja” ajak ngobrol Benny ke Iwan.
“Kalo dilihat-lihat dan dicermati secara seksama yang mengalami pertumbuhan sangat luar biasa adalah sepeda motor aja koq…tapi memang sih mobil juga mengalami kenaikan tapi tidak terlalu seperti roda dua” jawab Iwan.
“Ya mungkin karena motor adalah sarana transportasi murah yang bisa dijangkau oleh masyarakat kebanyakan kali ya…” sahut Benny.
“Kadang aku tuh suka stress sendiri kalo dapat tugas pagi dan sore, kamu sendiri juga bisa lihat bagaimana mengatur lalu lintas dengan mobil pribadi berlalu lalang dengan seenaknya ditambah dengan para pengendara sepeda motor yang seolah tidak mau kalah juga untuk mencoba menaklukkan kemacetan lalu lintas dengan menggunakan rumusnya sendiri.” keluh Benny.
“eee…masih kurang tuhhh…soal angkutan kota tidak kamu sebutkan sekalian yang suka ngetem lama untuk menunggu dan mencari penumpang…bikin tambah semrawut aja khan” lanjut Iwan.
“iya ya…bener juga kamu” sahut Benny lagi.


“Pasti penyebab utama hal ini adalah karena banyak ATPM-ATPM mobil dan motor yang saling berlomba-lomba untuk menunjukan angka penjualan tertinggi kekompetitornya sehingga mereka tidak pernah berpikir bagaimana akibat yang ditimbulkan dijalanan akan seperti ini…iya khan Wan?” lanjut Benny yang kini dia mengorek-ngorek upil dari dalam hidungnya yang sebesar jambu mete dan kemudian hasilnya ditempelin dibawah meja didalam pos.
“hmmm…kalau dipikir-pikir…menurut aku pribadi lho ya…tidak bisa juga menyalahkan ATPM-ATPM motor dan mobil karena melakukan kegiatan seperti itu, mereka berbuat seperti itu juga karena untuk menghidupi ribuan karyawannya. Coba kamu pikir lebih jauh lagi seandainya ATPM-ATPM tersebut tidak laku barang dagangannya apa yang akan terjadi? pastilah pabrikan-pabrikannya akan gulung tikar karena merugi, terus kalo sudah gulung tikar imbasnya apa? akan semakin bertambah pula pengangguran dinegeri ini. Iya khan?” jawab Iwan sambil merasa jijik karena ulah temannya yang sedang mengupil udah gitu ditambah hasil upilnya banyak sekali.
“aku tambah lagi nihh ya…kamu pasti tahu juga khan berapa banyak pajak penghasilan yang diperoleh pemerintah dalam perputaran roda bisnis dibidang otomotif yang sudah disetorkan oleh para ATMP-ATPM tersebut?” sambung Iwan lagi.
“Terus kalau sudah begini seharusnya pemerintah itu segera tanggap dengan problematika tentang kondisi kemacetan lalu lintas yang sedang terjadi dikota-kota besar seperti disini…betul ngga Wan? karena hasil pajak yang diterima seharusnya bisa digunakan untuk membangun dan menambah insfrastruktur jalan-jalan yang ada dinegeri ini. Benar begitu khan?” tanya Benny ke Iwan untuk memastikan kebenaran jawabannya yang tak lupa tetap menikmati kegiatan mengupilnya.
“Seharusnya sih begitu Ben, tapi hal tersebut ngga akan begitu berguna karena tolak ukur perbandingan antara pembangunan dan perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah dengan jumlah pertumbuhan dibidang otomotif sudah tidak bisa sebanding lagi” jawab Iwan dengan kini meminum es teh Benny yang ditaruh dimeja depannya tersebut.
“maksudnya tidak bisa sebanding gimana Wan?” tanya antusias Benny kepada Iwan seraya ikut juga meminum es teh miliknya tadi sampai habis karena takut nanti dihabiskan temannya.
“sekarang antara lebar ruas jalan dengan jumlah motor yang ada besaran mana?” jawab Iwan sambil memberikan clue kepada temannya.
“benar juga ya Wan” sahut Benny manggut-manggut tanda dia paham arah penjelasan Iwan.
“Plus ditambah lagi dengan kondisi tata letak kota seperti disini, coba kamu lihat sewaktu patroli, sering khan kamu melihat pasar tumpah, jejeran parkir yang sudah melebihi batas jalan karena gedung sekolah, perkantoran atau sentra bisnis lainnya tidak memiliki lahan parkir yang memadai, kegagalan pihak kepolisian seperti kita ini dalam mengatur kelancaran berlalu lintas dikarenakan tingkat stress yang tinggi seperti yang kamu bilang diawal tadi dan yang paling menentukan adalah kesadaran masyarakat sendiri untuk bisa bertransportasi dengan aman dan benar masih sangat kurang sekali” urai Iwan.
“memang benar mereka para monyet-monyet yang sudah tidak bisa berdisiplin lalu lintas memang biang dari masalah ini.” timpal Benny sambil melanjutkan acara ngupilnya.
“tapi Ben, kamu tidak bisa lho menyalahkan monyet-monyet itu seratus persen.” jawab Iwan ke Benny yang sekarang ini kelakuannya mirip monyet beneran yang dia sebutin sendiri
“lho koq bisa Wan?” tanya Benny lagi yang kini menempelkan hasil buruan upilnya kebawah meja lagi.
“Woiii…kamu itu bisa berhenti ngupil didepanku tidak sih ?!” jawab Iwan serasa benar-benar jijik dengan ulah temannya.
“Sori-sori…Wan…maklum debu dan polutan dijalan membuat hidungku banyak kotoran…kalo ngga dibersihin rasanya risih…oke lanjut lagi kepembicaraan tadi”
“Oke kita sambung ya tapi janji ngga pake acara ngupil lho!”
“Iya iya”
“Kembali ke soal tadi…Ya iyalah Ben…coba kalau mereka mendapat fasilitas dari pemerintah berupa sarana transportasi yang aman, murah dan nyaman. Aku yakin pastilah kemacetan-kemacetan tiap hari seperti ini bisa ditanggulangi.”
“Terus sekarang siapa donk yang harus bertanggung jawab akan permasalahan klasik seperti ini Wan?” tanya Benny dengan blo’on nya.
” Ya siapa lagi Ben kalau tidak kita semua seluruh lapisan elemen masyarakat Indonesia. Mulai dari kita sebagai polisi yang menjalankan fungsi kontrol dengan baik dan benar sebagai hamba hukum, pemerintah yang merealisasikan  pembangunan dan perbaikan sarana transportasi dari uang hasil pajak masyarakat, Para monyet-monyet yang harus mulai menanamkan pola pikir menggunakan sarana transportasi dengan aman dan benar…Ya intinya semua harus saling bahu membahu untuk berpikir dan bertindak demi perubahan menuju kearah yang lebih baik…iya tho?” jawan Iwan dengan gamblang.
“Bener juga Wan mulut busukmu itu…he..he..he” canda Benny.

Setelah selesai mengobrol tak lama kemudian Benny bangkit berdiri dan merogoh isi kantong sakunya untuk mengambil kunci kontak sepeda motor dinas hasil bantuan dari salah satu ATPM berlogo garputala seraya berkata kepada Iwan “Aku keluar cari uang bentar ya…udah tanggal tua nih…”.
“Cari uang apaan? Kemana?” tanya Iwan yang sekarang gantian jadi rada blo’on.
“Oo..alahh..dasar monyet ngomongin monyet…Benny…Benny kalau semua orang yang berseragam sepertimu apa jadinya negara ini” gerutu Iwan ke temannya sambil dia berdiri bergegas keluar pos untuk kembali menjalankan tugas yang belum selesai tadi.

😀