“kalau akhirnya peraturan itu dijalankan bagaimana dengan nasib kita pak?”

Posted on 2 August 2010

28


Matahari sudah beranjak tenggelam ditelan ufuk barat, disuatu depan rumah kontrakan dipinggiran ibu kota Jakarta terlihat pak Sabar sedang memasukan sepeda motor yang tiap hari selalu digunakan untuk mencari nafkah sebagai tukang ojek.
“koq tumben pak jam 7 malam baru pulang? banyak tarikan ya?” tanya bu Sabar sang istri tercinta sambil membukakan pintu rumah.
“iya bu…lumayan pendapatan hari ini…ini uangnya tolong disimpan baik-baik ya…” jawab pak Sabar seraya menyerahkan uang pendapatan hasil hari itu setelah menstandarkan motornya.
“bapak mandi dulu ya bu…tapi tolong dimandiin donk”
“halahhh…bapak ini lho sudah tua koq masih genit…malu sama anak pak”
“khan…anak-anak baru dirumah kakeknya”
“eeitttt…malam ini katanya mereka mau pulang lhooo…tapi ngga tahu kenapa koq belum dateng-dateng”
“udah-udah…langsung mandi sana…bau keringatnya itu lho ngga nguati…ini ibu siapin makan malamnya dulu yaa…”
Akhirnya sikap genit pak Sabar mulai meluntur dan akhirnya beranjak mandi karena bau badan dan keringat selama bekerja seharian dijalan ibu kota tadi memang sudah benar-benar tidak bisa diajak kompromi sehingga mengganggu suasana malam itu.

Tak lama kemudian mereka sudah bersantap malam sembari menikmati sajian telivisi yang tengah menayangkan sebuah berita sekilas perihal kebijakan pembatasan sejumlah kendaraan roda dua guna mengurangi kemacetan lalu lintas diibu kota Jakarta.
“bu…bapak ngga tahulah kalo nanti memang kebijakan itu benar-benar direalisasikan” pak Sabar memulai pembicaraan dengan bibir tetap bergoyang mengunyah nasi beserta sayur asem kegemarannya.
“benar pak…kalau akhirnya peraturan itu dijalankan bagaimana dengan nasib kita selanjutnya ya?” sahut bu Sabar dengan nada agak cemas perihal masa depan nasib keuangan suaminya.
“bukan hanya nasib kita saja bu…tapi nasib-nasib sejumlah orang yang berhubungan dengan masalah tersebut…”
“misal saja keberadaan sepeda motor dibatasi, berarti itu akan berimbas pada jumlah penjualan tiap pabrikan, lha kalau jumlah nilai penjualannya aja turun…berarti nasib orang-orang yang berada dibelakang produsen sepeda motor akan terancam juga…”
“terus akhirnya apa coba?…ujung-ujungnya PHK besar-besaran tho oleh tiap-tiap pabrikan yang jualannya sudah seret karena kebijakan itu” jelas pak Sabar kepada istrinya.
“Iya-ya pak…lha kalo ada PHK besar-besaran berarti ujung-ujungnya lagi khan kesejumlah angka pengangguran yang akan naik drastis tiap tahun khan pak” lanjut bu Sabar.
“betul bu…kalau jumlah pengangguran naik bisa dipastikan penduduk miskin dinegara ini akan semakin bertambah saja dan yang jelas kalau sudah seperti itu pada akhirnya pastilah tidak menutup kemungkinan memicu angka kejahatan juga akan semakin naik…”
“kalau sudah seperti ini, lagi-lagi rakyat kecil seperti kita ini bu yang merasa dirugikan karena menjadi tidak aman tinggal ditempat sendiri…iya ngga bu?”   “tolong bu…ikan asinnya itu diambilkan sedikit” pinta pak Sabar kepada istrinya untuk dimintai tolong mengambilkan lauk diujung meja makan.
“ini pak…segini cukup?…”  “hmmmm…makasih ya bu”
“…pak…apa pemerintah itu sudah ngga memikirkan hal alternatif lain selain melakukan kebijakan ini ya?”.


Karena saking laparnya setelah seharian mengojek pak Sabar jadi tidak kelihatan sabar dengan makan malamnya tersebut sehingga agak tidak menggubris pertanyaan yang diajukan istrinya.
“Pak..pak..pak..kalo sudah makan dengan sayur kesenengan koq terus pikun gitu ya?” hardik halus bu Sabar untuk meminta menanggapi pertanyaan yang diajukannya tadi.
“maaf bu…bapak kelaparan jeee…terus ditambah gara-gara masakan sayur asem buatan ibu yang super enakkk ini…bapak jadi kelupaan…” jawab pak Sabar sambil cengengas-cengenges dengan mulut terus bergoyang.
“sampai mana tadi?…soal pemerintah ya?”
“kalau menurut bapak sebagai wong cilik yang tidak begitu tahu ilmu politik…sebenarnya tidak perlulah mengeluarkan peraturan seperti itu…tanya kenapa?”
“seperti diawal obrolan kita tadi bu…pada akhirnya kalau sudah seperti itu siapa juga yang kerepotan mengurusnya? pemerintah juga khan?”
“yang seharusnya jadi fokus utama pemerintah bukanlah pengurangan jumlah sepeda motor koq bu…tapi lebih fokus kepembangunan sarana dan prasarana transportasi umum dijalan raya ibu kota…sehingga masyarakat kebanyakan menjadi nyaman dan aman jika ingin menggunakan transportasi masal tersebut”
“ditambah lagi dengan dibantu oleh pihak-pihak penegak hukum yang bertugas dijalan…mereka harus juga melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik dan jujur, jangan malah mengail keuntungan ditengah kesemrawutan persoalan ini…”
“terus juga untuk jajaran pemkot harus membuat tata letak kota yang benar-benar bagus, misal bangunan instansi pemerintah, sekolahan, mal-mal dan pusat perbelanjaan dibuatkan sarana parkir yang memadai jadi kalau ada orang mau parkir tidak harus sampai menghabiskan bahu jalan…”
“dan yang terpenting bu…adalah sikap kita sebagai masyarakat harus secara bijak dan sadar diri guna membantu pemerintah dalam mengurangi kemacetan ini”
“lha terus uang buat pemerintah untuk melakukan pembangunan itu dari mana pak?”
“gimana tho ibu ini…ya dengan uang hasil dari pajak rakyat dan dari pajak perusahaan-perusahaan besar dinegeri ini…gitu aja koq repot tho bu-bu…”
“ehh pak sebenarnya kenapa tho koq banyak orang males atau tidak mau menggunakan transportasi umum yang sudah disediakan pemerintah tapi malah memilih menggunakan kendaraan pribadi?…”
“…iya kalo kendaraan pribadinya itu motor lha kalo mobil sama aja bo’ong tho pak…menurut ibu ni pak sebenarnya mobil pribadi itulah yang mempunyai andil cukup besar dalam hal penyebab kemacetan diibu kota ini lho…lha sekarang kalau mobil bisa dimuati 4 bahkan 5 orang tapi malah digunakan 1 orang saja sedangkan motor hanya maksimal 2 orang saja betul ngga pak?”
“betul bu…tapi ya itu tadi yang menjadi sorotan utama pemerintah mungkin adalah jumlah pertumbuhannya tidaklah sebesar sepeda motor…terus ditambah lagi sikap para pengendara sepeda motor itu sendiri yang kadang suka membahayakan orang lain atau dirinya sendiri sewaktu dijalan…mungkin itu bu yang mendasari pemerintah membuat kebijakan pengurangan jumlah sepeda motor”
“terus soal masyarakat sekarang ini cenderung kenapa kurang begitu suka menggunakan transportasi umum?…masih ingat anaknya pak RT siRina yang sewaktu pulang kerja malam-malam naik bus way dia mendapat pelecehan sexual oleh pria gemblung, lantas pak Edi warga Rt. 8 yang sewaktu pulang kerja naik kereta malah dompetnya raib dicopet orang didalam kereta, adalagi ni contoh jika ibu keburu-buru pingin pergi nganter siNanda dan Diah berangkat kesekolah karena bangun kesiangan…eeee…ternyata angkot yang dinaiki malah berhenti ngetem lama ditepi pasar dengan alasan nyari penumpang…lha kalo gitu apa ibu ngga teriak-teriak kesel”
“bener juga ya pak”
“berarti pak…inti atau kesimpulannya kalau mau menyelesaikan permasalahan kemacetan ini tidak hanya menerbitkan kebijakan peraturan pengurangan sepeda motor saja tapi harus memperbaiki sarana dan prasarana transportasi massal, tata letak kota, peraturan hukum dijalan raya yang harus diterapkan dengan benar-benar jujur oleh pihak berwenang dan yang paling utama adalah kesadaran kita sebagai mensyarakat untuk berusaha bagaimana mengurangi kemacetan ini dengan cara bijaksana…iya khan pak?”


“yup betul bu…bapak sudah selesai makannya ni”
“kalau sudah sini ibu beresin dulu pak piring-piringnya…”
————————————————————————————————

Tidak lama kemudian sehabis mencuci piring didapur bu Sabar menyusul suaminya yang sudah tiduran diatas kasur lipat didepan telivisi sembari menyaksikan acara Take Me Out yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta.
“Bu…tahu ngga dulu pas ibu masih perawan bodinya aduhaiiii lho sekali….ngga kalah sama cewe-cewe yang ikutan diacara itu” goda pak Sabar dengan nakal pada istrinya.
“Iya pak…berhubung sekarang keperawanan ibu sudah dirusak sama bapak, bodi yang dulu aduhaiiii jadi alamakkk…gitu kan maksdu bapak?” jawab bu Sabar sebel karena sudah merasa dibandingkan oleh suaminya dengan perempuan yang lebih muda dan cantik.
“ngga gitu bu maksud bapak…ibu tetep cantik…tu lihat pabriknya aja masih seperti pepaya thailand…kalau soal tas pinggang diperut sih itu khan karena faktor si Nanda dan Diah…tapi itu semua ngga masalah koq yang penting goyangan dan jepitan ibu masih maut lho…bikin bapak merem melek” goda pak Sabar lagi sembil memainkan ujung tangannya diatas belahan paha istrinya yang hanya mengenakan baju daster warna merah favoritnya.
“halahhh gomballllll pak…” jawab bu Sabar sambil menggenggam jemari sang suami untuk dituntun masuk lebih dalam kebelahan liang surgawinya.
“ahhhh…pakk…terus…ohhh…lebih dalam lagi…ohhhh” rintih bu Sabar menggelinjang seperti cacing kepanasan karena ulah jari maut sang suami yang tahu betul letak titik rangsangan istrinya.
“pak sebentar dulu…ibu lepas dulu ya celana dalamnya biar ngga naggung gini” pinta bu Sabar.


“iya bu…” jawab pak Sabar yang kali ini juga sudah benar-benar tidak sabar untuk menggauli sang istri.

Tidak lama kemudian sepasang suami istri tersebut sudah saling rangkul dan peluk untuk melepaskan hasrat birahinya.
Bibir dan lidah mereka saling beradu, tangan nakal pak Sabar sudah mulai bermain-main keluar masuk dengan leluasa kedalam lubang surgawi istrinya. Rintihan-rintahan kecil ditambah gemulai geliat tubuh bu Sabar berpadu dengan suara Choky Sitohang pembawa acara Take Me Out Indonesia yang tadi hanya menjadi sebuah acara pembuka dari pergumulan sepasang suami istri tersebut.

“…..dewan cinta tentukan pilihanmu”
sayub-sayub suara pembawa acara Take Me Out menyadarkan isi kepala bu Sabar dari nikmatnya acara pemanasan tersebut.
“pak sebaiknya kita lakukan dikamar saja yukk…nanti kalau tiba-tiba anak-anak pulang dianter kakeknya gimana? khan malu dilihatnya” pinta bu Sabar sambil memegang sesekali membelai kepala suaminya yang kini sudah berada tepat ditengah-tengah selangkangannya.
“ngga-ngga bu ini khan sudah pukul 9 malam…mungkin mereka baru pulang besok kali…masa malam-malam mo nekat kesini…disini saja ya bu sambil nonton tv…khan jarang-jarang kalau olah raga malam diluar kamar” jawab pak Sabar sambil terus menjilat samapi basah bibir luar apem lempit istrinya
“tapi perasaan ibu ngga enak nihhh pak…ohhh…uhhh..ouhhh..hmmppppfffff…”
Tanpa diberi sedikit kesempatan untuk berbicara labih jauh lagi pak Sabar terus menerus melakukan aksi kepada sang istri yang kini bertambah liar saja liukan-liukan tubuhnya pertanda dia akan mengalami orgasme klitoral.
————————————————————————————————
Tetapi apa yang sebenarnya dikhawatirkan bu Sabar barusan akan menjadi kenyataan perihal kedatangan anak-anaknya yang tengah dianter oleh kakeknya untuk kembali kerumah malam itu.
————————————————————————————————
Sementara itu dipagar luar rumah pak Sabar.
“Nanda…Diah…kakek langsung pulang ya…kamu masuk aja sendiri berdua…beranikan?”
“Ngga mau kek pokoknya Diah dan kakak harus diantar sampai dalam nanti takut dimarahi sama bapak karena sudah pulang kemalaman” pinta Diah putri terkecil dari pak Sabar.
“Iya kek…Nanda juga takut kalo nanti bapak ngomel-ngomel karena kita pulang kemalaman” sambung Nanda kakak si Diah seraya memohon kepada sang kakek sebab mereka berdua memang benar-benar tidak berani kalau pulang terlalu malam karena bisa dipastikan pak Sabar akan marah dengan mereka.
“Ya sudah…kalau gitu ayo kakek anter masuk”
———————————————————————————————-
Sementara itu didalam rumah….
“terus pakkk…ohhhh…ibu sudah mau keluarrrrrr…ounhhhhh…yaaa…terusss…pakkk…ouchhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” rintih bu Sabar dengan tubuh mengejang pertanda dia sudah klimak untuk pertama kalinya.

lalu tak lama kemudian…

JEDERRRRRRRRRRR !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..” jerit Diah dan Nanda secara spontan berbarengan karena kaget melihat adegan sang bapak dengan ibu yang setengah berbusana tengah melakukan aksi oral didepan tv.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..” jerit pak Sabar dan istrinya tak kalah serempak karena kaget setengah mati sebab adegan mereka berdua ketahuan olah anak-anak dan orang tuanya sendiri.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….a..a..apa yang sedang kalian lakukannnn???!!!!!!!” teriak kakek Nanda dan Diah alias orang tua dari bu Sabar sembari langsung menutup mata kedua cucunya tersebut.