Tantangan untuk menjadi orang tua

Posted on 7 August 2010

21


Like father like son ungkapan seperti itulah yang tepat untuk disematkan antara sifat saya dengan putri kecilku… bandel, ngeyel (bahasa indonesianya apa ya?), nggak cengeng, keras kepala, ngga tahu capek benar-benar membuat saya tersadar betapa buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya….


Shelby Eleanore Wiendalova namanya hasil buah pengrusakan keperawanan wanita mulia bernama Ida oleh lelaki super gemblung bernama Dwi yang telah terlahir secara normal pada kurun waktu 1 tahun lebih 4 bulan kemarin…begitu lucu, centil, sok kemayu (ya iyalah cewek koq om…)…sering membuat saya terpingkal dan gemes dibuatnya karena kelakukan dan polah tingkah yang kadang aneh bin ajaib tersebut…tapi kadang juga tak sedikit hal-hal nyebelin yang dia lakukan kepada kedua orang tuanya yang sok yesss, semisal salah satu contoh nih yeee…pas malam-malam waktu jam tidur sang ayah dan sang mamah lagi syahdu-syahdunya memadu kasih…eeeeee…dianya malah bangun terus ngajak main ngga karuan dan ngga mau tidur lagi dengan segera padahal kedua orang tuanya sudah nanggung pingin klimak…walahhh😀


Kadang sebagai seorang ayah merasa agak khawatir juga dengan masa pertumbuhan puteri saya saat ini karena kurang begitu mendapat pengawasan dari kedua orang tuanya secara langsung…hanya bermodalkan asuhan dari baby siter dan kakek neneknyalah dia mendapat perhatian…semua itu terpaksa kita lakukan (saya dan istri) dikarenakan alasan klasik yaitu bekerja untuk menumpuk pundi-pundi rejeki demi masa depan sang buah hati dan kelangsungan hidup berkeluarga kedepan yang lebih baik dari sekarang.
Ditengah derasnya arus pergaulan bebas dan kencangnya modernisasi jaman seperti saat ini membuat kita sebagai orang tua dengan segala keterbatasan waktu berinteraksi harus benar-benar bisa mengontrol, membimbing dan memberi pengarahan yang terbaik kepada buah hati secara maksimal dari segala dampak negatif perkembangan ini.
Tidak ada lagi kata mengurus anak adalah tugas ibu sedangkan mencari nafkah adalah tugas ayah karena jika kita menerapkan sistem seperti itu hal yang diperoleh juga tidak akan balance sehingga hanya akan menimbulkan kesenjangan kewajiban antar suami dengan istri. Sekarang ini untuk membesarkan buah hati adalah tugas orang tua bersama dengan tentunya disupport oleh kedua orang tua masing-masih alias kakek neneknya dan dibantu oleh pembantu.
Betul ngga…???? mohon koreksi jika salah….

Last…bagi semua para om-om sekalian yang belum berkeluarga…mumpung masih punya banyak waktu ngga ada salahnya dengan pasangan masing-masing membuat a little plan walaupun itu hanya sebatas angan-angan, untuk mempersiapkan kearah mana jika besok suatu saat nanti sampean sudah berkeluarga dan mempunyai momongan dengan kondisi hampir sama seperti saya saat ini yaitu laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja semua. Apakah akan dititipkan keorang tua masing-masing, apakah akan dicarikan baby sisters atau mungkin salah satu pasangan harus mengalah untuk membesarkan anak…itu semua tergantung dari angan-angan perencanaan sampean…he..he..he…
Dan ingat satu hal lagi…bagi para om-om yang belum nikah kalau pacaran jangan hanya terlena dengan kenikmatan melakukan oral sex dan peting saja tapi juga harus dibarengi dengan perencanaan secara dewasa mau dibawa kemana jenjang hubungan serius yang sudah sampean bina dengan pasangan…jangan setelah nikah malah hanya menganut sistem MoKonDo (Modal K*nt*l Doank) kepada sang istri….sudah ngga jamannya gitu lohhhh😀

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini