Kalau suami gemuk berarti….???

Posted on 26 August 2010

25


Siang itu disebuah kantin suatu pabrik diseputaran kota Solo Raya. Terlihatlah seorang laki-laki sedang akan memulai manyantap makan siangnya. Adi namanya, dia adalah salah satu karyawan baru dengan posisi superintendent dipabrik tersebut.
“Hai, Di…boleh gabung disini yakk???” dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara pak Anton, sang atasan yang tengah meminta tempat untuk duduk disebelah Adi.
“Mari silahkan, pak” jawab Adi.
Setelah pak Anton dalam posisi duduk, beliau memperhatikan porsi makan bawahannya tersebut.
“Lho…Di, koq makannya dikit amat??? ehhh…kalo makan jangan dikit gitulah, agak banyakan dikit biar ngga gampang sakit” Kata pak Anton.
“ahh..sudah cukup, biasanya juga segini koq pak, kalo saya makan, porsinya disesuaikan dengan kebutuhan fisik untuk kerja dan disini saya bekerja tidak telalu banyak menggunakan fisik, jadi porsi segini sudah lebih dari cukup” jawab Adi dengan bijak.
“Walahh…kalo aku biasanya segini banyaknya, inipun sudah termasuk standar minimal lho”
“pantesan bentuk dan kondisi badan kamu terlihat proporsional kalo meihat dari status kamu yang sudah mempunyai anak dua”
“lha kalo aku…coba lihat…perutku aja sudah seperti orang mau melahirkan saja…ha..ha..ha”


“Dan untungnya lagi, istriku ngga pernah protes dengan kondisiku ini” jawab pak Anton seraya tertawa dengan mulut tak berhenti mengunyah makan siangnya.


Adi pun menimpali perkataan-perkataan dari atasannya tersebut, “Jangan seperti itulah pak, sampai hari ini mungkin istri bapak masih mampu menahan aja…lha tapi kalo lama-lama beliau selingkuh gimana??? gara-garanya sudah tidak menarik lagi kondisi badan sang suami tercintanya seperti waktu muda dulu…hayo gimana pak???”
“ingat lhoo pak, untuk sekarang ini, perempuan selingkuh bukan merupakan hal yang baru lagi”
“ahh…kamu jangan terlalu berlebihanlah, istriku tipe setia lho” tangkis pak Anton.
“ehh tahu ngga Di…istriku walaupun diusianya yang sudah hampir memasuki kepala empat, dia itu masih terlihat cantik karena rajin dan pintar merawat tubuhnya” sambung pak Anton lagi.
“wahhh…kalo gitu…mohon maaf sebelumnya ni pak…berarti beliau merasa tersiksa donk selama ini…punya istri masih cantik tapi ngga bisa lama menikmatinya” jawab Adi.
“Hey…maksudmu apa sih!”, pak Anton bertanya ke Adi dengan raut muka agak kurang senang.
“Sabar pak…tenang pak…maksud saya itu begini lhoo…”
“…saya yakin, bapak dulu sewaktu masih muda berperawakan gagah. Tapi setalah lama kelamaan menjalani roda pernikahan, kondisi badan menjadi melar seperti sekarang, iya khan pak???”, Tebak Adi.
Pak Anton pun menjawab, “Benar sih, terus hubungannya apa dengan istriku???”.
Adi berkata lagi, “Pak, ini sudah merupakan gejala yang umum kerap kali terjadi,  jika sudah lama menjalani roda pernikahan”.
“Biasanya bagi para wanita yang sudah menikah, mungkin karena mereka takut kalo suami tercintanya melirik wanita lain yang lebih cantik. Jadinya dipuas-puaskanlah semua keinginan suami, termasuk urusan makan tersebut”.


“Apalagi ada persepsi yang menyatakan kalau suami gemuk dan makmur berarti sang istri telah berhasil merawatnya dengan baik. Sebenar itu salah pak”
“Menurut saya pak, dalam tubuh yang gemuk, pastilah terdapat penyakit yang bersembunyi didalamnya lhooo…” Terang Adi ke pak Anton.
Pak Anton pun terdiam sebentar dan berhenti dari makannya, dia merenungkan perkataan Adi bawahannya.
“benar juga kata-katamu Di, memang sih, punya istri cantik sangatlah membanggakan, tapi juga mengerikan ya??? lha terus bagaimana menurutmu sekarang???”, tanya pak Anton antusias.
Adi pun menjawab, “sebenarnya gampang sih pak, pandai-pandailah kita merawat diri kita sendiri, kita harus menjaga pola hidup yang baik, pola makan yang sehat. Ajarkan istri kita untuk tetap menjaga pola sehat makan kita sekeluarga.”
“Ada lagi ni pak, kita sebagai kaum suami, apakah tahu tentang persepsi *mengerti dan melayani suami. Bagi seorang istri mengerti melayani suami bisa diartikan bermacam-macam lhoo…ada yang mengartikan memberikan kepuasan nafsu bagi suami, ada juga yang turut menjaga dan menata pola hidup suami agar sehat”.
Pak Anton pun mengambil kesimpulan dari omongan si Adi.
“Jadi menurutmu dengan istri memberikan kasih sayang yang berlebihan, itu malah membuat suami lupa daratan, sehingga membuat nafsu kita berlebihan dan malah menyebabkan penyakit karenanya…ya???”
“Betul sekali pak, tapi masih ada lagi lho hal yang lebih parah…”, jawab Adi sambil membuat pak Anton penasaran.
“apa itu Di ???” sahut pak Anton penasaran.
“Istri yang sudah tidak bisa merawat suami, tidak bisa pula merawat dirinya sendiri. Dengan alasan *sudah laku, maka dengan sang suami tercinta secara kompakan bebas melakukan pemuasan diri, apalagi yang doyan makan, ya udah…bebas makan apa saja tanpa memperdulikan baik buruknya makanan yang disantap. Kalau sudah begitu maka kedua-duanya, ngga istri, ngga suami sama-sama melar. Lantas yang jadi korban akhir adalah si anak. iya khan pak???” urai Adi.


Pak Anton berkata, “Sebenarnya sih, istriku sudah sering mengingatkanku, tapi akunya saja yang cuek. Mungkin karena persepsi *tenang saja, nanti kalau sakit ada yang mengurus…khan sudah punya istri setia. Jadi membuatku menjalani pola hidup seenaknya”.
“Makasih ya Di, karena obrolan kita ini, kamu malah jadi mengingatkan aku untuk segera menjalani pola hidup yang sehat. Jadi kalau kita sedang sakit, kita tidak bisa menyalahkan istri karena tidak bisa mengurus. Karena apapun yang terjadi didiri kita sendiri, itu adalah tanggung jawab diri kita pribadi. Betulkan???”
Adi pun hanya menjawab dengan senyum.