Easy Riders…pembawa racun Choppers kebelahan bumi ini

Posted on 22 October 2010

13


Mungkin bagi sebagain orang awam yang ndak punya hobbi nonton, pasti akan menolak jika diajak mantengin film ini. Hal itu dikarenakan film ini termasuk kejajaran kelas Grindhouse (kalau disini disebut sebagai film layar tancap), pace cerita lambat khas film road movie tempo doeloe, nihilnya unsur action tapi malah diumbarnya adegan tabu bagi dunia perfilman dalam negeri misal penggunaan narkoba. Ditambah unsur-unsur nuditis yang menjadi ikon sinema gridhouse sangat kentara disini. Tapi anehnya. Kenapa saya malah menyukai dan dalam artikel ini menobatkan sebagai the best bikers movie all of time ?. Sangat simple jawabannya. Karena saya menyukai hal-hal berbau vintage, saya hobi banget nonton film even trash movie sekalipun, that it’s. Sangat simple sekali kan?

Easy Rider menggambarkan dua orang bikers yaitu Wyatt (Peter Fonda) dan Billy (Denis Hopper) yang sering bepergian dengan mengendarai dua motor asli buatan negeri Paman Sam yakni Harley Davidson untuk berkelana mencari kebebasan hidup. Maklum film ini keluaran tahun 69 dimana waktu itu Amerika lagi demam dengan Hippies life style, dimana para pemuda-pemudi suka hidup nomaden dan sering melakukan sex bebas ditiap ada gelaran even yang dianggap fonumental. Maka jalan cerita film ini pun tak jauh dari pola kehidupan pemuda waktu itu, touring, sex, booze, and rock n roll.

Awal cerita bermula saat Wyatt dan Billy menyelundupkan LSD (kokain) dari Mexico ke Los Angeles dengan menggunakan dua motor Chopper,  Captain America (Wyatt) dan Billys Bike (Billy) untuk menjualnya kepenadah kaya. Dari hasil transaksi kotor tersebut digunakan sebagai bekal melakukan long journey menuju New Orleans, tempat yang nantinya akan mengubah jalan hidup kedua bikers bebas ini.

Easy Riders sendiri menurut saya adalah sebuah film yang membawa embrio virus modifikasi Chopper. Hebatnya. Setelah film ini meledak, kemudian tidak sampe menunggu lama merebaklah trend chopper dibenua barat sana. Banyak builder-builder handal dalam dunia modifikasi motor khususnya Harley Davidson berlomba-lomba untuk membuat atau membangun motor-motor Chopper layaknya di Easy Riders.

Sebagai informasi. Motor yang dipakai oleh Peter Fonda dan Dennis Hopper difilm tersebut adalah dua Harley Davidson tipe Pan Head yang dimodifikasi oleh builder terkenal dari Amerika waktu itu, yaitu Cliff Vaughs dan Ben Hardy.

Pan Head sendiri adalah salah satu tipe motor yang termasuk kedalam strata legandaris keluarga Harley Davidson. Beredar tahun 1948 s/d 1968, dengan kapasitas mesin 990cc dan 1200cc berdaya kuda 50dk dan 55dk. Ciri unik mesin Pan Head adalah terdapatnya lempengan alumunium pada kedua ujung silinder headnya, dan kemudian oleh para fanatikan motor ini disebut sebagai “Pan Head” hingga sekarang.

Mengenai unsur teknis film ini sendiri, saya tidak akan menjanjikan ekspetasi tinggi kepada situh. Lupakan aksi special efek seru macam film Torque, lupakan aksi kebut-kebutan ala film Bikers Boyz, lepakan jalan cerita melodrama ala film Full Throttle, karena semua aspek special efek modern yang akan sampean bayangkan seperti ciri khas film-film Hollywood tidak bakal situh jumpai disini. Maklum ini film lawas, bung. Tempo film yang menurut saya berasa lambat seakan membawa penonton awam kesuasana bosan yang tak berkesudahan. Walopun pada akhirnya akan terdapat twist unpredectable dan ngebuat penonton melongo serta berkata, “lho koq akhirnya cuman begitu sihhh?!”, selebihnya masih membuat penonton kebosanan. Soal pengambilan gambar yang tersaji, menurut sayah, masuk kekategori lumayan. Malah menurut beberapa kritikus film dibarat sana, teknik pengambilan angel kamera bisa dibilang tidak kalah solid seperti film modern saat ini.

Last my virdict.

Jika situh pecinta film yang mengandung unsur road movie, pecinta film yang bertema hard bikers, pecinta film dengan style oldskool, dan pecinta film yang memperoleh rating dari MPAA kategori R (Ristricted), maka saya menganjurkan situh untuk menonton film ini. Dan apa jaminannya? Situh akan memberikan applause akan orisinilitas sebuah film yang mampu menyihir para penikmatnya untuk kembali bertualang bersama Wyatt dan Billy ke masa Flower Genaration khas tahun 70an.

Demikian dari saya,

Salam.

 

 

Posted in: Resensi Film