Catatan berharga seorang istri (1)

Posted on 11 November 2010

19


Sebenarnya postingan ini adalah hasil rasa kagum saya kepada istri tercinta, dulu (nyi nugros) sewaktu masih belum bekerja, mondar-mandir, tidak kenal lelah ataupun putus asa, dalam mencari pekerjaan demi membantu sang suami dalam mencapai kelancaran urusan finansial keluarga.

Cerita bermula setelah setengah tahun usai melahirkan putri pertama, rasa rindu beraktifitas dalam bekerja dan kebutuhan materi yang mengharuskan Nyi Nugros untuk membantu suami dalam mengais beberapa lembar rupiah, harus berhadapan dengan namanya dilema. Apa maksudnya? maksudnya seperti ini…seperti biasa, banyak perusahaan atau tempat kerja yang kadang tidak bisa menerima dan mempekerjakan seorang perempuan yang dianggap telah memiliki momongan. Kenapa seperti itu? menurut pemikiran saya pribadi, hal tersebut dinilai dari produktifitas seorang perempuan akan menurun jika sudah mempunyai status sebagai ibu, seperti contoh: jika anak sakit, maka insting seorang ibu pasti akan mulai bereaksi, dari terpecahnya konsentrasi kerja dengan keadaan si anak dirumah, meninggalkan pekerjaan penting untuk memberikan waktu dalam proses penyembuhan si anak, dan mungkin masih ada contoh lain-contoh lain yang tidak bisa saya sebutkan.


Semua indeks prestasi yang bisa dibilang camlaude, ijazah diploma, ijazah sarjana, sertifikasi keahlian, surat pengalaman kerja dari perusahaan besar yang dulu pernah ditempati, pengalam serta kemampuan kerja yang bisa dibilang bukan seorang beginers, seolah bukan merupakan senjata utama bagi Nyi Nugros untuk meyakinkan puluhan tempat kerja yang coba dilamar. Hanya karena status yang sudah saya sebutkan seperti diatas, serta kalah kemolekan tubuh dengan pesaing pencari kerja a-be-ge yang masih berstempel “fresh graduate from university” yang sanggup digaji dibawah UMR, itulah kendala terbesar yang sering dialaminya selama 1 tahun terakhir dalam mencari kerja.


Saya heran dengan perusahaan atau tempat kerja yang menolak mereka para wanita yang mempunyai kemampuan serta pengalaman kerja “lebih” dibandingkan para kelompok fresh graduate, gara-gara cuman kalah status lantas mengeliminasi sebelum proses test recruitment dilaksanakan? hmmm…kalau seperti itu sangat genderless sekali perusahaan tersebut. Apakah “mereka” takut jika mempekerjakan wanita yang sudah mempunyai momongan akan berakibat seperti yang sudah saya tulis diatas?, Apakah “mereka” khawatir jika mempekerjakan wanita yang berkemampuan lebih akan membutuhkan “cost” besar tiap bulannya?, Apakah “mereka” khawatir jika mempekerjakan wanita yang berpengalaman akan terlalu banyak tuntutan ini itu?, Dan apakah “mereka” memang memilih pekerja perempuan yang menyandang status “fresh graduate” semata-mata agar bisa diperdaya dengan gaji dibawah UMR serta pekerjaan yang “over load”?…hmmm…benar-benar tidak tahu saya spesifikasi khusus apa yang perusahaan tersebut cari untuk calon karyawan, khususnya pekerja perempuan yang mereka cari.


Tapi terlepas dari semua kenangan tidak mengenakan diatas, sekarang ini, karena kehendak dari Tuhan dan usaha yang pantang menyerah, Nyi Nugros sudah mendapat pekerjaan sesuai dengan apa yang dia citakan. Biarlah semua pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi sebuah cerita berharga bagi anak cucu kami, betapa susahnya seorang ibu harus berkompetisi dan berjuang membantu menjadi penopang sang suami dalam mengumpulkan rupiah untuk masa depan yang lebih baik bagi keluarga tercinta.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini