Rosox Mlaku…memang berhati syahdu

Posted on 16 November 2010

17


Crew Rosox Mlaku.

Bagemana pendapat situh dengan penampakan klub motor diatas? Kalo sebage orang awam yang njawab, mungkin akan dikonotasikan dengan klub yang dicap sebage biang onar, ahli mabuk-mabukan, bahkan lebih kejamnya bisa dibilang segerombolan anak muda kurang kerjaan.

Hal tersebut ndak salah, tapi tidak benar juga. Jika kita ngeliat segala sesuatu dari luar semata, maka hal yang lebih dalam bakal ndak terliat. Benar adanya jika dari segi tampilan serta tunggangan, orang-orang dikomunitas seperti itu adalah orang-orang nyang punya kelakuan seperti nyang udah saya tulis dipreambule. Tapi akan salah jika kita ngeliat sendiri apa yang udah dilakuin ma personil Rosox Mlaku asli Solo ini.

Tepatnya hari minggu tanggal 8 November 2010 kemaren, mereka nyang dianggap sebage komunitas marjinal, ternyata masih nyisaen rasa empati pada sodara-sodaranya. Iya bener, sodara-sodari mereka yang saat ini tengah ngadepin cobaan dengan adanya bencana erupsi gunung merapi.

Berbekal penggalangan dana suka rela serta semangat brotherhood, kawanan brutal berhati syahdu ini mencoba untuk sedikit berbagi, menyisihkan beberapa rejeki guna didonasikan ke masyarakat lereng merapi khususnya daerah Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Karena diliat dari kaca mata personil Rosox Mlaku, saat ini masyarakat derah tersebut tengah ngebutuhin uluran tangan.

Rosox Mlaku and the Ganks, bersiap melakukan kegiatan sosial.

Walopun selama perjalanan menuju lokasi bakti sosial ada beberapa kendala, umumnya masalah tunggangan, maklum kondisi tunggangan teramat brutal kalo dibanding motor sekarang, tapi itu tidak menyurutkan semangat buat berbagi kemuliaan ke sodara-sodaranya. Segala rasa capek, butiran-butiran peluh dan debu nyang menghiasin baju, rasa pedih dimata akibat semburan debu vulkanik merapi yang menghujani kota Boyalali, seolah tidak dirasakan ketika acara berbagi kasih udah sukses digelar.

Dari sini udah terjelaskan. Meski mereka dipandang sebelah mata sebage komunitas motor yang tersisih, dan juga keberadaan mereka kerap kali dicap sebage gerombolan tidak benar. Tapi itu terpatahkan dengan bukti yang ada. “Biarlah badan kami bau, biarkan vespa kami wagu, tapi hati kami syahdu”, itulah kalimat sakti yang sering terlontar dari mulut mereka.

“Biarlah badan kami bau, biarkan vespa kami wagu, tapi hati kami syahdu”

Lantas. Bagemana dengan komunitas roda dua yang menganggap tunggangan serta diri mereka lebih bersih, lebih rapih, bahkan sering disebut taat aturan, apakah sudah berbuat lebih dari apa yang Rosox Mlaku lakuin?

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Journal