Arti kekayaan yang sesungguhnya

Posted on 18 November 2010

28


Siang itu panas terik di ibu kota begitu menyengat kulit. Disuatu warung tenda didaerah belakang pintu utara lapangan parkir Gedung Plaza Mandiri daerah SCBD Jakarta. Terlihat tiga orang sahabat sekantor tengah beristirahat siang, setelah selesai makan siomay disalah satu warung tenda disana. Mitra, Benny dan Maskur mereka tanpa sengaja duduk dikursi deretan paling ujung, sehingga dari situ pemandangan jalan menuju kekawasan Electronic City bisa terlihat jelas. Dan karena siang itu sedang jam istirahat, maka terlihat sekali banyak karyawan dengan posisi jabatan diatas level ketiga sahabat ini sedang bergegas mencari tempat makan siang dengan mengendarai mobil pribadi masing-masing.

Ketika sedang menikmati segelas lemon teanya yang kini sudah menginjak gelas kedua, Benny berseloroh, “Enak banget yo, jadi bos-bos seperti itu, kerjanya diruangan tersendiri, full AC, internet tanpa batas, jikalau ngeblog pun bebas merdeka tanpa ada yang mengawasi, dapet fasilitas mobil pribadi dari perusahaan, kalau mo makan siang pun tidak seperti kita hanya diwarung pinggir jalan seperti ini. Nasib…nasib, kapan yo kita bisa seperti mereka?”.
Mitra pun yang sedari tadi asyik browsing via handphone untuk nyari bahan tulisan diblog otomotifnya kini menimpali perkataan Benny, “Wis jannn….ngimpi kamu kon!, kita ini hanya karyawan kecil Ben, isitilah kata, kita ini hanya abdi arek-arek itu.”
Benny menjawab, “Walaupun ngimpi, tapi tetep boleh saja kan Mit, aku kan juga kepingin seperti mereka, wis jan..nasib koq ngga berubah yo, gini-gini aja terus. Lha memangnya kamu sendiri ngga mau apa hidup seperti mereka?”
Maskur yang sedari tadi hanya diam karena sibuk mengomentari status para fans boy diblog pribadinya lewat ponsel, kini tergelitik akan celoteh kedua temannya tersebut, lalu diapun berkata, “Ehhh pren…ada pepatah bilang ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’, artinya kita selalu merasa iri dengan mereka, karena kita menganggap kehidupan mereka lebih bahagia dari pada kita. Tapi sebenarnya tahu ngga? merekapun kandang iri juga dengan kita lho, tetapi hanya saja kita tidak menyadarinya.”
“Weladalah, apa yang mereka irikan dari kita? Mimpimu ternyata malah lebih parah. Lihat mereka itu, naik mobil kencang dengan kaca tertutup tanpa sedikitpun menoleh ke kita.”, sahut Benny ke Maskur.
Maskur hanya tersenyum mendengar logat Jawa si Benny yang agak medok, maklum walaupun sudah lama tinggal di ibu kota, aslinya dia masih punya keturunan darah jawa yakni Solo. “Ben, Mit, Kalau kita perhatikan, banyak pejabat atau artis ngetop ibu kota hidup dalam kemewahan harta benda, tapi apakah kalian tahu, mereka itu malah tidak bisa menikmati indahnya hidup layaknya masyarakat normal seperti kita. Ambil contoh, pak Triatmono juragan kita, apakah beliau juga bisa hidup nyantai seperti kita ini?, lha wong setiap hari harus bekerja sesuai push atau preassure dari bos presiden direktur, dan karena itu beliaupun harus rela pulang malam tiap hari, sampai-sampai nih urusan mencari jodoh saja menjadi nomor sekian karena lebih mementingkan pekerjaan dan juga mungkin menggawangi blognya. Tahu sendirikan kalau beliau ini juga salah satu blogger otomotif kondang dinegeri ini?. Terus ada lagi nih, artis-artis ngetop sinetron ditelevisi, apakah iya mereka bisa menikmati normal life seperti kita?, lha wong kalau keluar jalan ke mall saja pasti dikuntit para pemburu berita infotaiment untuk dijadikan bahan gosip. Dan perlu kalian ketahui juga, mereka ini, kalau ingin bersantai untuk menikmati hidup harus curi-curi waktu serta kesempatan, mungkin dengan mengucilkan diri keluar negeri, pergi kehotel berbintang, atau pura-pura sakit agar terbebas dari rutinitas harian yang super padat. Yang intinya, mereka-mereka ini kalau ingin bersantai harus mengeluarkan uang banyak.”


Mitra menyahut penjabaran Maskur, “Iya betul kamu kon, tapi kan tetap saja arek-arek ini enak, mau gimana-mana punya banyak duit. Lha kalau untuk ukuran orang-orang seperti awak? behhhhhhh….mana bisa?! Lagian nih ya, apakah kon juga tidak ingin menjadi orang kaya seperti arek-arek itu?”
“Hmmm…untuk saat ini aku sudah bersyukur, karena sudah menjadi orang kaya”, jawab Maskur sambil merasa sedikit janggal dengan logat khas Malang si Mitra yang walaupun sudah lama hidup menetap diibu kota tetapi tetap saja tidak bisa hilang.
Mitra dan Benny terdiam bengong sehabis mendengar penuturan Maskur barusan, hanya suara orang-orang makan disekitar mereka yang tampak terdengar beradu dengan gemlitik sendok dan garpu ditengah piring berisi siomay tengiri asli Bandung.
Lalu tak lama kemudian…
Benny memecah keheningan tersebut, “Ehhh konco, kamu habis dapat warisan dikampung tho? ehhh dimana kampungmu itu? daerah Banyumas yo?…wahhh dirayain donk!!!”
Maskur lantas menjawab,”Ok…sobat, bayangin kalau aku dapet warisan beneran, terus….”
Belum selesai Maskur ngomong, tiba-tiba Mitra menyahut, “Yeahhh…paling ngga makan-makan sepuasnya direstoran mewah, atau tuku mobil Nissan Skyline GT keluaran terbaru….”
Kini gantian, belum selesai Mitra ngomong, tiba-tiba perkataannya dipotong oleh Maskur, “Wahhh…ngga heran kalau rejekimu pas-pasan. Begitu dapat rejeki nomplok langsung berfoya-foya ria. Beli ini, beli itu, makan-makan sepuasnya sampai tidak mengukur kebutuhan tubuh. Lihat tubuhmu itu sudah hampir melar sama seperti si Benny”


“Maksudnya apa?”, tanya Benny gusar karena ukuran tubuhnya yang memang XXL ikut dilibatkan dalam celoteh kedua orang ini.
Maskur menjawab,”Kalian percaya kan kalau Tuhan itu maha penyayang?”
Lalu Benny pun menjawab,”Ya iyalah….lantas apa hubungannya dengan tubuhku yang melar?”
Maskur berkata lagi, “Konco,…kita tuhhh diberi rejeki pas sesuai dengan kebutuhan hidup, karena Tuhan menyayangi kita, kita tidak diuji melebihi kemampuan kita. Tahukah kalian, ‘KEKAYAAN’ itu sebenarnya merupakan suatu ujian lho, dan banyak orang gagal dalam menghadapi ujian kekayaan ini. Contohnya ni ya, banyak orang-orang kaya menimbun berbagai penyakit ditubuhnya semacam kolesterol, hipertensi, jantung bahkan kanker, tahukan kalian penyebabnya? mungkin kurangnya olah raga, bisa juga terlalu stres mengamankan posisi jabatan yang nyaman, karena kesibukan kerja maka terlalu banyak mengkonsumsi junk food ditambah lagi dengan pola makan tak teratur…”
“…Ada lagi nih, bagi pasangan yang berkelebihan materi, ngga sedikit dari mereka hidup dalam kondisi tidak harmonis, mungkin sang suami terlalu mengutamakan mengejar segepok rupiah sehingga kurang memperhatikan kebutuhan psikologis istri maupun anak, lha kalau sudah gitu paling pelariannya apa coba?, buat si istri bisa menghabiskan waktu shopping atau cari selingkuhan karena kurangnya perhatian dari suami, lantas untuk si anak karena merasa kurang perhatian dari kedua orang tuanya paling ya terjerumus kepergaulan bebas atau kalau ngga menjadi pengguna narkoba, dan untuk si suami itu sendiri, karena semua bisa didapat dengan nominal rupiah maka kehangatan cintapun hanya diukur melalui itu saja, semisal “jajan di aquarium” atau apalah gitu. Makanya pren, Tuhan itu sangat menyayangi kita hanya dengan memberi rejeki sesuai dengan kebutuhan pokok saja, supaya kita bisa terhindar dari hal-hal atau perbuatan-perbuatan seperti itu. Dan dengan kita bekerja seperti ini, kita sering dituntut untuk bergerak, tidak hanya diam duduk seharian dikursi kantor, lantas apa efeknya? tiap tetes keringat yang mengucur ditubuh kita adalah tanda anugrah kesehatan yang diberikan oleh-Nya, ingat ‘KESEHATAN’ adalah ‘KEKAYAAN’ yang tak ternilai harganya lho. Terus yang terakhir nih…jikalau ingin bersantai, orang-orang seperti kita ini mo kongkow-kongkow disini sekalipun tidak akan ada yang menghiraukan dan yang jelas malah feel free tho…”
“…itulah arti kekayaan yang sebenarnya, betul nggak?”, urai Maskur.
“Kamu benar, kalau kita berkeluh kesah, berarti kita kurang mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Padahal kita bisa hidup serba cukup seperti ini juga karena kehendak-Nya yo.”, jawab Benny.
Mitra menimpali, “Benar juga kamu kon, suwun wis dingatkan, Tuhan memang menyayangi kita lewat kehendak yang diberikannya secara misterius, karena kehendak-Nya lah kita bisa terbebas dari nafsu duniawi dan terhindar dari perbuatan yang mungkin bisa merusak diri atau keluarga kita.”

Karena jam istirahat menjelang habis, akhirnya ketiga sahabat tersebut memutuskan untuk kembali lagi kekantor dimana mereka bekerja yaitu di salah satu lantai Gedung Plaza Mandiri Jakarta, guna meneruskan rutinitas sehari-hari.

—————————————————————————————————–
Noted: This story ispired by true story, dan semua nama, tempat, serta waktu kejadian adalah rekayasa belaka, jika ada kesamaan berarti itu ada unsur kesengajaan yang dibuat oleh penulis tanpa ada maksud apapun…PISS😀.