Cerita kuno tentang arti sebuah “Amanah”

Posted on 2 December 2010

6


Wokeiiii…para om-om sekalian, hari ini saya akan sedikit mendongeng tentang cerita yang sudah turun temurun beredar dikota saya tercinta, yakni Solo. Mungkin cerita ini agak panjang dan saya yakin sampean agak be-te membacanya, tapi jika sampean tertarik mengambil inti sari dari akhir dongeng saya, silahkan aja membaca dengan baik🙂.

Diceritakan, dulu pada waktu kota Surakarta masih berbentuk kerajaan dengan rajanya Mangkunegaran IV yang memerintah pada tahun 1809 s/d 1881, beliau mempunyai sahabat baik bernama Ronggowarsito. Ronggowarsito ini pada masanya dianggap sebagai orang ‘pintar’ baik dalam ilmu kebatinan ataupun sebagai seorang sastrawan handal.

Pada suatu hari, sang raja keraton Mangkunegaran Hadiningrat ini, ingin menguji kepintaran sahabat baiknya tersebut. Hal itu dikarenakan, beliau memang sangat penasaran pada awalnya, karena banyak cerita yang beredar dimasyarakat, apapun yang dikatakan Ronggowarsito, jika dia sudah menebak apa yang dia maksud, pasti akan terwujud jua tebakannya tersebut.

Nah…waktu itu, Mangkunegaran IV menunjukan tangannya kepada salah seorang pemuda pengangguran yang sedang kongkow-kongkow santai didaerah Ngarsopuro. Lalu beliau bertanya kepada Ronggowarsito, “Wahai, sahabatku, apakah pemuda itu menurutmu bisa kaya?”. Tak lama kemudian setelah mengamati sang pemuda, Ronggowarsito menjawab, “Tuan Raja, menurut saya, pemuda itu tidak akan bisa kaya”.

KGPAA Mangkunegaran IV

Karena merasa penasaran dengan jawaban temannya tadi, Mangkunegaran IV memerintahkan abdi dalemnya untuk memanggil pemuda tersebut, beliau menyerahkan sebuah surat yang ditujukan untuk Bupati di Wonogiri kepada sang pemuda. Karena jarak kota Surakarta dengan Wonogiri agak lumayan jauh, tak lupa uang saku untuk bekal diperjalanan juga diberikan kepada pemuda itu.

Karena mendapat mandat dari seorang raja besar diwilayahnya, maka sipemuda itupun langsung berangkat menuju ketempat tujuan. Tapi, baru sampai dikota Sukoharjo, pemuda tersebut bertemu dengan teman akrabnya yang sedang melintas dijalan, yang juga akan menuju ke kota Wonogiri. Tak lama kemudian, terbersit suatu pemikiran diotak pemuda tadi. “Kenapa harus jauh-jauh sampai sana, jika aku bisa menitipkan surat ini kepada temanku dengan sedikit imbalan”, begitulah guman dalam hatinya.

Memang benar, akhirnya, teman sipemuda tadi yang berangkat untuk menyerahkan surat dari raja Mangkunegaran IV. Lantas, tahukan para om-om sekalian, apa isi dari surat yang dititahkan sang raja kepada sipemuda untuk diserahkan kepada sang bupati?. Tak lain dan tak bukan, agar jika ada seorang pemuda datang dari Surakarta membawa surat dari Raja Mangkunegaran, maka sang bupati harus menikahkan putrinya dengan pemuda tersebut. Tiba saat hari, jam dan tanggal pernikahan diselenggarakan, Mangkunegaran IV juga ikut datang kepesta perayaan dialun-alun kota Wonogiri.

Setelah sampai ditempat perayaan, sang raja terkejut, kenapa pemuda yang sedang duduk dipelaminan bukan pemuda yang diperintahkannya beberapa hari kemarin. Didalam hati Mangkunegaran IV, berkata, “Hmmm…memang betul tebakan teman baikku Ronggowarsito, bahwa pemuda yang aku suruh kemarin tidak akan bisa kaya”.

Dua minggu kemudian.

Dipanggilah Ronggowarsito untuk datang berkunjung dikeraton oleh Mangkunagaran IV. Disela-sela berbincangannya dengan sang teman, kembali benak sang raja terusik, “Apa iya Ronggowarsito ini benar-benar pintar”. Maka, ketika sedang berjalan didepan istal kuda kerajaan, Mangkunegaran IV kembali bertanya kepada temannya, “Wahai temanku, menurutmu, apakah bapak-bapak pencari rumput untuk makan kuda-kudaku tersebut bisa kaya?”. Sebentar kemudian Ronggowarsito menjawab, “Tidak tuanku”.

R. Ronggowarsito

Tak lama setelah Ronggowarsito pulang dari keraton, sang raja kemudian memanggil bapak pencari rumput tadi. “Wahai pekerjaku, ini upahmu hari ini, maaf untuk hari ini kamu tidak aku beri uang, tapi aku ganti dengan buah melon yang besar dan segar”. Nah, tahukan sampean jika buah-buah melon yang diberikan kepada sibapak tersebut, ternyata didalamnya telah dimasukan emas batangan yang diperkirakan bisa untuk bekal hidup sampai meninggal.

Maka setelah menerima beberapa melon dari sang raja, bapak tersebut pulang. Dia pulang dengan hati menggerutu, “Kenapa aku hari ini apes sekali, setelah bekerja keras seharian, upah uang yang kuharapkan, tapi malah buah melon yang kudapatkan”. Lalu diapun melangkah pulang dengan langkah gontai.

Lalu esok harinya, Mangkunegaran IV terperanjat kaget ketika beliau berjalan melintas istal kudanya. “Wahai pekerjaku, kenapa engkau masih disini? Apakah melon yang aku beri kemarin tidak kamu makan?”, tanya sang Raja kepada sibapak pencari rumput. “Mohon maaf baginda raja, melon yang kemarin hamba terima sudah saya jual dipasar Nusukan, uangnya lantas saya belikan beras untuk makan keluarga hamba”.

Mendengar penuturan sibapak tersebut, Mangkunegaran IV kembali berpikir, mengingat perkataan sahabatnya Ronggowarsito yang memang benar adanya, bahwa bapak pencari rumput tersebut memang tidak bisa kaya.

Satu bulan kemudian.

Disaat Mangkunegaran IV sedang berjalan-jalan dipasar Triwindu, secara tidak sengaja beliau berjumpa lagi dengan sobatnya yakni Ronggowarsito, yang saat itu juga tengah mencari pena tinta untuk membuat karya sastranya. Ditengah obrolan asyik, sang raja kembali bertanya kepada Ronggowarsito, “Wahai temanku, apakah pasangan tua penjual barang antik didepan itu bisa kaya?”. Sebentar kemudian Ronggowarsito terdiam sejenak, kedua matanya memperhatikan pasutri paruh baya tersebut yang saat ini tengah merapikan barang dagangannya yang memang sangat sedikit dibandingkan dengan penjual lain dipasar itu. Tak lama kemudian, Ronggowarsitopun menjawab, “Paduka raja, saya yakin pasangan suami istri sepuh yang mempunyai toko kecil serta barang dagangan tidak lengkap tersebut bisa kaya”.

Mendengar penuturan sang sahabat, Mangkunegaran IV heran bukan kepalang, bagaimana bisa orang yang sudah sepuh tersebut bisa kaya. Setelah selesai mengobrol, kedua sahabat itupun lantas berpisah untuk kembali pulang kekediaman masing-masing. Tapi sebelum pulang kekeraton, sang raja menyempatkan diri untuk mampir ketoko sibapak-ibu tersebut, lalu menyerahkan beberapa uang logam kunonya yang sudah tidak terpakai kemereka.

Satu minggu telah berlalu, ketika sang raja kembali berjalan-jalan disekitaran pasar Triwindu, betapa kagetnya beliau. Melihat toko kecil yang dulu dimiliki oleh pasangan suami istri paruh baya itu, kini sedang dibangun untuk diperbesar, dan tidak itu saja, barang dagangan yang dulunya tidak lengkap, kini sekarang semuanya ada. Melihat perubahan drastis tersebut, Mangkunegaran IV penasaran dan heran, lalu beliupun mendatangi pemilik toko tersebut, seraya berkata, “Wahai bapak ibu penjual barang antik, bagaimana kalian bisa berubah kaya seperti ini dalam waktu singkat?”.

Karena mendapat pertanyaan dari Raja Agung diwilayah tersebut, maka si bapak yang mewakili siistri menjawab pertanyaan sang raja, “Begini ceritanya paduka, satu minggu kemarin hamba diberikan beberapa uang logam kuno yang tidak terpakai oleh paduka raja. Selang satu hari kemudian datanglah nelayan dari kabupaten Cilacap yang jauh-jauh datang kemari untuk mencari uang logam tidak terpakai, guna membetulkan bandul jaringnya. Karena merasa hamba punya barang yang dimaksud, maka saya berikanlah uang logam tersebut. Tapi melihat nelayan itu sudah kehabisan bekal dijalan, hamba tidak berani menarik sepeser uang sebagai imbalannya, hanya dengan keiklasan hati menolong sesama, hamba berikan uang-uang logam dari paduka tersebut. Nah tiga hari kemudian, si nelayan tersebut datang kembali kesini sambil menyerahkan beberapa ekor ikan laut yang sangat besar sebagai tanda terimakasih atas pertolongan kami…”

“Lantas bagaimana kalian bisa kaya, hanya gara-gara ikan pemberian nelayan tersebut?”, tanya Mangkunegaran IV kepada kedua pasutri tersebut. “Begini paduka, sebelum ikan-ikan pemberian nelayan tersebut hamba goreng, ternyata ada tiga ikan yang tidak sengaja menelan mutiara laut, yang kemudian mutiaranya hamba jual ditoko perhiasan dekat pasar Klewer. Nah dari mutiara itu, perjalanan keuangan hamba mulai membaik hingga seperti ini.”

—————————————–

Nahhh…para om-om yang budiman, dari cerita dongeng yang agak panjang tersebut, bisa diambil kesimpulan tentang arti sebuah “amanah”. Jika sampean adalah seorang karyawan pabrik, kantoran, pebisnis, ataupun wiraswastawan, jangan pernah menganggap sepele “amanah” dari orang-orang yang mempunyai “pengaruh” didalam perjalanan keuangan sampean. Laksanakan dengan baik, benar, dan penuh tanggung jawab amanah dari atasan, rekan bisnis, ataupun kolega sampean, karena saya yakin, jika para om-om sudah menjalankan amanah “mereka” dengan sebenar-benarnya, niscaya kunci pintu dari rejeki sampean menuju kepenghasilan lebih baik akan terbuka lebar.

Demikian dari saya,

Salam.