Mad Max (1979)…aksi nekat penegak hukum sakit hati

Posted on 4 December 2010

11


Siapa yang tidak kenal dengan aktor kawakan Mel Gibson? seorang bintang film gaek dari Hollywood yang sempat melejit namanya lewat film yang berjudul Lethal Weapon bersama rekan tandemnya yakni Danny Glover. Selain Lethal Weapon, sebenarnya banyak film-film sukses dipasaran yang telah dibintanginya, semisal trilogi Mad Max, Bird On A Wire, Air America, Brave Heart, The Patriot, Ransom, Payback, We Were Soldier dan yang terakhir ini adalah Edge Of Darkness. Sukses berkarir dibidang akting, tidak juga membuatnya berpuas diri. Kursi sutradarapun pernah ia jabanin, lewat film Brave Heart, Apocalypto dan Passion Of The Christ yang beberapa waktu silam sempat menuai kritik karena memperlihatkan adegan penyiksaan Yesus sebelum disalibkan penuh dengan darah, Mel Gibson membuktikan bahwa dia bukanlah sutradara kacangan yang numpang tenar dengan nama besarnya dibidang akting.

Okeiii…disini saya, ingin mengulas salah satu film Mel Gibson dimana dia waktu itu sedang meretas karir diindustri perfilman Hollywood. Mad Max adalah salah satu judul film yang sukses dibintanginya sewaktu masih berumur 23 tahun. Film keluaran tahun 1979 ini adalah seri pertama dari trilogi Mad Max yang sudah pernah beredar dilayar lebar seluruh dunia. Film yang bentuk DVD platinum editionnya sampai sekarang masih menjadi barang buruan untuk dijadikan koleksi oleh para Moviefreakers, memang sangat fonumental pada jamannya. Bagaimana tidak, dengan minimnya budget yang ada sewaktu proses pembuatannya, ternyata tidak menghalangi semua kru dan pemerannya untuk sungguh-sungguh melakoni semua proses syuting. Dan hasilnya, pada saat pertama kali dilaunching di Australia, dimana film ini juga dibuat disana, ternyata meraup keuntungan yang besar yang akhirnya mampu mebuat Mad Max bertengger bangga, ditengah kepungan film-film Box Office yang dibuat oleh industri Hollywood waktu itu.
Dalam film Mad Max ini mengambil latar belakang daerah antah berantah (Post Apocalypse) dibenua Australia. Diceritakan, pada waktu itu daerah-daerah di Australia menjadi sangat ‘wild-wild west’, kejahatan yang ditimbulkan oleh gang bermotor sangat meresahkan masyarakat. Hanya seorang penegak hukum gila, yang mampu menghentikan para penjahat diatas roda dua ini. “Mad” Max Rockatanzy adalah seorang hamba hukum yang harus menemui nasib tragis, betapa tidak, istri dan anaknya habis dibantai oleh geng bermotor, tidak itu saja, teman-teman baiknya juga satu per satu ditarik nyawanya oleh para penjahat berkuda besi tersebut. Seperti halnya film kelas B yang sudah-sudah, aksi balas dendam adalah sajian utama difilm ini. Hanya bermodalkan nyali serta dendam kesumat, Mad Max menghabisi satu persatu para geng bermotor tersebut dengan mobil tunggangannya yakni Ford Falcon V8.

Disini, jika kita perhatikan, dalam film Mad Max dengan film Stone yang sudah saya review, akan kita temui kesamaan tunggangan yang dipakai oleh gerombolan penjahat bermotor tersebut. Yupppp…Kawasaki KZ-1000 dan Honda CB-750, banyak menjadi properti pendukung. Apakah pada waktu itu kedua motor ini sedang booming dinegeri kanguru? I don’t know…., tapi yang jelas dengan model cafe racer, kedua motor tersebut terlihat liar dilayar lebar.

Layaknya film-film action yang mengetengahkan adegan slang bang crash motor and car, keedanan para stuntment diexploitasi habis-habisan. Motor jumpalitan dijalan, motor nyemplung dari jembatan ke sungai, aksi wheel burn, dan banyak lainnya akan ditemui dibeberapa adegan film ini.


Last my virdict….Mad Max adalah salah satu film yang menurut saya wokeiii untuk ditonton diwaktu senggang, tapi ingat, sebelum menonton film ini jauhkan anak kecil dari sekitar anda, karena beberapa sex scene difilm ini terlalu fulgar untuk konsumsi anak dibawah umur. Lupakan tentang story line, karena akan masih banyak plot hole disana-sini, maklumlah ini kan film tahun jebot. Dari segi kualitas akting para pemainnya, yeahhh…anggap saja sampean nontong wayang orang, karena mayoritas tingkah laku pemain difilm ini masih sangatlah kaku, even itu Mel Gibson sekalipun. Tapi unsur fun untuk mengejar nilai grindhouse dan arti sebuah cult movies akan tertancap dalam diotak sampean, jika memang sampean bener-bener moviegoers layaknya saya dalam menikmati film-film jadul.

Demikian dari saya,

Salam.

Bonus…salah satu motor yang dipakai syuting di film Mad Max😀

Posted in: Resensi Film