Thriller: A Cruel Picture (1974)…”tontonan wajib buat para grindhouser!!!”

Posted on 15 December 2010

6


Sebenarnya saya agak gimana gitu saat menulis resensi tentang film ini. Film asli dari Swedia yang beredar pada tahun 1974 dan sempat dibanned oleh beberapa negara barat, karena menampilkan adegan eksploitasi kekerasan dan sex scene layaknya film porno kelas kampung yang sangat berlebihan.


Thriller: A Cruel Picture, film yang dibintangi oleh artis film tipe exploitation yakni Christina Lindbergh ini, sangatlah over rated pada masanya, bahkan sampai sekarangpun film ini masih menjadi pujaan bagi kaum grindhouser layaknya saya. Jadi mohon maaf, jika para moviegoers yang beraliran majorstream menonton film ini akan dibuat mengernyitkan dahi, dan kata-kata sumpah serapah penuh sampah terlontar dari mulut sampean. Lha emang kenapa tohhh?…yeahhh…karena, seperti yang sudah saya tulis diatas, ada beberapa adegan kurang penting yang sangat dieksplotasi dibeberapa scene film ini. Seperti contoh: pencungkilan mata sang heroine, dishoot terlalu mendetail, jadi bisa dipastikan, bagi sampean yang kurang suka dengan adegan gore level akut dipastikan akan muntah dibuatnya, oooo…iya..konon dalam adegan ini, rumornya, mata yang dicungkil tersebut memang dari mata asli seorang mayat perempuan yang dijadikan properti dalam film ini…GLEKKK!!!!. Terus ada lagi, beberapa adegan sex, diperlihatkan terlalu mendetail, bahkan saat penis lawan main masuk keliang senggama si heroine pun, diperlihatkan dengan seksama, dan rumornya lagi nihhh, hal ini sengaja dilakukan oleh sang sutradara (Bo Arne), agar filmnya bisa masuk kejajaran film-film grindhouse Amerika yang waktu itu lagi booming serta menjadi bechmark kualitas film grindhouse terbaik diseluruh dunia.

Alur cerita dalam film ini sebenarnya sangat simple dan mudah untuk dicerna, bahkan oleh orang awam sekalipun. Tema balas dendam, sekali lagi mendominasi jalan cerita film ini. Diceritakan Frigga (Christina Lindbergh) seorang gadis yang tidak banyak bicara, hendak pergi kota, tapi malang bagi dia karena ketinggalan bus, maka harus menerima ajakan seroang laki-laki tak dikenal bernama Tony. Nah…disinilah awal petaka bagi Frigga, setelah diajak makan malam dirumah Tonny, ternyata dia dibius hingga tak sadarkan diri selama beberapa hari, tidak itu saja, selama dalam masa pingsannya, tubuh Frigga juga disuntik obat bius dalam dosis tinggi agar tidak bisa melarikan diri dan ketagihan.  Hingga suatu saat dia siuman, betapa kagetnya, ternyata kini Frigga sudah dijadikan budak sex oleh Tonny, dan tak segan-segan Tonypun juga menjual tubuhnya kelelaki hidung belang lainnya.


Pada hari pertamanya menjadi pelacur, Frigga sempat berontak kepada salah seorang tamunya, yang kini dia harus mempertanggung jawabkan tindakannya tersebut ke Tonny. Sangat gila!!!!, untuk membuat jera Frigga, Tonypun harus mencungkil salah satu bola matanya. Tidak itu saja, satu persatu nasib buruk mendatangi Frigga, dari kehilangan keperawanan, dijadikan pelacur, kehilangan sebelah mata, hingga dia harus berbesar hati, karena kini orang tuanyapun telah bunuh diri karena putus asa mencari putrinya yang hilang.


Nah…disinilah, awal titik balik dendam kesumat dari rasa sakit hati Frigga kepada Tonny tumbuh sempurna. Selepas melayani para tamu-tamunya, tanpa sepengetahuan Tonny, dengan menggunakan uang tips dari para tamunya tadi, Frigga mencoba untuk bangkit dengan cara belajar karate, belajar menggunakan senjata dan bahkan belajar ngebut menggunakan mobil. Hal ini dilakukan guna merancang skenario untuk membunuh Tonny dengan kejam dan penuh rasa sakit, seperti halnya rasa sakit yang sudah dia alami selama ini.

And the last synopsis….akhirnya, judgment day telah tiba, satu persatu, antek-antek Tonny dibunuh dengan kejam, dan tidak lupa para tamunyapun juga diberi pelajaran akan arti rasa sakit yang selama ini dia rasakan.


Well…disini saya cukup geleng-geleng kepala setelah menonton film ini, betapa tidak, berbeda dengan film ekploitasi lainnya yang berasal dari benua Eropa, Thriller: A Cruel Picture digarap dengan art stylish kelas tinggi. Hal ini bisa ditemukan pada beberapa adegan baku tembak antara Frigga dengan para antek-antek Tonny, adegan slow motion yang kini sering kita jumpai pada film bergenre action kelas B, akan sampean lihat disana. Dan tidak itu saja, teknik pengambilan gambarpun, kalau dibandingkan dengan film ekploitasi sejenis, film ini masih bisa diunggulkan dari segi teknis manapun.

Last my virdict….sekali lagi saya tekankan disini, BUAT SAMPEAN YANG TIDAK MENYUKAI SENSE OF ART GRINDHOUSE MOVIE, JANGAN PERNAH TONTON FILM INI, karena apa???…dari pada sampean bersumpah serapah dengan kata-kata sampah, hemat waktu anda dengan menonton film yang lebih nge’pop saat ini juga di cineplex terdekat😀.

Demikian dari saya,

Salam.

————————————————–

Inilah si Christina Lindberg….cuannnntik yo😀

Posted in: Resensi Film