Lamunanku dipagi kemarin

Posted on 20 December 2010

12


“Huamemmmmm”….seperti biasa pada hari minggu yang semestinya, bermalas-malas ria adalah rutinitas yang diimpikan, bangun tidur jam 6.30 pagi, membuka sedikit mata dengan penuh rasa berat, melirik kearah kiri ranjang…ohhhh…my little Shelby masih pulas dalam pelukan Teddy Bear’nya. Mencoba membangkitkan badan yang belum utuh dalam pencarian rohnya, “huamemmmm”…untuk yang kedua kali, melengok kearah kanan ranjang, ohhhh…sang istri tersayang masih memperlihatkan pesona kecantikan, dalam balutan wajah polos dipenghujung akhir mimpi indahnya. Tak lama kemudian, hati kecil berucap, “terima kasih Tuhanku, atas segala anugerah, berkat, serta keindahan yang begitu sempurna engkau berikan kepadaku hingga pagi hari ini.”

Langkah kaki gontai penuh rasa malas membebani kedua anggota tubuhku, dalam menopang seonggok daging berjalan menuju keruangan tersayang. Buka pintu, tekang tombol pengharum ruangan, buka celana, ambil posisi nyaman….ahhhhh…segala rasa nikmat duniawi membaluti raga ini, suara sisa proses fermentasi semalam, terjun bebas ke dalam kubangan air berwana jernih, “currrr, jrot, plung, pretttt”…begitu matab terdengar ditiap pagi, bagaikan lengkingan cadas suara axl roses bersama groupnya, guns & roses dimasa keemasannya dulu.

30 detik masih dalam masa orgasme dipenghujung anus, koq tiba-tiba, roh ini sekonyong-konyong terbang tak bertuju, hingga pada penghujung waktu, terhenti disuatu waktu. Heiii…dimanakah aku ini?
———————————————————————————————

Semilir angin menerpa wajah, matahari masih bersinar dengan malu-malu diufuk sang pagi hari, hangat mentari terbebani mendung kecil disepanjang jalan, menuju kearus puncak. Yeahhhh…Tawangmangu…i will come to you.

Desir-desir dingin sang bayu dipagi nan mendung itu, menambah tusukannya ketulang sendiku. Arggghhhhh….rasa gemetar dan gemletak ditiap gigiku, seolah adalah teman setia ditiap kilometer perjalanan nan sepi. Kadang masih terpikir, kenapa air kehangatan berstempel ‘40% alkohol’ yang sedikit tertenggak, koq tidak bereaksi ditiap liter darahku. Hmmm…apakah sang pemberi hidup telah mematikan jiwaku tuk menyudahi kehangatan ditiap tetes air persahabatan yang kadang kunikmati tersebut? entahlah….

Suara parau pelepas gas buang motorku, mungkin terlalu berisik bagi mereka para mahkluk berkuda besi bersih nan mulus. Terkadang mereka menatapku aneh, seaneh tunggunganku dipagi itu. “Sayangku, hiraukan mereka”…begitu bujukku pada tunggangan binalku. Terkadang mesin juga punya perasaan, disaat banyak mahkluk manis yang mencemo’ohnya, dan sang empu malas menghiraukan, jodoh besi peneman perjalanan dipastikan ngambek dijalan. Percayalah padaku sobat…

Mungkin dikilometer 30, disuatu daerah bernama Karang Pandan, sang binalku benar-benar kehabisan nafas, tenaga tuanya mungkin mengharap iba kepadaku, “kawan beristirahatlah sejenak, tuk aku mengambil nafas panjang lagi”. Rasa sehati akan motor kesayangan, membawaku beristirahat dipukul 8 pagi, dipinggir jalan, diatas rumput basah, sisa hujan kemarin malam.

Jaket jeans balel, lusuh, dekil nan kotor, dengan simbol ASU (Army Solo Uduxs) dipunggung kebanggaan. Seolah bukan tameng hebat untuk ragaku yang tengah merinding, menahan dingin, atas hujaman angin gunung yang basah. “Ohhh…sayang…ayolah segera kita nikmati perjalan kepuncak tujuan semula.”, begitulah pintaku kepada sang binalku tersayang.

Tapi….dalam kecepatan kilat, tiba-tiba sukmaku kembali ditarik, menuju keperadaban semula, kembali kedimensi yang semestinya, kewaktu yang sebenarnya, yaaaa….kembali kewaktu yang sebenarnya.

—————————————————————————————–

Bagaikan terbangun dari mimpi indah, yang kini rusak karena terjaga, oleh sebuah…oleh sebuah…ketukan…yeahhh ketukan. Suara yang sangat menyebalkan dikepala, disaat lamunan tingkat tinggi terusik kembali kehabitatnya. Suara dari sang tercinta berkumandang, “Yah, ayah…gantian donk, udah belum e’eknya, ini mamah juga sudah kebelet nich”.

Demikian dari saya,

Salam.