The Last Cannibal World (1977)

Posted on 24 December 2010

7


Bagi para grindhouser (sebutan untuk para maniak film grindhouse), pada pertengahan tahun 70’an hingga awal 80’an merupakan surganya film-film exploitasi yang mengambil tema cannibal. Dan lucunya film-film kanibal tersebut menyeret penduduk atau suku primitif disuatu negara, yang digambarkan mempunyai kegemaran manyantap daging mentah, entah itu daging manusia atau hewan. Hmmm…dasar pemikiran ekstrim para kapitalis film dinegeri Italia. Loh koq Italia? yup…karena memang dinegara inilah, banyak melahirkan sutradara-sutradara kontroversial yang gemar membuat film dengan tema sejenis.

Ruggero Deadato, salah satu dari sekian banyak cinemaker dari Itali yang gemar membikin film dengan tema kanibal. Tapi diantara film-film yang dihasilkannya, menurut pendapat pribadi, hanya Cannibal Holocaust’lah (1980) karya masterpiece terbaiknya yang benar-benar mengundang kontroversi dunia, sampai-sampai film itupun di banned dibeberapa negara karena menampilkan unsur gore yang berlebihan.

Beberapa tahun sebelum Cannibal Holocaust dibuat, tepatnya tahun 1977, Deadato sempat membuat film dengan judul The Last Cannibal World aka Jungle Holocaust dan tentunya masih setia dengan tema kanibal. Menurut informasi yang ada, film ini dibuat berdasarkan observasi dan kisah nyata sebenarnya tentang suku pedalaman dirimba hutan Mindano, Philipina. Nah…karena berkeinginan mengangkat cerita dengan kondisi yang sebenarnya plus diberi embel-embel industri perfilman waktu itu, maka lokasi syuting untuk film ini benar-benar dilakukan disuatu hutan pedalaman di Philipina, serta melibatkan suku asli dikawasan tersebut.

The Last Cannibal World menceritakan tentang seseorang bernama Robert (Massimo Foschi) yang tengah mendarat darurat dihutan Mindano ketika tengah melakukan penerbangan bersama pilot, istri dan seorang temannya bernama Ralf menggunakan pesawat pribadi. Karena hari menjelang malam, maka penerbangan lanjutan terpaksa harus ditunda sampai esok hari, walaupun kini pesawat telah berhasil diperbaiki. Nasib naas menimpa istri robert. Ketika malam datang, dia diculik oleh beberapa suku kanibal dari hutan pedalaman. Maka keesokan paginya, diputuskan untuk mencari istri si Robert. Ketika tengah melakukan pencarian, si pilot tewas terkena jebakan hewan buatan suku kanibal. Dan antara Robert dengan Ralf pun juga terpisah ditengah dihutan belantara.

Malang bagi Robert, karena dia kini juga tertangkap oleh suku kanibal. Dimasa penangkapannya ini, Robert diperlakukan dengan kejam, bahkan tidak segan-segan para suku kanibal ini juga menyiksanya dengan hebat. Disinipun dia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana aksi para manusia kanibal ini menguliti buaya hidup-hidup untuk dijadikan santapan bersama, tidak itu saja, dia juga melihat adegan penyiksaan salah satu anggota suku yang kedapatan melanggar adat setempat dengan membiarkan tangannya digerogoti oleh banyak semut hingga menyisakan tulang saja.

Untung dalam masa penangkapannya ini, Robert mendapat simpati dari gadis pedalaman. Dengan berbekal kecerdikan, dia menggunakan gadis ini sebagai tameng serta penunjuk jalan untuk berusaha kabur dari kejaran para suku kanibal tersebut. Dan akhirnya, ditengah perjalan merekapun bertemu dengan Ralf, yang tadinya terpisah.

Dalam film ini, untuk level gore yang biasanya ditampilkan dalam film-film bertema sejenis, bisa saya katakan biasa saja, tidak terlalu over seperti di Cannibal Holocaust. Yang patut jadi perhatian saya adalah pada departemen special efeknya, acung dua jempol untuk mereka, karena bisa memberikan efek koyakan serta jeroan-jeroan tubuh manusia yang terburai secara mendetail sewaktu adegan santap bersama oleh para suku kanibal dimulai. Disini juga, kita akan bisa menimati beberapa footage, eksploitasi pembunuhan hewan, seperti ular sanca sedang memangsa komodo, adegan menguliti buaya, dan perlu diketahui juga, hewan-hewan bernasib naas yang ada difilm ini benar-benar bukan permainan efect melainkan hewan asli yag dijadikan properti sewaktu syuting.

Sedangkan untuk urusan akting para aktor maupun aktrisnya sendiri, saya tidak akan kasih nilai berlebih, karena apa? ketika anda menonton film ini, maka sama halnya anda sedang asik menonton pertunjukan wayang orang, dimana gimmick serta polah gerak mereka begitu kaku. Tapi diluar itu, saya salut dengan Masimo Foschi yang memerankan Robert dan Me Me Lay yang memerankan gadis primitif dari suku kanibal. Karena diparuh tengah sampai akhir film, kedua aktor aktris berperan tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Dan karena penampilan special si Me Me Lay ini, saya jadi antusias melahap film ini dengan suksesnya.

Last my virdict, bagi anda pecinta film eksploitasi bergenre kanibal, maka The Last Cannibal World aka Jungle Holocaust tidak boleh anda lewatkan. Saran dari saya, sewaktu menikmati film ini, jauhkan anak kecil atau anak yang belum cukup umur, karena disini kita akan benyak menemui adegan-adegan yang kurang pantas untuk dikonsumsi oleh mereka.
Oo..iya sekedar informasi tambahan, satu tahun setelahnya (1978) bangsa kita juga mencontek habis film ini dengan judul Primitif, dimana film tersebut dibintangi oleh aktor laga kala itu yakni Barry Prima dan sicantik Henny Maryono.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film