“kenapa kamu ngurusin urusan orang lain dijalan?!”

Posted on 12 January 2011

46


Sore kemarin (Selasa, 11/01/2011), selepas keluar dari pabrik tempat biasa saya mengais rejeki, seperti biasa, saya tunggangi Nyah Sexy (Vespa P100TS) menyusuri jalanan Solo-Jogja hingga berujung dipertigaan lampu merah Kartasura. 60 detik hampir berlalu, lampu merah akan beranjak berganti kuning, herannnn dech….ada apa dengan para bikers disekeliling kita, lampu traffic light juga belum berubah warna menjadi hijau, detik juga masih menunjuk keangka 5, tapi aksi ‘jump start layaknya balapan pasar senggol kerap terjadi…hmmm…memang saudara kita, sesama bikers roda dua dipengguna jalan punya bakat menjadi road racers sejati.

Selepas pertigaan tadi, kemudi Vespa saya arahkan ketimur, berganti menyusuri jalan Slamet Riyadi menuju arah kesalah satu pabrik garmen terbesar di eks karisidenan Surakarta, yakni Tyfountex. Disela perjalan, saya sempat mendongak keatas. “Hmmm…sebentar lagi hujan”, bisik dalam hati.

Benar saja, langit sore itu tertutup awam tebal, hembusan angin berbau hujan yang sebentar lagi segera turun tercium menyengat. Pengin rasanya ngebut agar segera sampai rumah tanpa berbasah-basah ria, tapi apa lacur, Nyah Sexy bukanlah FXR 150 apalagi CBR 150 yang mempunyai maksimum power dan torsi gila-gilaan. Dengan tenang dan kalem tetep saja saya panteng motor kesayangan dikecepatan 50kph, maklum jalanan sedang ramai-ramainya dengan pekerja pabrik garmen Tyfountex yang kebetulan juga sedang pulang menuju rumah masing-masing.

1 kilometer mendekati palang perlintasan kereta api daerah Makam Haji Solo, dari belakang tampak sepeda motor matik Vario Techno warna merah silver tengah ditunggangi oleh 5 jiwa, melibas Nyah Sexy dengan style mencuri racing line dari arah kiri lanjut menutup jalur secara mendadak diarah depan. “Sabar…sabar…mungkin sang pengemudi tadi sedang keburu sampai rumah akibat mendung gelap pertanda hujan besar akan turun.”, malaikat dalam hati saya berbisik halus ditelinga tuk meredakan emosi.

Menjelang 500 meter menuju palang perlintasan, hal yang tadi saya kawatirkan benar-benar terjadi. Hujan sudah tidak lagi malu-malu dalam menunjukan kuasanya. Rintik demi rintik, tetes demi tetes, buliran air dari langit terus berjatuhan menghujam bumi ini, bau basah tanah langsung menyeruat masuk kepembuluh hidung. Tidak mau kalah dengan sang hujan, sayapun tidak malu-malu jika harus lepas sepatu, cincing celana, masukan tas kedalam bagasi Nyah Sexy, dengan berganti busana mengenakan jazirah anti air seharga 75rb bergambar Gajah. Celingak-celinguk memperhatikan keadaan disekitar jalan, ternyata banyak saudara kita para bikers yang menuju pulang dari tempat kerja, lebih memilih berteduh diemper toko dari pada harus berhujan-hujan ria. Tapi tidak sedikit pula bikers nekat yang hanya mengandalkan kaos oblong atau jaket dekil, saling menguatkan diri menahan gempuran air hujan yang membasahi tubuh…ck…ck…ck..begitu kuatnya raga mereka.

Kembali Nyah Sexy saya pacu perlahan. Mendekati 10 meter palang perlintasan, terdengar sirene pertanda palang tengah tertutup. Tapi dari arah kanan maupun kiri belum terdengar suara bahwa kereta akan melintas. Dengan suasana air hujan yang turun berdebit sedang, dengan tenang pula saya tunggu sabar kedatangan si kereta dan berharap, “segeralah melintas cepat”. Sembari menunggu, mata saya menyapu kesegala arah…ehhhh…jarak 2 motor didepan Nyah Sexy, terpampang jelas Vario merah yang tadi hampir membuat saya dag-dig-dug dengan aksi gilanya. Disitu terlihat, satu skuter matik dinaiki oleh satu keluarga penuh dengan posisi, sang ayah sebagai pengemudi tengah mengenakan helm non SNI yang sudah longgar spoonnya, anak paling besar duduk didepan tanpa piranti keselamatan apapun, anak nomor dua dibelakang sang ayah dengan kondisi non keselamatan berkendara sama seperti anak pertama, dan sang ibu yang berwajah sayu tertutup helm warna hitam berstiker DMI, tengah duduk cemas dibelakang dengan posisi menggendong anak sulungnya. Hmmm…benar-benar gambaran sempurna kecerdikan keluarga akar rumput kebanyakan dinegeri ini dalam mengoptimalkan moda transportasi sebaik mungkin.

Tapi melihat kondisi didepan mata, malaikat dihati saya segera terbangun. Dan diapun terbang berputar untuk sesegera mungkin berbicara, atau mungkin berbisik halus, guna mengingatkan sang bapak tadi. Mengingatkan? iya mengingatkan?…. kenapa harus mengingatkan? jelas-jelas terlihat, dimana sang bapak hanya menggunakan jas hujan model ponco motif ARMY, dengan sang anak paling besar manahan dingin dibalik kaos merah basahnya yang bergambar Irwan Bachdim tengah tertawa. Tidak itu saja, anak keduanya, hanya tertutup sebagian oleh jas hujan sang ayah yang kini tubuhnya juga mulai basah terkena percikan air dari arah samping kanan maupun kiri, karena jas hujan yang seharusnya menutup sang ibu terpaksa dipakai untuk menutup sang anak bungsu yang juga tengah menangis, pertanda protes dengan udara dingin nan menyesakan karena asap tak terlihat dari motor-motor empat langkah yang katanya lebih ramah lingkungan sedang berhenti menunggu datangnya kereta melintas.

Dengan niat baik, kusampaikan beberapa kata kepada sang bapak pengendara Vario merah tadi, yang kira-kira begini bunyinya, “Pak, kasihan ibu dan anak-anaknya, apa tidak lebih baik berhenti berteduh dulu dari pada ada apa-apa dijalan. Mereka dan bapak tidak mengenakan perlengkapan berkendara dijalan dengan baik lho, lagi pula ini sedang hujan, kasihan sikecil”.

Mungkin perkataan saya barusan, bagi sang bapak tersebut, bagaikan petir ditengah hujan yang tiba-tiba turun sore itu. Dengan tatapan tidak bersahabat beliau melihat kearah saya. Tidak lama kemudian, “Kenapa kamu ngurusin urusan orang lain dijalan!!!”, begitulah kalimat pendek nan ketus yang sampai sekarang masih terngiang diotak saya.

“Kenapa kamu ngurusin orang lain dijalan”, kata-kata yang sangat menohok pemikiran saya, dimanakah akal sehat bapak itu? dimanakah rasa sayang terhadap jiwa-jiwa keluarganya?. Berkendara layaknya Cowboy Texas, yang menganggap jalan ini adalah Route 66 di Amerika sana, sehingga bikers bisa serobot jalur seenaknya karena jalan benar-benar bebas hambatan. Terkadang saya merasa seperti orang bodoh saat itu, ingin memberikan niat baik tapi malah terlihat kampungan bagi yang bersangkutan. Tapi ya sudahlah, memang terkadang benar adanya perkataan beliau, kenapa harus mengurusi urusan orang lain dijalan kalau yang bersangkutan sendiri belum tentu sepenuhnya benar dijalan.

Yeahhh…setidaknya pengalaman saya ini bisa diambil hikmahnya.

Demikian dari saya,

Salam.