Revenge Of The Ninja (1983)

Posted on 14 January 2011

10


Mungkin bagi para moviegoers yang pernah mengalami masa kecil ditahun 80’an hingga 90’an awal, sudah tidak asing lagi dengan action hero Ninja. Yaaaa….Ninja, seorang warrior hero khas Jepang dengan dandanan serba hitam layaknya Batman tanpa sayap dan sungut ini telah menyihir banyak anak kecil waktu itu untuk mengagumi sosoknya.

Tapi tahukah anda asal mula trend action hero seorang Ninja ini mulai dikenal anak-anak kecil?, khususnya dinegeri kita? Menurut saya pribadi, semua itu bersumber dari sebuah film yang berjudul Revenge Of The Ninja (1983). Film yang dibintangi oleh aktor legendaris berdarah Jepang Sho Kasogi. Lewat film ini, Sho Kasogi kemudian mempopulerkan latah Ninja diindustri perfilman Hollywood. Pada era 80’an terbilang sebagai masa emasnya trend Ninja figur. Banyak judul-judul film yang diberikan embel-embel Ninja, seperti contoh: American Ninja dengan Michael Dudikof dan David Bradley sebagai aktor ditiap franchisenya, Full Metal Ninja (Pierre Kirby), Nine Death Of The Ninja (Sho Kasogi), The Super Ninja (Alexander Rei), dan masih banyak lagi lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu😀.

Revenge Of The Ninja movie poster.

Sebelum booming Revenge Of The Ninja, Sho Kasogi, sebenarnya sudah terlebih dulu menancapkan imagenya sebagai aktor spesialis pemeran Shinobi (nama lain Ninja) dalam film berjudul Enter The Ninja pada tahun 1981 bersama Franco Nero (aktor specialis B-Movie Italia). Setelah sukses perdananya diranah industri perfilman Hollywood, banyak para imperialis perfilman mengajaknya untuk mempopulerkan aksi seorang Ninja dilayar lebar. Maka pada tahun 1983 sampai dengan 1994 lahirlah tonggak sejarah baru sebuah trend seorang action hero yang kemudian diikuti oleh berbagai macam film sejenis lainnya.

Dalam film ini, Sho Kasogi bermain dengan putranya yakni Kane Kasogi. Pasangan bapak anak ini benar-benar memperlihatkan  kualitas akting dalam urusan martial art. Gerakan-gerakan apik pertarungan tangan kosong maupun dengan senjata, kerap tumpah ruah disepanjang 90 menit durasi film. Tapi soal kualitas kemampuan melakoni adegan drama bagi para pemerannya, saya pribadi tidak menaruh ekspektasi tinggi, karena film ini memang didesign sebagai tipikal Action B-Movie nan chesse, film yang tidak terlalu menekan otak para pemirsanya agar bekerja serius dalam mencerna alur cerita.

Diceritakan, Cho Osaki (Sho Kasogi) seorang ayah yang harus kehilangan istri dan keluarganya karena habis dibantai oleh sekawanan Ninja di Jepang. Tapi untunglah dalam proses eksekusi tersebut, keluarga Cho ternyata ada yang masih selamat yakni Kane (Kane Kasogi) dan ibunya (Grace Oshita). Kini, pasca kejadian tersebut, ia harus mulai menata kembali kehidupan barunya dinegeri sebrang, lebih tepatnya di California Amerika Serikat. Berkat bantuan teman sekaligus mitra bisnisnya bernama Braden (Arthur Roberts), Cho berhasil membuka usaha galeri boneka yang didatangkan langsung dari Jepang, dan dalam merintis usaha tersebut, dia dibantu oleh asistennya Kathy (Ashley Ferrare).

Suatu ketika, tanpa sengaja Kane telah memecahkan salah satu boneka digalleri sang ayah. Kaget bercampur heran, ternyata boneka-boneka yang selama ini dipajang digalerinya telah diisi serbuk horoine oleh Braden beserta komplotannya. Cho kini berontak menentang sahabatnya tersebut. Merasa kedok busuknya telah terbongkar, maka Braden yang ternyata salah seorang dalang serta Ninja yang membunuh keluarga Cho di Jepang, berusaha untuk menutup jejak bisnis kotornya dengan menghalalkan segala cara.

Membunuh ibu Cho, menculik Kane beserta Kathy adalah langkah awal Braden dalam menjalankan misinya tersebut. Rasa amarah serta dendam kesumat, kini telah membakar hati Cho, seribu tanda tanya yang selalu menghantuinya tentang siapa dalang dibalik otak pembunuhan keluarganya kini telah terkuak. Dengan dibantu oleh rekan polisi yang bernama Dave (Keith Vitali), ia memburu Brade untuk menyelamatkan putra satu-satunya, beserta asisten yang diam-diam mencintainya. Lantas bagaimanakah akhir cerita film ini? Yeahhh…pastinya anda tahu jawabannya, dimana pihak jagoan pasti menang menumpas kejahatan😀.

Bagi saya pribadi, film ini termasuk kedalam list favorite movie yang bertemakan martial art, walaupun jadul, tapi dari segi hiburan, Revenge Of The Ninja bisa dihandalkan. Bahkan dalam menikmati film ini, kita tidak perlu was-was akan adanya adegan 17+ yang terlalu gore ataupun hardcore. Jadi bagi anda penikmat film martial art aliran softcore, tentunya tidak boleh melewatkan adegan demi adegan fighting dibeberapa slot durasi film yang nampak stylish.

Sho Kasogi sendiri, dalam film ini dia mampu menunjukan aura Ninjanya. Karena diluar dunia akting, Kasogi adalah martial artist yang menekuni bidang Ninjitsu. Maka tidak heran, jika kemampuan berkelahi dengan tangan kosong maupun menggunakan senjata, Kasogi adalah ahlinya. Setali tiga uang dengan sang ayah, Kane Kasogi juga bisa dibilang kecil-kecil cabe rawit, walaupun masih berusia belia dia mampu memamerkan kemampuan martial artnya yang nampak luar biasa didepan kamera.

Kane Kasogi & Sho Kasogi.

Last…my virdict, bagi anda penikmat B-Movie layaknya saya, Revenge Of The Ninja adalah guilty pleassure yang patut anda coba. Temukan nostalgia masa kecil dalam bermain ninja-ninjaan bersama rekan sebaya dulu sehabis menyaksikan film ini.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film