“Mas ohhh..ahhhh..a..aa..aaa..ada apa diluar sana?!”

Posted on 21 January 2011

30


Seperti pada hari minggu sebelumnya, pak Slamet nampak sebal terhadap rengekan putra kesayangannya. Adam adalah anak semata wayang yang baru duduk dibangku SMP kelas 1, seperti kebanyakan anak tunggal pada umumnya, dia selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orang tua, dan dalam hal ini sang ibu terlalu banyak mengamini segala apa yang dia minta. Walaupun dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, pasangan suami istri pak Slamet dan bu Harti yang berprofesi sebagai buruh tani ini selalu memprioritaskan kebutuhan si anak. Mungkin karena dari kecil sudah terlena dengan segala fasilitas yang ada, Adampun tumbuh dengan sifat manja.

Rengekan Adam untuk minta diajari serta didampingi belajar naik sepeda motor kian membuat telinga pak Slamet memerah. Ancaman tidak masuk sekolah maupun pergi dari rumah adalah senjata pamungkas yang efektif untuk meluluhkan sifat keras sang bapak. Dengan menggerutu karena harus menunda orderan membajak sawah milik tetangga desa, pak Slamet pun harus rela mendampingin sang anak belajar motor. Melihat kejadian bapak anak tersebut bu Harti yang semula pusing memikirkan panen cabainya yang gagal karena musim hujan berkepanjangan, kini hanya tersenyum simpul, dia berpikir, disalah satu sisi, dia merasa bangga bisa melihat perkembangan putranya dalam mengendarai sepeda motor telah mengalami perkembangan, tapi disisi lain, dia juga berpikir, kalau orderan membajak sawah ditunda, berarti berkuranglah pemasukan keuangan keluarga pada hari itu juga. Sangat dilematis memang.

Mendengar motor mulai distater, bu Harti teringat akan sesuatu. Sesuatu piranti keselamatan dijalan raya, ya helm, ternyata pak Slamet dan Adam lupa memakai helm. Sekonyong-konyong perempuan paruh baya tersebut berlari kedalam rumah sambil menggenggam dua buah helm untuk suami dan anak tercinta, tapi ketika sampai diluar, harapan bu Harti tuk menyerahkan alat keselamatan dijalan tersebut mulai sirna, seperti asap knalpot motor Yamaha jadul milik sang suami, yang perlahan tapi pasti juga mulai sirna ditelan kabut pagi. “Hati-hati dijalan ya pak, ya nak…”, harap bu Harti kepada dua orang yang dicintainya tersebut.

Raungan suara knalpot Yamaha Alfa II R milik pak Slamet, berteriak lantang memecah keheningan pagi di jalan-jalan kampung desa Banaran, Wonosari, Klaten. Suasana dingin dipagi itu tidak begitu terasa bagi Adam, wajah ceria anak baru gede berumur 12 tahun itu berbanding terbalik dengan sang ayah. Perasaan cemas, karena posisi membonceng sambil memantau gerak laju kemudi si anak yang kadang tak beraturan, membuatnya selalu mengumpat dalam hati, “dasar bocah semprul, dulu saja bapakmu baru bisa naik motor pas pendekatan sama ibumu, eeeee….ini baru kelas 1 SMP udah mulai bisa.”

***********************************

Sementara itu, 1 kilometer ditempat berbeda dengan lokasi yang masih sama. Udara dingin dipagi hari, karena semalam hujan telah mengguyur tanah desa Wonosari, Klaten dan sekitarnya. Membuat pasangan suami istri Rudi dan Santi yang baru 1 minggu kemarin merayakan pesta resepsi pernikahan, terbuai dengan hangatnya iklim surga duniawi. Seperti kebanyakan pengantin baru, aktivitas bercinta dipagi hari adalah hal ternikmat yang tak terkira bagi kedua insan dimabuk kepayang.

Suara rintihan Santi, wanita 25 tahun berkulit putih ini, kian membuat Rudi semakin menggila. Tiap cumbuan yang diberikan sang suami semakin membuatnya kian menggelinjang. Deru lenguhan nafas yang memburu dari bibir merona sang istri, membuat Rudi tak kuasa menahan konat yang kian berdenyut kencang.

“Sayang, aku masukin sekarang yach?”, bisik Rudi halus sambil tetap memainkan ujung jari sebelah tangannya dipangkal paha sang istri. Dengan tatapan mata teduh, Santi menjawab, “Belum waktunya sayang…aku masih pingin di….”. “Aauuchhhhhh…..”. Belum selesai Santi menyelesaikan jawaban, kembali jari-jari Rudi bermain diarea hangat sang istri. Lenguhan dan rintihan tanda nikmat kedua manusia beradu asmara kembali terdengar.

****************************************

“Awassss…!!”, kata pak Slamet seraya tangannya menepuk ringan pundak Adam. “Kalau sedang melintas perempatan, gas dikurangi, perseneling juga.” “Jalankan motor pelan sambil tengok kiri kanan dulu…ya?”, begitu kata-kata yang terucap dari mulut sang ayah kepada Adam. Si anakpun hanya manggut-manggut pertanda paham, walaupun tadi sempat kaget ketika akan menyebrang jalan perempatan, lewatlah tiga orang ibu-ibu pengayuh sepeda yang sedang berangkat menuju sawah tuk membantu para suami dalam menanam padi.

Memang, areal jalan dilewati oleh pasangan bapak anak, yang tengah belajar mengoperasikan sepeda motor ini adalah pedesaan. Hal ini diputuskan oleh pak Slamet dengan pertimbangan, akan lebih aman mengendarai motor dijalan pedesaan dari pada diperkampungan ataupun jalan raya. Tapi apakah keputusan pak Slamet tersebut benar adanya?

*****************************************

“Sayangggg….ahhhh”, kembali suara-suara manja Santi mendengung dikepala sang suami. Dengan postur badannya yang sigap, kini kedua tangan kekar Rudi yang berprofesi sebagai satuan pengamanan disalah satu bank swasta di Klaten, memegang kedua paha istrinya, dengan gerakan spontan, dibukalah lebar-lebar kedua pangkal paha Santi. Kedua mata Rudi tajam mengamati liang surgawi sang istri, warna merah merekah basah nan indah, membuat ‘botol kecap’nya tegak menantang. Kondisi jiwa rapuh penuh nafsu, segala akal sehat Rudipun telah tumpul, setumpul ujung tombaknya, yang kini siap menerjang karang….

Dan segera dalam hitungan detik….

GLODAKKKKK…!!!!!!!!!!!….BRAKKKKKKKK..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“Mas…ohhh…ahhh…a..aa..aaa..ada apa diluar sana?”, terdengar rintihan Santi berubah menjadi aneh, seaneh tatap Rudi kearah cendela kamar yang masih tertutup rapat. Posisi Rudi yang semula siap menghujamkan ‘botol kecapnya’ ke ‘kue apem’ sang istri, kini berubah drastis penuh kekagetan. Suara benda keras terjatuh didepan rumah mereka, yang kebetulan jarak antara kamar dengan jalan hanya selisih 2 meter terhalang pagar dan tembok, membuat nafsu duniawi pasutri ini sirna. Hilang berganti kaget dan penasaran. Ada apa gerangan diluar rumah mereka?

Tampak Adam meringis menahan sakit, kakinya yang terlihat kecil, berdarah tertimpa bodi motor. Pak Slamet yang semula menjadi komando di sadel belakang, kini berubah posisi mencium tanah. Tubuhnya yang terhuyung kekondisi sadar, kini bangkit menuju arah depan tiga jengkal. Kedua tangan pak Slamet mencoba mengangkat sepeda motor bebek Alfa keluaran tahun 1992 tersebut. Tapi apa daya, karena tadi terjatuh dengan posisi bahu munghujam tanah terlebih dulu, rasa sakit yang amat sangat mendera sendi-sendi tulang lengannya.

Dengan badan terhuyung lemah pak Slamet berusaha kembali mengangkat motor tersebut, rintihan sakit Adam, menambah semangat tuk mengesampingkan kondisi payah dirinya. Tapi dari belakang kemudian, datanglah Rudi yang dengan sigap membantu mendirikan motor dan menepikan disamping pagar rumahnya.

**********************************************

1 menit sebelum kejadian naas keempat manusia tersebut terjadi.

***********************************************

Yang namanya anak baru gede, begitu baru bisa mengendarai sepeda motor dengan agak lihai. Main tarik ulur gas adalah hal yang manusiawi, insting darah muda dalam menyikapi kondisi jalan yang memadai untuk memompa adrenalin, juga menghinggapi jiwa Adam. Walaupun sang ayah sudah mewanti-wanti untuk tetap pelan, karena kondisi jalan dipedesaan yang hanya dicor semen kasar, akan berakibat licin jika terkena guyuran hujan semalam.

Sewaktu melintasi jalan desa Banaran yang masih sepi, Adam terlihat asik membetot gas, tanpa disadari, jalan samping pertigaan rumah Rudi yang kebetulan mepet dengan lahan kosong, keluarlah segerombolan bebek yang pagi itu mulai dibiarkan berlarian mencari makan menuju sawah terdekat oleh si penggembala. Akibat gugup dan kaget karena teriakan ‘AWAS BEBEK !!!!!’ dari pak Slamet, Adam pun hilang konsentrasi, keinginan untuk mengurangi bukaan gas malah berbuah petaka, motor yang dipakai latihanpun juga motor lawas, piranti keselamatan berupa rem hanyalah mengandalkan bagian belakang saja. Maka tak pelak lagi, dengan sukses ketika posisi motor berada dalam kecepatan 50 kph, kemudian direm secara mendadak dengan kekuatan 100% rem belakang, plus ditunjang oleh lincinnya kondisi permukaan jalan. Ban belakang terkunci, selip, dan kecelakaan didepan rumah Rudipun tidak bisa dihindari. Naas bagi mereka semua dipagi tersebut, impian indah masing-masing raga kandas, hanya gara-gara bebek melintas cepat, secepat Adam terpeleset dari motor bebek sang bapak.😦