Dream Home (2010)

Posted on 22 January 2011

9


Sebenarnya dapat download’an film ini sudah hampir satu bulan yang lalu, tapi karena kesibukan kerja dan rutinitas sebagai ayah rumah tangga, akhirnya acara nontonpun harus ter’delay hingga kemarin malam. Tapi tidak apalah, yang penting waktu panjang dimana rasa penasaran saya terus menggelora akan film buatan Hongkong ini, bisa terlunasi secara sempurna tadi malam.

Dream Home movie poster.

Dream Home, bagi sebagian orang, mungkin judul film tersebut dinilai terlalu santun. Tapi jangan salah, ketika anda memulai memainkan media player dvd via portable atau komputer, nilai santun tersebut akan berubah 180 derajad menjadi scary. Film yang mengambil genre Slasher adalah santapan favorit bagi kalangan ‘sakit’, bagaimana tidak? luberan darah, potongan anggota tubuh, dan buraian jeroan tubuh manusia adalah menu spesial bagi mereka. Teriakan parau penuh rasa sakit, mual menahan nyeri, serta sesak napas menjelang kematian bagi sang korban, merupakan tawa riang bagi sang pro maupun antagonis dalam film sejenis. Yuppp…i love this movie😀.

Cheng Li Sheung (Jossie Ho) adalah seorang wanita yang terlahir dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Masa kecil yang kurang bersahabat layaknya anak-anak kebanyakan disana, merupakan hal biasa dimana dia harus menerima secara iklas. Tinggal dihunian sempit, dibalik remang cahaya matahari yang lamban masuk adalah keseharian yang kini membuatnya ingin menggapai obsesi. Obsesi dari seorang wanita rapuh jiwa serta psikologis, dimana menginginkan sebuah apertemen dibalik terangnya kemilau mentari serta indahnya pemandangan pelabuhan Victoria Bay Hongkong, adalah keinginan terkuat dalam hidupnya saat ini.

Berbeda dengan masyarakat kelas elit yang dengan mudahnya mendapatkan apartemen impian, Li-shieung harus bekerja keras demi impian tercipta. Karena ketekunan dengan ‘menghalalkan segala cara, sedikit demi sedikit uang telah terkumpul dari hasil peras keringatnya. Tetapi, ketika selangkah menuju rumah impian akan tercapai, badai cobaan datang menghampiri, sang ayah jatuh sakit, dan ini harus membutuhkan dana pengobatan ekstra, tidak itu saja, diceritakan waktu itu kondisi ekonomi disana sedang labil, banyak harga saham kian melonjak tinggi yang tentu saja berimbas pada membumbungnya nilai beli apartemen idaman.

Rasa kecewa, marah, serta ingin memiliki, telah membuat kondisi jiwa dan psikologisnya terpukul. Bak kerasukan setan laknat dari neraka, merubah peringai sisi manis Li-shieung menjadi buas. Buas layaknya monster yang siap mencabik daging mangsanya, dan merekuh regang jiwa yang dimangsa. Didasari rasa kuat ingin memiliki rumah idaman, kini, segala akal sehat Li-shieung telah terbutakan. Membunuh semua penghuni apertemen impian, kemudian membuang mayatnya hingga tak berbekas adalah ide gila yang siap direalisasikan. Dengan harapan penuh tekad bulat, mengganti posisi semua mayat pemilik apartemen incaran dengan keluarga tercinta, adalah logika yang harus teramini dalam misinya.

Chen Li Shieung yang diperankan oleh Jossie Ho.

Lantas apakah Li-shieung berhasil menjalankan impian untuk memperoleh rumah idamannya tersebut? Yeahhh…tonton saja sendiri filmnya, dijamin bagi anda yang bernyali kecil, akan dibuat muntah ditempat dengan sajian eksklusif bergalon-galon banjir darah, berkilo-kilo buraian serta potongan tubuh korban Li-shiung, disepanjang film yang berdurasi hampir 100 menit tersebut.

Bagi saya pribadi, sajian gore yang divisualkan secara indah layaknya pemandangan sunset di Victoria Bay oleh sutradara Pang Ho Chueng dari kacamata Li-shieung, sudah terasa pas dan tidak berlebihan. Acung jempol buat divisi special effect, dimana mereka bisa memberikan efek realistis berupa potongan tubuh, buraian isi jeroan tubuh maupun berbagai pernik menjijikkan selama film ini dibuat. Sisipan adegan drama, serta adegan termehek-mehek khas film mandirin tak lupa diselipkan untuk menetralisir adrenaline penonton yang tiap menit terus memuncak, akibat aksi sinting sang pelakon utama. Storyline yang sudah baik, tidak bisa saya pungkiri dapat diperoleh difilm bertema *CAT 3 ini, dimana unsur cerita hanyalah nomor sekian dibanding adegan penyiksaan korban yang selalu mendapat porsi utama.

Dalam film ini, jika anda bisa mengambil makna dari benang merah yang telah terjabarkan, sebenarnya si sutradara ingin memberi sentilan sosial bagi masyarakat di kota Hongkong, layaknya di negeri kita, kesenjangan realita hidup begitu kentara disana. Yang miskin merasa semakin miskin dan yang kaya seolah tutup mata dengan kondisi dilingkungan bawah. Menakjubkan, merupakan satu kata yang terlontar dari mulut saya, dengan tidak meninggalkan isu sosial, Dream Home memberikan sajian merah darah pada film yang terbit di tahun 2010 kemarin.

O…iya…disalah satu scene film, kita akan mendapati adegan dimana korban mati dari keganasan Li-shieung merupakan TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia yang tengah mengais rejeki di Hongkong. Perlu anda ketahui, aktris pemeran TKW tersebut benar-benar TKW dari Indonesia yang sedang bekerja disana. Untuk memperjelas pembuktiannya, sempatkan diri menyaksikan credit title name para aktor aktrisnya, maka disitu akan tertera nama Dewi Ariyanti. Yang membuat saya tidak habis pikir, baik difilm maupun didunia nyata, yang namanya Tenaga Kerja dari Indonesia, pastilah tidak sedikit mendapat perlakuan kurang manusiawi dalam memperjuangkan kondisi sebagai salah satu aset penyumbang terbanyak devisa bangsa.

Last my virdict…bagi anda penyuka Horor Slasher berkualitas dengan level gore mendekati realistis, Dream Home jangan sampai anda lewatkan. Siapkan mental dan sedikit tawa karena disela adegan berdarahpun dark comedy akan meluncur untuk mengurangi rasa mual akibat melihat banyak genangan darah dari perbuatan Li-shieung terhadap semua korbannya. Dan peringatan keras, jangan pernah mempertontankan film ini kepada anak dibawah umur.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film