Commando (1985)

Posted on 28 January 2011

5


Andai saya disuruh menilai antara serial televisi Mr. Bean dengan film aksi tahun 80’an berjudul Commando, lebih lucu manakah diantara kedua film tersebut? Maka dengan sangat jelas, saya akan memilih Commando. Nah lho…koq bisa? bisa donk, jika kita memakai kacamata penilaian ditahun sekarang, film tersebut akan terlihat konyol yang hanya akan membuat penontonnya terbahak dengan segala aksi sinting sang jagoan. Tapi hal tersebut tidak akan berlaku, jika anda para moviegoers mengalami masa remaja diera 80’an. Tahun 80’an adalah masa dimana film-film bertemakan one men army mengalami kejayaan. Banyak aktor berorotot mendapat aplause penonton dilayar lebar, contoh saja: Stallone dengan franchise Rambo’nya, Dolph Lundgren dengan Red Scorpion, Kurt Russel dengan Escape From New York, dan tentu saja Schwarzenegger dengan Commando.

Ya…Commando, bahkan tidak berlebihan jika saya menobatkan film ini sebagai God Of B-Movie All Of Time. Film keluaran tahun 1985 ini, tentu saja banyak memberikan efek roller coaster bagi para penikmatnya. Adrenaline dan riuh mulut penuh sorakan para penonton akan tumpah ruah sewaktu John Matrix ( Arnold Schwarzenegger ) menghabisi 1 batalion penuh pasukan bersenjata seorang diri. Yeahhh…seorang diri, bukan hal yang mustahil jika film ini memang dimasukan kejajaran film konyol diwaktu sekarang. Bisa dibayangkan menggunakan akal sehat, apakah seorang super heropun bisa menghabisi pasukan bersenjata yang jumlahnya diatas 100 orang?. Ahhh…sebaiknya tidak usah dibahas, untuk menikmati film-film keren tempo dulu, semacam Commando, saran saya adalah…left your brain at cupboard, just sit down, relax, and enjoy your movies😀.

Dari segi cerita, film ini memang tidak dibuat rumit layaknya Inception’nya Leonardo D’caprio. Tema search, rescue, and destroy all enemies adalah menu wajib film action waktu itu. Ringan, cheesy dan mudah diterima masyarakat banyak, adalah formula ampuh yang harus ada bagi film berteme sejenis.

Setelah berhenti dari tugas militernya, John Matrix kini mencoba hidup damai dengan putri semata wayang Jenny (Alyssa Milano). Tapi kedamaian yang berusaha dibangun oleh John, tiba-tiba harus terusik. Tersiar kabar bahwa, semua orang yang dulu pernah bertugas dengannya telah tewas karena ulah seseorang. Hanya tinggal menunggu waktu, giliran John serta putrinya untuk mendapat nasib buruk layaknya semua teman yang telah tewas terbunuh. Walaupun sudah mendapat pengawalan ketat dari mantan atasannya yang masih aktif didinas militer, ternyata hal tersebut bukanlah garansi akan keselamatan dirinya. Jenny diculik kemudian disandra dalam suatu insiden, oleh orang yang ternyata juga membunuh teman satu teamnya dulu. Syarat agar sang putri bisa bebas, Matrix harus melakukan kudeta disuatu negara sesuai dengan perintah sang gembong penjahat. Sesaat menjelang penerbangan menuju aksi kudeta, dia bisa meloloskan diri dan berganti memburu orang-orang yang telah menculik putri kesayanganya. Akankah ‘Mr. Muscle’ tersebut bisa membebaskan Jenny putri kesayangannya? ahhh…saya kira tidak perlu dijawabpun anda sudah tahu tebakan saya😀.

Banyak sekali plot hole disana sini akan film ini, tapi jangan khawatirkan hal tersebut, jika anda memang pecinta sejati B-Movies layaknya saya, maka semua itu bisa tersamarkan dengan aksi heroik sang jagoan dan adegan penuh destroying maupun eksplosif disana-sini yang membuat mata anda terbuai untuk melupakan semua kekurangan difilm ini.


Pemasangan Arnold Schwarzenegger sebagai aktor yang mempunyai ekspresi wajah one linear show disepanjang film, sangatlah tepat. Karena ini bukan film drama, ini adalah one stop action movie dari menit awal sampai penghujung film. Jadi peran semua aktor pendukung untuk urusan lakon dramatisasi itu merupakan urusan yang tidak penting. Siapa sich yang mementingkan urusan akting jika sudah ngomong film seperti ini? Apakah jika anda melihat The Expendables’nya Stallone beberapa waktu lalu juga menginginkan suguhan gimmick drama dari para aktor pemainnya? Saya kira tidak, hanya unsur fun dan seru yang kita cari untuk menikmati film semacam ini.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film