Sepenggal cerita dari Kawasaki Leo dan Leo Star 120

Posted on 31 January 2011

35


Kalau membicarakan motor-motor eksotis 2 stroke versi cub, kita sebagai penyayang motor-motor ‘rare‘ cuman bisa merasa iri. Lho koq bisa? Ya iyalah jika dibandingkan dengan negera tetangga semisal Thailand ataupun Philipina, perkembangan trend serta produksi motor cub versi speed holic sangat jauh tertinggal. Ada apa gerangan dengan para pemegang hak lisensi prodak dagang industri sepeda motor ditanah air? Kenapa mereka enggan memasukan motor-motor idaman para kawula muda waktu itu, dengan dibanderol agak segmentedpun, saya kira, jika yang mengedarkan adalah ATPM ternama, barang-barang tersebut bisa terserap pasar dengan baik. Asal ditopang dengan layanan kualitas 3S yang sudah menjadi trade mark tiap-tiap pabrikan tentunya.

Kalau membicarakan motor eksotis 2 stroke versi cub. Dalam blog gemblung ini sudah banyak yang terulas, misalkan belum, itupun hanya motor-motor yang benar-benar langka. Layaknya Kawasaki Leo dan Leo Star.

Kawasaki Leo.

Kawasaki Leo. Motor buatan pabrikan Kawasaki Thailand dan Philipina. Dengan menganut konsep design ayam jago (ayago), memberikan kesan dibenak konsumen waktu itu, bahwa ini adalah motor kencang. Ya…memang motor ini termasuk kejajaran motor terkencang dikelasnya. Dengan mengandalkan teknologi mesin 2 langkah, seolah menyiratkan pesan kepara maniak kecepatan bahwa, “hoi…dengan bekal mesin 120cc, aku sudah bisa lari di top speed 160kph!!!, tapi jika kalian kurang puas, silahkan korek aku dengan mudah dan cepat, beda dengan motor-motor 4 langkah!!!”. Hal tersebut terkesan intimidatif sekali tentunya, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Soal korek mesin, harus kita akui bahwa motor 2 tak lebih mudah dalam segala hal dibanding 4 langkah.

Motor yang dilahirkan pada tahun 1995 ini, menggendong kubikasi mesin 118.6cc dengan mengandalkan pendingin mesin berupa hembusan udara, walaupun begitu, para speed lover jangan khawatir akan overheat jika motor digeber habis, karena para insinyur pabrikan tentunya sudah memperhitungkan segalanya demi kesempurnaan produk ini. Walaupun mempunyai model timpang, tetapi bagi saya masih memberikan kesan sexy koq. Lahhh…maksudnya apa nich dengan model timpang? Coba saja dilihat dari depan, andapun pasti setuju akan dual shock teleskopik yang membantu kestabilan handling si rider. Tapi jika menengok kearea belakang, koq rasa-rasanya jadi aneh, motor sport cub dengan dual shock stereo yang menghiasi motor ini jadi agak membanting tampangnya kearah cub pasaran.

Tenang dulu, walaupun area buritan terlihat pasaran, jangan samakan maksimum power yang dihasilkannya. Dengan diaplikasikannya 6 percepatan, mempunyai horsepower 17.2 ps @ 8.500rpm, serta rasio kompresi 7.3 : 1, bukanlah cub yang bisa dianggap remeh dijalan raya. Untuk menunjang pengkabutan bahan bakar ber oktan tinggi, sudah disiapkan karburator Mikuni ukuran XL yakni 22mm. Lantas dengan ukuran karbu yang gembot bisa dipastikan konsumsi bahan bakar akan boros donk? ahhh…tidak juga, bahan bakar yang tertampung ditangki berkapasitas 4.3Lt, hanya membutuhkan 1Lt untuk menempuh 30Km. Hmmm…kalau begitu masih masuk akal bukan untuk dipakai harian?

Menuju kesektor roda, Leo ini juga mengaplikasikan roda timpang. Apa lagi itu? penggunakan diameter roda yang berbeda antara depan dan belakang. Layaknya motor sport era 80’an di Jepang, pemakaian roda 18″ adalah hukum wajib. Maka dimotor ini, roda belakang yang dipakainyapun mempunyai ukuran 18″/90-90, sedangkan depan berukuran 17″/90-80. Demi pemenuhan piranti keselamatan dijalan, kedua roda depan belakangnya sudah ditemploki sistem pengereman disk brake.

Mamasuki tahun 2003, Kawasaki Leo diberhentikan dengan hormat proses produksi serta penjualannya. Sebagai bentuk tanggung jawab akan pemenuhan reaksi pasar yang mengingankan tampilan motor ini lebih futuristis. Maka dibidanilah reborn Kawasaki Leo menjadi Leo Star.

Masih mengusung basis mesin yang sama dengan sang kakak, serta konsep ayago yang diminati banyak konsumen. Leo Star memberikan wajah baru bagi para pecintanya. Segala model yang terkesan kurang sporti dibadan sang kakak seperti pemakaian dual shock stereo pada swing arm belakang dan model area buritan yang terkesan kaku. Kini telah diperbaiki oleh para designer pabrikan Kawasaki disana. Last…hasilnya memang benar-benar sesuai dengan ekspetasi para penggilanya. Cool, macho dan sporti seperti yang anda lihat sendiri pada gambar dibawah.

Kawasaki Leo Star.

Dan perlu diketahui juga, semasa kejayaanya dulu. Kawasaki Thailand pernah bekerjama dengan pihak pabrikan pembuatan part racing kenamaan asal Jepang yakni PDK dan Tsukigi, guna memproduksi Leo SR X. Dengan embel-embel nama SR X, motor hasil kolaborasi dua pabrikan ternama tersebut dijual diatas harga rata-rata motor standar yang ada. Penambahan nominal harga pada barang special edition bukan tanpa sebab, tercatat beberapa part racing nemplok ditubuh motor ini. Sebut saja: blok silinder Gold PDK, stering dumper pada kemudi depan, knapot racing Tsukigi, dan beberapa part lainnya. Tetapi setelah diluncurkan produk facelift berupa Leo Star, pihak pabrikan PDK undur diri dalam kerjasama pembuatan motor Special Edition, kini tinggal pabrikan panghasil knalpot racing saja yakni Tsukigi yang masih berlanjut meneruskan hingga Leo Star tutup buku. Maka tidak heran, Kawasaki Leo Star hadir bak banteng yang terkebiri keperkasaannya, cuman mengandalkan horsepower 17 @ 8.000rpm serta manisnya tampilan fisik, produk ini tetap bertahan layaknya sang jagoan lemah syahwat. Hingga pada akhirnya diakhir tahun 2005 dengan berbangga hati, Kawasaki Leo Star harus benar-benar tutup buku dalam peredarannya.

Kawasaki Leo SRX

Demikian dari saya,

Terima kasih.

***********************************************
Lagi-lagi motor yang eksotis seperti mbak yang satu ini.