Bloodsport (1988)

Posted on 11 February 2011

23


Para moviegoers, siapa sih yang tidak kenal dengan aktor berjuluk The Muscle From Brussel ini? yup…nama aslinya adalah Jean Claude Camille Francois Van Varenbergh atau lebih ngetop dipaggil Van Damme, yang kemudian beradu nasib di Hollywood, tenar sebagai bintang film action martial art special genry B-Movie.

Semenjak melihat aksi perdananya beradu akting dengan Sho Kasogi difilm The Black Eagle (1988) sewaktu masih duduk dibangku Sekolah Dasar kelas 4 via kaset video betamax koleksi almarhum babe. Saya merasa, wah ni vilain pasti akan jadi lebih cool kalau diberikan peran sebagai sang jagoan. Benar saja, kalau tidak salah selang 2 bulan kemudian, alm. babe saya membeli sebuah film video format kaset betamax dengan judul Bloodsport (1988). Whoaaaa…Van Damme yang semula mejadi lakon antagonis kini berubah menjadi jagoan silat yang selalu memberikan signature smash kepada lawannya berupa spinning kick 180 derajad. Yup…Bloodsport salah satu judul film yang telah membuat Dnugros kecil menjadi pecandu ‘sinema sampah’ (baca B-Movie) sejati hingga sekarang.

Dijamannya, film ini menjelma menjadi sebuah ikon baru diindustri perfilman Hollywood dengan mengambil genre action kumite martial art. Hal tersebut bisa dilihat era 90’an lampau, banyak bioskop yang menayangkan film bertema sejenis. Sebut saja: Best Of The Best (Philip Rhee), American Kickboxer 1 (John Barret), Blood Fist (Don Wilson), Shoot Fighter (Bolo Yeung), Kickboxer (Van Damme), dan masih banyak lagi lainnya. Pasti bagi moviegoers yang pernah mengalami masa ABG diera 90’an, film-film tersebut tidaklah asing ditelinga anda.

Tapi sayang, sang aktor idola saya (Van Damme) tersebut kini karirnya telah terpuruk seiring dengan bertambah tua usianya, bahkan film-filmnyapun kebanyakan terjerembab masuk keranah dunia film DTV (Direct To Video). Banyak judul mulai dari Wake Of Death (2004) sampai dengan The Eagle Path (2010) masuk kedaftar rak video rumahan yang dijual diberbagai toko CD/DVD film serta musik. Dan yang membuat saya kecewa akan dia adalah, sewaktu diajak oleh Stallone untuk membintangi film The Expendables tahun kemarin, dengan terang-terangan Mr. Bloodsport menolaknya dan lebih memilih fokus dalam pembuatan Universal Soldiers Regeneration yang hasil akhirnya floop dipasaran juga. But…mungkin mendengar kesuksesan The Expandables ditahun kemarin, terlihat sinyalemen bahwa dia akan bergabung dengan Stallone and the gank dalam sekuel film tersebut. Ok dehhh mari kita tunggu saja filmnya ditahun 2012 nanti.😀



Ok sekarang kita kembali lagi ke topik film ini.

Bloodsport sendiri merupakan film yang terinspirasi oleh kisah nyata Frank Dux, seorang Karateka yang berhasil memenangkan sebuah Kumite (pertandingan bebas) disuatu event kejuaraan martial art dalam waktu singkat. Sama halnya dengan kisah nyata Frank Dux tersebut, film ini juga menceritakan tentang pertandingan Kumite kelas dunia yang diadakan di Hongkong. Van Damme sebagai seorang Frank Dux, dia datang mengikuti turnamen dengan membawa misi untuk memperbaiki nama baik ‘Shidosi’nya (semacam guru), Mr. Tanaka. Disana dia bertemu dengan seorang kawan bernama Ray Jackson (Donald Gibb) yang nantinya juga membawa emosi tersendiri bagi Dux untuk tampil lebih berangasan sewaktu bertarung melawan musuh terberat yakni Chong Li (Bolo Yeung). Yeah…tipikal film B-Movies kebanyakan, kehadiran seorang wanita sebagai love interest sang jagoan adalah menu wajib yang harus ada didaftar sajian utama. Kehadiran Janice (Leah Ayres) seorang wartawati yang tengah memburu berita tentang sisi gelap acara Kumite, adalah pesona tersendiri bagi film yang kebanyakan diisi oleh para ‘Mr.Testoteron’.

Cerita dari film sejenis memang urusan nomor sekian, karena fight sequence adalah sajian yang harus diutamakan. Bloodsport’pun juga sama halnya dengan seperti yang telah saya tulis, cerita difilm ini sangat tidak penting. Karena diawal film saja kita sudah diajak bertemu dengan para kontesten dari belahan dunia yang akan mengikuti turname. Masuk kebagian tengah film, bumbu drama tidak penting serta sex scene sebagai penarik minat kaum adam agar berkunjung kebioskop, merupakan pelengkap yang minimal harus ada ditiap adegan. Dan dibagian akhir, seperti kebanyakan anda tahu, seorang jagoan pastilah akan mengalami kekalahan terlebih dulu sebelum merebut kemenangan yang pada akhirnya akan membuat riuh seisi bioskop dengan suara tepuk tangan dari para penonton akibat aksi hebat terakhirnya.

Yeahhh…menikmati Bloodsport merupakan guilty pleasure, jika melihat akting dari para pemain, udahlahhh…tidak usah dinilai, ini khan bukan film sekelas oscar yang mengharuskan para aktor aktrisnya melakukan penghayatan peran demi kesempurnaan cerita. Jalan cerita yang dibuat cheesy, iringan musik yang memicu adrenaline penonton naik, serta adegan bak-bik-buk nan apik adalah pelengkap sempurna untuk sajian semacam ini. So…bagi anda yang ingin bernostalgia akan masa keemasan Van Damme diera 80’an akhir sampai dengan 90’an, Bloodsport sangat saya rekomendasikan untuk menemani anda berakhir pekan dirumah.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film