“saya takut dosa mas kalau menolak permintaan orang tua…”

Posted on 12 February 2011

18


Ibu, “Pokoknya sebelum kamu ambil kredit motor baru, ibu minta dibelikan meja kursi dulu, lihat keruang tamu, lebih pantas ambil motor baru atau kursi baru?!”.
Anak, “Tapi bu, saya khan malu tiap hari berangkat pulang kerja cuma naik angkutan umum.”
Ibu, “Ooo…begitu ya? jawaban kamu atas perlakuan ibumu selama ini, ingat!, siapa yang melahirkan kamu?, ingat!, siapa yang membesarkan kamu?, dan ingat!, siapa yang membiayayai sekolah kamu sampai kamu jadi seperti ini?”.
Kira-kira begitulah kata-kata yang ditirukan Nyi Nugros kepada saya akan sebuah percakapan ibu anak tetangga belakang rumah yang kebetulan beda RT. Disitu nampak jelas bahwasannya sang ibu menginginkan ‘rewards’ akan buah kasih sayang dalam membesarkan putri sulungnya, hingga sekarang menjadi seorang gadis dewasa, yang kebetulan berprofesi sebagai kasir sebuah department store dikota Solo.

Menurut anda, apakah ada yang salah akan perbincangan kedua manusia ini? Tentu tidak, bahkan menjadi hal yang lumrah jika anda tinggal disuatu lingkungan kampung layaknya saya. Pembicaraan biasa yang berakhir debat, siapa yang benar dan siapa yang salah adalah menu sehari-hari bagi masyarakat kelas bawah, masyarakat praktis, masyarakat yang hanya mengandalkan pola pikir ‘sebab-akibat’.

Tapi jika saya menelisik lebih jauh akan kata-kata sang ‘bunda’ kepada buah hatinya, oh my god…bagaikan seorang diktator berselimut sutera kata-kata yang terucap dari bibir manisnya. Yang kemudian membuat saya dan nyi nugros berfikir seribu kali sebelum menyimpulkan satu pemikiran, “Hey mom, what are you doing?!, are you eat your dughter!”. Disini saya menganggap bahwa orang tua tersebut sangat ‘reward oriented’ dalam membesarkan buah kasih dari pasangan sehidup. Dan yang saya takutkan adalah, bisa-bisa beliau sebagai orang tua menjadi “pembunuh nomor satu impian seorang anak!”.

Perlu anda ketahui ‘hei para orang tua!’, demi menyenangkan hati kalian, terkadang seorang anak harus rela mengubur dalam-dalam keinginan/ mimpi atau cita-cita yang mereka anggap sangat penting dalam hidupnya. Saya dan istri sempat berfikir, hingga saat ini dan saya yakin betul. Banyak anak-anak yang tidak berani membantah atau berargumentasi kepada ‘kalian’ (orang tua). Dengan embel-embel dogma ‘durhaka’ jika tidak mengamini keinginan yang dianggap mulia. ‘Mereka’ (anak-anak) secara tidak langsung telah terdidik menjadi pribadi ‘PENAKUT’.

Penakut dalam hal ini saya artikan takut menjadi yang terbaik sesuai dengan kapasitas dirinya, adalah modal terburuk jika sudah mulai menancap di’mindset’ anak-anak anda. Tanya kenapa? Yeah…mereka akan tumbuh dengan sifat tidak yakin akan suatu pilihan hidup. Pola pikir mereka telah meng’absorb’ berbagai bentuk ketakutan akan pilihan mereka sendiri, takut salahlah, takut jeleklah, takut buruklah, dan yang paling ekstrim takut pilihan tersebut tidak baik akan masa depannya. Glodak!!!!!

Ini hanya sebagai contoh saja. Kadang saya menemui perkataan anak-anak yang ‘super’ menuruti kemauan orang tuanya, “Mas, sebenarnya saya pingin melanjutkan kuliah yang mengambil disiplin ilmu komputer, tapi apa boleh buat, jika tidak mau masuk kejurusan hukum, orang tua saya tidak akan memberikan dana buat kuliah. Ya udahlah dari pada tidak kuliah sama sekali, mending diambil aja tho, dari pada nanti juga kalau menolak permintaan orang tua malah nambah ‘DOSA’.”

Aarrrghhhhh!!!!!….Dosa?!, apakah dengan tidak mengamini permintaan orang tua akan menambah dosa? A come on boys?!

So sadness, jika melihat realita kehidupan antara orang tua dengan anak seperti itu.

Dan ada lagi contoh sebab akibat yang lain perihal ‘dosa’ jika menolak permintaan orang tua. “Apa kata ayah!, sudah dikasih tahu kalau beli motor itu merk Honda, jangan yang merk lain. Sekarang ngeluh boros, spare part tidak ada yang imitasi, semua-muanya mahal. Sukurin kamu!, itulah akibatnya jika dikasih tahu orang tua tidak pernah didengarkan!”.

Oh my godness, tipikal orang tua macam apa ini? bisanya malah menyalahkan anak akibat keliru dalam mengambil keputusan. Tahukah anda akan akibat hal semacam ini? Bukankah sebagai orang tua seharusnya menjadi motivator handal jika anak sedang mengalami ‘drop’ situasi, bukankah orang tua seharunya menjadi guru yang bijak jika anak salah langkah, dan bukankah orang tua seharusnya menjadi supporter nomor satu jika anak sedang dalam ‘high position’.

Yeahhh…ini hanyalah omong kosong belaka tentang ‘relation’ anak dan orang tua yang kurang terdengar ‘klik!’. Jika anda menganggap celoteh saya ini salah…ya udahlah…forgeted!!, mungkin anda adalah tipe orang tua yang haus akan otorisasi dan tidak pernah melihat dari sudut pandang si anak, bagaimana dia melihat anda bagaikan ‘monster’ yang harus ditakuti keinginannya. Tapi jika anda adalah tipe orang tua yang ‘wise’ terhadap pendapat anak…good job  dan lanjutkan!

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini