The Crow (1994)

Posted on 18 February 2011

15


Film hasil adaptasi dari komik karangan James O’barr mulai terbit tahun 1989 melalui publisher Caliber Comics, merupakan film pembawa petaka bagi aktor muda berbakat waktu itu yang membawakan tokoh sentral Eric Draven. Ya!…Brandon Lee, putra dari mendiang Bruce Lee yang sama-sama mati muda sebelum menyelesaikan film garapannya. Difilm ini, Brandon Lee meninggal karena tubuhnya tertembus timah panas dalam salah satu adegan. Setelah dilakukan analisis dari team ahli, ternyata peluru yang digunakan untuk menembak adalah asli dan bukan peluru properti seperti kebanyakan dipakai dalam set film. Sungguh disayangkan memang, actor star favorit Dnugros kecil dulu meninggal diusia muda (28 th).

Jika melihat diskografi dari deretan film yang dihasilkan, Brandon Lee bisa dikatakan sebagai the next martial artist from Hollywood. Tengok saja film-film yang diperankannya, pastilah tidak jauh dari sisipan unsur adegan martial art, seperti: Lasser Mission (1989), Showdown In Little Tokyo (1991) merupakan hasil duet aksi bareng dengan Dolph Lundgren, Rapid Fire (1992), dan yang terakhir adalah The Crow (1994) ini sendiri. Tapi ya itu tadi, takdir telah menghendakinya untuk menuai ketenaran disaat maut menjemput diusia muda. Mungkinkah garis hidup sang ayah (Bruce Lee) menular ke sang anak? ah…siapa yang mau tahu!

Sedangkan sang sutradara dari film ini, bagi Dnugros tidaklah terlalu asing. Karena film-film yang pernah dibuatnya juga selalu mendapat tempat dihati saya. Alex Proyas, sutradara kelahiran Mesir ini telah menelorkan berbagai film yang lumayan mendapat apresiasi dari banyak moviegoers. Sebut saja, Dark City (1998) film bagus yang menurut saya pribadi terlalu ‘dark’, I Robot (2004), film yang lumayan sukses dipasaran dengan bintang Will Smith, dan terakhir Knowing (2009), film yang diperani Nicolas Cage, bercerita mengenai akhir dunia dengan dibumbui adegan misteri religius. Dan bagi saya, The Crow adalah awal pembuka jalan karir terbaiknya dibidang penyutradaraan film komersil layar lebar, karena sebelum mengerjakan project The Crow ditahun 1992, dia selalu berkutat dengan film pendek bertema idealis, yeah…boleh dikata dia selalu menggarap film-film indie’lah.

Untuk urusan cerita film ini sendiri, memang sengaja dibuat tidak melenceng terlalu jauh dari komiknya. Kemungkinan hal ini dilakukan guna menggaet antusias banyak fans The Crow untuk berbondong-bondong menikmati sajian sinema adaptasi dari sang jagoan. Jika memang benar itu tujuannya, saya anggap sang penulis cerita David J Schow serta man behind the movie yakni Alex Proyas telah berhasil mentraslasikan sosok Eric Draven kelayar lebar. Karena jika dibandingkan dengan tema komiknya yang terkesan ‘dark’, film ini juga mempunyai aura serupa, kelam, menyayat dan penuh passion.

The Crow bercerita tentang seorang gitaris rocker Eric Draven (Brandon Lee) yang tewas terbunuh pada malam satu hari menjelang pesta pernikahan saat perayaan Heloween. Ditempat yang sama, sang kekasih Shelly (Sofia Shinas) juga turut tewas, bahkan sebelum mati, Eric harus menahan rasa sakit yang teramat sangat karena dengan mata kepalanya sendiri, calon istrinya diperkosa oleh para pembunuh sebelum dibantai.

Satu tahun kemudian, dimalam yang sama Eric Draven bangkit dari alam kubur berkat bantuan dari seekor burung gagak. Hah burung gagak membangkitkan orang mati?!…yup…bukan sulap bukan sihir, ajaib memang, tapi inilah dunia antah berantah versi komik ataupun film. Dengan bantuan burung tersebut Eric melacak satu persatu para pembunuh yang telah membinasakan kehidupan cita cintanya dimasa lampau. Balas dendam serta eksekusi ditempat adalah pola tindakan yang dilakukan olehnya. Mungkin untuk akhir dari cerita film ini, sayapun tidak perlu untuk menjelaskan bukan? karena saya yakin, anda pasti sudah tahu jawabannya😀.

Jujur, saya sangat menyukai film ini. Berkat karekter-karekternya yang dibuat semirip mungkin dengan versi komik, jadi kalau dibilang sebagai salah satu film adaptasi terbaik versi Dnugros, The Crow lah jawabannya. Brandon Lee telah berhasil memerankan sosok Eric Draven, seorang gitaris rocker dengan tubuh ceking serta rambut gondrong…hmmm…sangat mengispirasikan saya untuk menjadi rocker sejati (halahhh….lebay! main gitar aja ngga becus!). Konon berita yang beredar, akibat kematian sang aktor utama, pembuatan film ini sempat terhenti hampir setengah tahun. Hal itu dikarenakan pihak kru pembuat film telah kehabisan akal untuk mencari double aktor pengganti sebagai pengisi peran Eric Draven discene-scene terakhirnya. Tapi berkat teknologi dunia perfilman Hollywood yang ada, peran Eric Draven telah dimanipulasi secara teknik oleh team special effect, hingga sosok Draven benar-benar ada sampai penghujung film.

Last my virdict…jika anda menyukai film berbau gothik atau bertema ‘gelap’ layaknya film-film besutan Tim Burton, The Crow janganlah anda lewatkan. Mengenai segi cerita yang mudah tertebak, ahhh…sudahlah jangan terlalu dirisaukan. Karena selain kelamahanya itu, pesona Brandon Lee akan kehebatannya beradegan fighting layak anda jadikan noted tersendiri.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film