Ternyata sudah tiga tahun menjalani kehidupan berumah tangga

Posted on 19 February 2011

25


Masih terus terngiang ditelinga, walaupun waktu 3 tahun telah berlalu dengan cepatnya.

“Kalau mau cari suami ganteng itu banyak bu, apalagi yang kaya raya, pasti juga tinggal pilih, berpendidikan tinggipun bagi saya juga cukup mudah untuk mencarinya koq bu…”

“…tapi untuk mencari suami yang slebor, slengek’an, berkemauan keras, dan yang terpenting bisa menyayangi saya setulus hati, saya sudah memantabkan jiwa untuk memilih mas Dwi sebagai suami.”, itulah kira-kira jawaban atas pertanyaan ibunda saya terhadap mantan pacar yang telah saya ‘rusak’ keperawanannya secara ‘damai’ tiga tahun yang lalu. Jawaban yang terdengar kurang serius, bahkan mungkin hanya seperti sebuah ‘joke’ saja, tapi itu memang benar-benar terjadi.

Bahkan sampai detik inipun, saya masih mencari makna akan kata-kata yang dulu telah terucap dari bibir manis istri tercinta. Slebor dan slengek’an, ahhh…sebegitu parahnyakah sifat saya waktu itu? bahkan sampai sekarang ini kedua sifat tesebut masih melekat erat dikepribadian saya. Lantas tentang kata-kata diawal paragraph atas, hmmm….mungkinkah untuk mencari sandaran hati dibutuhkan kepribadian yang unik terhadap pasangan? ahhh…dasar wanita! engkau memang selalu membuat pikiranku kacau untuk mengartikan setiap kata yang terucap dari bibir indahmu.

Tepat tanggal 17 Februari 2008, pukul 10.00 WIB, bertempat didaerah Dawukan, Delanggu, Klaten. Saya bersama dengan istri telah mengucap sumpah setia dihadapan altar Tuhan untuk sehidup semati, saling menyayangi serta mengkasihi sampai maut memisahkan kita. Dengan disaksikan kedua belah pihak keluarga, maka bersatulah dua hati yang berbeda untuk memulai keluarga baru.



Sebuah keluarga baru, ya…keluarga baru. Berkat doa restu dari orang tua, diusia saya yang masih terbilang bau kencur (25th), memutuskan untuk berumah tangga adalah suatu tantangan terberat dalam sejarah. Rasa ‘underestimate’ kerap menjadi momok disepanjang malam, pertanyaan dalam hati, ‘mampukah aku menjadi kepala keluarga yang baik? mampukah aku menjadi nahkoda yang handal dibiduk rumah tanggaku jika terhantam badai?’. Mmmm…rasa-rasanya semua ketakutan kaum laki-laki akan beban tanggung jawab besar dalam menempuh keputusan berumah tangga, kini telah terjawab sudah oleh saya pribadi. Ternyata…semua rasa ‘takut’ itu telah cair seiring dengan berjalannya roda kehidupan. Menikah, membentuk keluarga baru, serta manjadi pribadi yang unik ditengah kehidupan bermasyarakat adalah sesuatu yang sangat indah dalam kehidupan saya. Jujur saya menikmati semua ini, terima kasih Tuhan atas segala berkatmu!

Tapi memang saya akui, yang namanya menjalani kehidupan diatara dua pemikiran berbeda itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Adu argumen, keributan kecil, serta cemberut-cemberutan itu adalah variasi dalam harmoni rumah tangga. Bisa diibaratkan, sebuah sayur sop tidak akan terasa nikmat jika kurang bumbu. Maka hal-hal sepele yang kemudian menjadi ‘kerikil sandungan’ itulah bumbu dalam kehidupan berumah tangga. TAPI ingat!…selesaikan segala perselesihan dengan pasangan hidup diatas ranjang malam itu juga, itulah motto saya. Dan hasilnya? Trust me it’s work…(asli bukan iklan L-Men lho!)😀

Hingga pada akhirnya, sang waktu terus bergulir, tepat tanggal 30 April 2009, pukul 09.30 WIB, kehidupan kami berdua tambah berwarna dengan lahirnya seorang putri terkasih, Shelby Eleanore Wiendalova. Hmmm…bagaikan malaikat kecil yang selalu memberikan motivasi kedua orang tuanya untuk terus menata hidup menjadi pribadi yang lebih dewasa, itulah keberadaan dia ditengah kemajemukan sifat ayah dan ibunya.

Yeah…sebenarnya agak telat dikit sich ngomongnya, tapi tidak apalah. Saya cuma ingin bersyukur atas apa yang diberikan sang Pencipta kepada hamba-hambaNya ini. Diusia pernikahan kami yang masih seumur jagung, kami sudah mendapatkan pelajaran terbaik dalam membina kehidupan berumah tangga. Dan harapan kedepannya, semoga kami selalu diberi kekuatan, untuk terus menapaki langkah demi langkah setiap jengkal jalan kehidupan, yang walaupun berat, tapi akan kami anggap sebagai motivasi untuk menjadi sebuah keluarga yang lebih baik.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini