Goblok!, jika pemerintah menaikan pajak film asing.

Posted on 21 February 2011

34


Mendengar berita tentang dinaikannya pajak untuk film jenis import, saya pribadi cukup tercengang. “Apalagi ini ulah pemerintah tentang dunia industri perfilman?”, begitu tanya saya dalam hati. Menurut informasi tersiar dibeberapa media cetak maupun online, kisaran pajak dikenakan terhadap film asing yang akan masuk kedunia perbioskopan dalam negeri, nilainya tidak tanggung-tanggung lho per filmnya. Yang saya khawatirkan jika regulasi ini benar-benar di ‘goal’ kan oleh pemerintah, saya bisa jamin distribusi film asing akan tersendat, bahkan yang paling mengkhawatirkan, tidak menutup kemungkinan pihak importir film tidak akan memasukan judul-judul filmnya ke Indonesia. Whedewww….bahasa kasarnya sich, film-film asing akan kena embargo nich.

Yang menjadi pertanyaan saya terhadap pemerintah, apabila rencana yang sudah memasuki keputusan final ini telah diterapkan. Uang pajak dari film tersebut benar tidak akan digunakan untuk pembangunan struktur maupun insfrastruktur bangsa? Maaf-maaf saja ya, melihat kondisi aktual disekitar, saya yang merasa menjadi masyarakat taat pajak saja, seolah merasa kurang menikmati hasil pajak yang telah saya setorkan kepemerintah. Apakah masih dengan ‘slogan’ yang sama yaitu pajak untuk membangun bangsa, pemerintah selalu menarik tiap rupiah dari masyarakatnya, tapi apa yang terjadi? fasilitas masyarakat yang ada ternyata masih itu-itu saja, bahkan malah terkesan kurang dari layak untuk dinikmati oleh para masyarakat itu sendiri. Hmmm…kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab?

Kembali lagi keurusan film asing kena pajak. Saya pribadi sebagai penggila film, terutama film-film keren dari negeri manca yang sudah terkenal dengan kualitasnya, seolah merasa terbengong dengan berita ini. Andaikata keputusan tersebut telah direalisasi, saya sebagai masyarakat awam telah menyimpulkan beberapa point akan dampak dari keputusan tersebut.

1. HTM (Harga Tiket Masuk) dibioskop-bioskop besar maupun lokal akan meningkat berpuluh kali lipat. Apa sebab? agar para importir film asing dapat bertahan hidup, berarti ‘mereka’ harus melimpahkan beban pajak film yang diboyongnya ke para penikmat film. Lantas apakah demi sebuah sekuel akhir Harry Potter kita harus rela merogoh kocek Rp.300.000-, atau bahkan lebih untuk sekali tonton?

2. Bioskop lokal tempat dimana kita untuk melepas penat atau mencari hiburan, pastilah akan dibanjiri film lokal. Disini saya tidak men ‘judge’ jelek film lokal, ada beberapa film lokal yang memang benar-benar bagus luar dalam. Tapi berapa persenkah film bagus yang hadir dinegara kita dalam 1 tahun? saya sangat yakin wabah ‘genit’ Dnugros akan merebak hebat, hal ini dikarenakan banyak film bertema Horor plus-plus atau film melodik percintaan plus-plus akan memenuhi tiap studio. (Plus-plus disini saya maksud adalah adegan esek-esek alias umbar kemolekan tubuh pemainnya :-D).

3. Program pemerintah dalam memerangi pembajakan akan gagal total. Dan disinyalir angka pembajakan film-film asing akan terus merangkak naik. Hal ini juga imbas dari samakin sulitnya masyarakat kelas menengah bawah untuk mendapatkan akses film-film terbaru dibioskop, jika kesimpulan nomor 1 dari pemikiran saya benar-benar terjadi.

4. Dan yang terakhir, penuai hasil manis dari diterapkannya pajak untuk film asing yang cukup besar adalah warnet atau para ISP diseantero Indonesia. Lho koq bisa? bisa donk, langkah alternatif jika para moviegoers berkantong tipis tidak bisa menikmati film asing dibioskop, tentu satu-satunya jalan adalah mendowload judul film yang dimaksud via internet. Bahkan tidak menutup kemungkinan, kaum downloader film asing layaknya Dnugros akan semakin tumbuh menjamur.

Last…itulah sedikit curhat akan kelucuan kebijakan yang diambil pemerintah akan pajak film asing yang katanya lho ya, hasil dari pajak tersebut pada akhirnya untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Lantas apakah anda telah merasa sejahtera atau paling tidak merasakan nikmatnya fasilitas pemerintah dari hasil pajak yang telah anda bayarkan?

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Journal