Frontier(s) (2007)

Posted on 4 March 2011

10


Suka dengan film-film asal Prancis? suka yang bergenre drama, action, atau horor? kalau film-film drama asal Prancis mah udah pasaran, kalau film action juga masih sebelas dua belas dengan buatan Hollywood cuma minus special effect nan spektakuler, tapi kalau film horor terutama bergenre Slasher/ Thriller, nah ini dia yang saya suka, film horor asal Prancis memang mempunyai ‘taste’ tersendiri. Jangan bandingkan dengan horornya Jepang atau Korea bahkan Thailand apalagi Indonesia. Bagaimana kalau membandingkan dengan Holywood? hmmm…sama warna tapi beda rasa, maksudnya gini, walaupun sama-sama banyak mengumbar adegan bersimbah darah tapi tetap saja aura ketegangan yang disuguhkan sineas Prancis mempunyai ‘aroma khas’ tersendiri yang membuatnya berbeda.

Dari sekian beberapa hasil download’an film asal Prancis yang saya peroleh. Saya pribadi menobatkan judul-judul berikut sebagai film yang saya anggap mempunyai taste tersendiri digenre horor/slasher/thriller, sebut saja: Irreversible (2002), High Tension (2003), Inside (2007), Martyrs (2008), dan Frontier’s (2007). Nah! dari kesemua film itu, hari ini saya akan memberikan review tentang film berjudul Frontiers (2007) besutan sutradara Xavier Gans yang juga pernah mendirect film adaptasi game terkenal yakni Hitman (2007).

Masih dengan mengusung topik banjir darah dan full disturbing picture, Frontier’s ini bagaikan mesin pompa adrenaline bagi penontonnya. Walaupun diawal-awal durasi saya agak merasa sudah bisa menebak bagaimana alurnya, tapi ya sudahlah demi kepuasan menonton, saya ikuti saja apa mau sang sutradara pada para aktor aktrisnya difilm ini1.Yeah! seperti tema klasik film sejenis lainnya yakni sekelompok muda-mudi tersesat diperjalanan dimiddle of nowhere, bertemu dengan orang yang dianggap baik-baik tapi ternyata dibelakangnya mempunya sifat psikopat gila, dan pada akhirnya sekelompok muda mudi sok tersebut dibantai satu persatu dengan cara tak lazim oleh sang psikopat.

Ciri khas diatas juga terdapat pada Frontiers, cuma dengan modifikasi tambal sulam diarea background cerita, maka lahirlah kengerian baru versi cinemaker asal Prancis.

Diceritakan tentang 5 orang muda mudi yang kabur disaat negaranya tengah berkecamuk akibat kekacauan pemilu presiden Prancis. Sebelum merencanakan kabur ke Amsterdam, kelima orang tersebut yang bernama Alex (Aurélien Wiik), Tom (David Saracino), Farid (Chems Dahmani), Yasmine (Karina Testa) dan Sami (Adel Bencherif) merencanakan perampokan bank. Tapi ketika perampokan telah berjalan mulus, Sami tertembak oleh polisi hingga mengharuskan kelima orang tersebut berpisah sementara. Alex dan Yasmine pergi kerumah sakit membawa Sami untuk mendapat perawatan medis, sedangkan Farid dan Tom tetap pada rencana semula yaitu pergi keperbatasan. Mungkin rasa letih pasca insiden membuat kedua orang tadi memutuskan untuk bermalam disebuah motel, dengan membuat perencanaan ketiga rekannya yang tadi kerumah sakit segera menyusul untuk segera bergabung menuju keperbatasan.

Tapi sungguh diluar dugaan, ternyata sang pemilik motel adalah sekawanan keluarga psikopat gila keturunan NAZI yang tak tanggung-tanggung membunuh korbannya hanya demi dijadikan santap malam bersama. Nah! mulai dari sinilah intensitas film segera beranjak naik, adegan ‘cat and mouse’ pun tak pelak segera bergulir. Lantas apakah muda-mudi yang berencana pergi ke Amsterdam tadi berhasil meloloskan diri dari cengkeraman keluarga ‘sakit’ tersebut? Yeah! disini saya tidak mau ber spoiler ria untuk menuliskan hasil akhir dari film ini, karena saya takut akan merusak mood ketegangan yang anda alami ketika tengah menyaksikan Frontiers. Tapi saya jamin ending film ini akan berasa pas dengan semua adegan ‘sakit’ yang ada diseparuh durasi film.

Sudah seperti yang saya jabarkan didepan, film Prancis tetaplah film Prancis, walaupun mempunyai ide cerita usang yang sama semenjak booming era Texas Chainsaw Massacre tahun 70’an, nuasa unik yang terselip didalamnya memang tidak bisa kita pungkiri. Sedangkan untuk urusan gorefiesta, Frontiers termasuk salah satu paling wokeiiii…bahkan jika disandingkan dengan Hostel nya Eli Roth pun, film ini tidaklah mengecewakan malah saya bilang berimbang. Efek banjir darah, sex scene, dan smashing tortured pun digarap tidak berlebih, jadi bagi penggemar film sejenis akan memberi applause pertanda puas akan kerja sang sutradara.

Last my verdict, buat anda yang doyan film semacam ini, jangan sampai anda lewatkan Frontiers untuk menjadi teman nina bobo menjelang tidur.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film