Over The Top (1987)

Posted on 18 March 2011

15


Walaupun mempunyai sifat keras seperti batu, perangai liar layaknya harimau, ambisi kuat bagaikan badai, seorang ayah tetaplah ayah, sosok laki-laki yang terkadang bisa menitikkan air mata jika tengah dirundung rindu dengan sang buah hati. Jujur saya menyukai film yang berbau relationship yang melibatkan emosi batin antara ayah dan anak, seperti The Road (2009), The Persuit Of Happiness (2006), serta Over The Top (1987).

Kali ini saya akan mereview film dengan genre diatas yang berjudul Over The Top. Film yang dibintangi oleh Sylvester Stallone, David Mandenhall, serta bebera aktor lainnya ini layak dijadikan film keluarga. Cerita yang ringan serta mudah dicerna oleh semua penonton listas usia, membuat Over The Top menjadi tontonan layak untuk dikonsumsi oleh keluarga.

Lincoln Hawk (Stallone) adalah seorang pengemudi truk yang berusaha mendapatkan ‘perhatian’ dari putera semata wayangnya. Kenapa perhatian? karena sewaktu dia menikah dengan istrinya Chistina (Susan Blakely), orang tua Susan, Jason (Robert Loggia) menentang hingga akhirnya berusaha memisahkan kedua pasangan ini. Ketika Susan jatuh sakit keras, sebelum menjalani operasi penyembuhan dia memutuskan agar Michael (David Mendenhall) putranya, untuk tinggal dengan ayahnya, Lincoln. Hal tersebut tentunya sangat menggembirakan bagi Lincoln, karena mengingat sejak sang putera lahir hingga besar dia belum pernah menemuinya secara langsung karena halangan dari sang ayah mertua tentunya. Dan selama ini komunikasi dengan istri mengenai perkembangan putra kesayangan hanya melalui surat serta beberapa kiriman foto.

Rasa canggung, aneh, serta kikuk dirasakan oleh Michael, karena memang dari kecil dia sudah terdoktrin oleh kakeknya (ayah Susan) agar menjauhi sang ayah. Menurut gambaran kakeknya, ayahnya adalah seorang pecundang, pemabuk, dan suka berbuat onar. Tapi hal tersebut seakan sirna ketika kedua insan ini menjalani perjalan bersama kekota tujuan menuju tempat dimana ibu Michael atau Susan akan menjalani proses operasi.

Diatas truk yang dikemudikan Lincoln, mereka berdua belajar saling mengenal pribadi masing-masing. Walaupun status ayah anak masih berlaku tapi tembok penghalang yang dibangon oleh Jason sang ayah mertua, benar-benar telah memutus tali kasih keduanya. Disela-sela acara bercengkrama mereka berdua, Michael baru tahu jika ternyata ayahnya bukan seorang supir truk biasa, dia juga merupakan seorang juara arm wrestler yang saat itu tengah diceritakan bertekad mengikuti kejuaraan adu panco sedunia yang diadakan di Las Vegas.

Mendengar berita tentang cucunya yang kini tengah bersama ayahnya, membuat Jason geram. Segala cara licik dia halalkan agar hubungan ayah anak tersebut tidak berlanjut. Hingga pada suatu saat insiden dijalan yang dibuat oleh suruhan Jason telah benar-benar membuat Michael dan Lincoln berpisah, akibat terlambat datang menjenguk serta kegagalan operasi Susan yang menyebabkan ibunya meninggal, telah memberi pukulan berat bagi Michael. Walaupun dengan berbagai cara Lincoln memberikan pengertian, tapi seolah pintu hati putranya telah tertutup buat dirinya.

Hingga pada suatu saat ketika akhirnya rahasia yang terpendam selama ini yang dibuat oleh kakeknya terbongkar. Membuat Michael berpikiran bahwa semua hal buruk mengenai ayahnya sengaja diciptakan oleh sang kakek guna menghancurkan hubungan kekeluargaan mereka. Lantas akankah Michael bisa kembali lagi dengan Lincoln, walaupun halangan dari sang kakek terus membelenggu? dan apakah Lincoln juga bisa memenangkan kejuaraan arm wrestler yang akan diikutinya di Las Vegas nanti?

Menonton film ini memang harus dengan kaca mata sabar. Pace cerita yang agak lambat membuat orang dimana dia kurang betah dengan porsi drama berlebih akan dibuat bosan. Tapi berkat arahan sutradara specialis B-Movie Menahem Golan, yang ternyata juga melejitkan nama Chuck Norris kejajaran artis specialis film action B-Movie berkat The Delta Force nya, bisa duduk tenang menikmati suana kekeluargaan antara ayah anak diatas truk tronton, serta dengan diiringan alunan soundtrack lagu bernuansa slow rock, hmmm…kita akan benar-benar dibawa melayang ke era 80’an.

Sedangkan urusan performa, Mr. Rambo (Stallone) sendiri yang walaupun sudah mendapat trade mark sebagai aktor specialis film action, tapi aktingnya dibagian drama patut kita beri apresiasi, coba bandingkan dengan rekan karibnya Schwarzenegger di film-film drama komedi, saya rasa Sly lebih bisa mengungkapkan ekspresi wajar tanpa harus kaku oleh script dialog super chessy disepanjang durasi film.

Nah! sebenarnya bagi kaum adam, jalinan drama disepanjang film tidak akan berasa kompak jika tidak ditutup dengan ending manis. Menjelang penghujung film, kita akan dibawa ke arena kejuaraan adu panco yang disetting seperti kejadian sebenarnya. Hebat dech mengenai adegan-adegan panco ini, cuman yang bikin saya geleng2 kepala, ada salah satu kontestan yang bermonolog layaknya shooting pertandingan panco betulan, dia menenggak oli mesin….weleh!, apakah demi memberikan presure atas lawannya lantas si antagonis tersebut nekad minum oli😀.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film