Materi bukanlah sesuatu yang terindah.

Posted on 24 March 2011

26


Sekedar mau sharing saja, tapi terlebih dulu saya akan bilang bahwa pola pikir dan jalan hidup setiap orang pasti berbeda.

Masih teringat hari senin kemarin salah seorang teman dari bekas tempat saya bekerja bilang, “wah sekarang kamu koq tambah gemuk? pasti sudah makmur ya ditempat kerja yang baru?”. Menanggapi hal itu saya hanya tersenyum renyah. Memang seh kalau melihat ukuran tubuh dan berat badan, yang semula hanya 62kg sekarang sudah bertambah menjadi 68kg, tercatat semenjak resign dari tempat kerja lama hingga berada ditempat kerja baru sekarang ini, bukan main-main naiknya, kalau tidak mau dibilang melar mendadak😀.

Dari terakhir kali teman saya mengatakan hal itu, saya merenung. Hingga akhirnya harus mengucap syukur atas segala berkat, nikmat, dan rejeki yang diberikan oleh Tuhan kepada saya diatas segala keterbatasan yang ada. Apa pasal saya mengatakan hal itu? Jika menilik kebelakang, masa dimana saya mengalami kemudahan dalam hal finansial serta eksistensi kerja yang menurut pandangan pribadi diatas rata-rata. Yeah!…walaupun dibilang cuman buruh asing alias meraup segepok rupiah dari perusahaan asing, tapi saya merasa…sedikit terenyuh. Kenapa? bukankah waktu itu mendapatkan segepok uang adalah hal yang tidak terlampau sulit, serta jenjang karir yang nampak cemerlang sudah didepan mata, kenapa musti terenyuh? Karena saya merasa dengan kemudahan dalam mendapat rejeki, belum tentu saya diberi kemudahan dalam hal mendapat kehangatan kebersamaan keluarga.

Delapan puluh persen bekerja diluar kota, dan sisanya hanya untuk menghabiskan waktu menyelesaikan urusan kantor dalam kota. Adalah rutinitas yang benar-benar saya nikmati kala itu, tapi ketika teringat akan hangat peluk seorang istri serta canda tawa anak pertama dirumah, siksa batin bertubi-tubi menghujam kepenatan disela kesibukan kerja. Kenyamanan spring bed Hotel Atlet Century di Senayan selama 2 bulan saat stand by di Head Office yang dulu terletak disalah satu lantai Plaza Mandiri, Gatot Subroto, dan sekarang sudah berpindah kesalah satu lantai di Plaza Bapindo, Jalan Sudirman, Jakarta, bukanlah tempat yang nyaman untuk bermimpi bersama pasangan setia. Hangatnya air bath tub Hotel Lombok Raya di Mataram selama 2 bulan atau panasnya udara hotel Metro di Lampung selama 1,5 bulan bahkan dinginnya suasana hotel Ijen View di Bondowoso selama 1 bulan, bukan merupakan tempat ternyaman saat rindu melanda mendengar tawa tangis sang buah hati. Apalagi pemandangan malam yang nampak terang seperti sore hari Hotel Soechi di Medan selama 1 bulan serta sempitnya kamar deluxe room Hotel Grand Palace selama 1 bulan di Malang, benar-benar membuat ciut semangatku untuk tetap tenggelam dibalik meja kerja dibeberapa tempat branch office tersebut selama hampir 5 tahun.

Mungkin karena Tuhan melihat perjuangan hambanya yang hampir padam ditengah medan perang berbulan-bulan lamanya. Dikirimlah seorang ‘pengacau’ yang berwujud line manager atau bahasa kasarnya adalah atasan baru kehadapan saya. Dan benar saja adanya, selama saya bekerja dibawah pengawasan beliau (baca atasan) selama 8 bulan, apa yang saya perbuat, apa yang saya kerjakan, dan apa yang saya hasilkan tidak pernah betul menurutnya. Padahal sebelum beliau datang, disaat saya masih dipasangkan dengan line manager yang lama, prestasi kerja jika diadakan sesi performance appraisal tiap akhir tahun, minimal mendapat point B alias Successful yang berarti kenaikan gaji sebesar 25% persen sudah menjadi sebuah jaminan mutu.

Tapi itulah keajaiban akan misteri kebesaran-Nya. Karena rasa capek yang mendera jiwa disaat ‘tour of duty’ serta rasa kecewa akan sifat tingkah laku menyimpang sang atasan yang saya rasa beliau tidak begitu happy dengan personal saya, akhirnya dengan ketekatan hati serta support dari istri tercinta untuk mengatakan, “maaf pak saya resign per hari ini”, merupakan hal yang bersejarah bagi saya.

Meninggalkan karir masa depan yang begitu menjanjikan, melupakan segepok rupiah dari letih jiwa saat pikiran serta kemampuan kerja diperah, serta melupakan berbagai fasilitas mewah diatas kenyamanan dalam bekerja, adalah hal ternekad yang pernah saya buat. Dimana saat ini orang-orang berlomba-lomba mengejar mimpi untuk menduduki posisi hangat yang dulu pernah saya rasakan, saya malah memilih menyerah pada keadaan guna meneruskan perjuangan hidup dilahan yang baru. Benar! dilahan yang baru saya telah mendapati ketentraman, ketentraman yang bukan berasal dari gemerlap indah berwujud materi, tapi ketentraman yang menyejukan jiwa. Bekerja diperusahaan lokal yang berada di Jalan Solo – Jogja Km. 16, Sawit, Boyolali, sebuah perusahaan yang levelnya jauh dibawah tempat saya terdahulu. Disitulah saya bisa menikmati indahnya hidup, menghabiskan sisa waktu kerja bersama keluarga tercinta, sesering mungkin bisa berpadu orgasme dengan pasangan terkasih, dan sesering pula bisa menikmati canda tawa bersama putri tersayang. Yeah! walaupun dengan penghasilan tidak terlalu besar dari yang dulu pernah saya sering terima, tetapi disini saya telah cukup banyak menerima waktu berharga yang tidak bisa saya dapatkan ditempat lama.

Sekali lagi Tuhan menunjukan caraNya yang maha bijak dengan jalan misterius kepada hambaNya ini. Terima kasih Tuhan atas segala kemurahanMu dalam memberikan jalan terang kepada saya. Dan terima kasih kepada sang waktu yang telah membuat saya banyak belajar akan kerasnya jalan kehidupan, hingga mampu bertahan sampai detik ini.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini