Red Scorpion (1988)

Posted on 25 March 2011

17


Yuk! kita review lagi film tahun 80’an akhir yang mengambil tema ‘one men army show’, yeah…seperti yang kita tahu, diera tersebut film-film semacam ini memang laris dipasaran, sebagai contoh: Commando nya Arnold, atau Rambo nya Stallone. Kenapa masyarakat kita cenderung suka menerima film cheesy seperti itu, karena kebanyakan dari kita adalah orang yang suka berpikir praktis, lantas kalau ada hiburan (baca film) ringan dan mudah dinikmati kenapa harus cari yang ribet serta penuh teka-teki untuk membuat otak berpikir kencang😀.

Red Scorpion, merupakan film keluaran tahun 1988 yang dibintangi oleh Dolph Lundgren salah satu aktor spesialis film action tipe B-Movie asal Swedia. Aktor yang mulai mencuat namanya lewat film Rocky IV sebagai tokoh antagonis diatas ring bernama Ivan Drago ini, dalam filmnya berjudul Red Scorpion berhasil memerankan sosok tentara elit yang dingin, kejam, dan tidak penuh basa-basi bernama Nikolai Rachenko.

Diceritakan pada tahun 80’an negara Afrika tengah berada dalam kekuasaan Soviet dan Kuba. Tapi walaupun berada didalam cengkaraman negara besar yang dulu merupakan saingin terberat negara adi kuasa Amerika, perlawanan rakyat Afrika tidak kenal lelah. Perang gerilya melawan penjajahan tirani negara komunis terus digerakan hingga akhirnya perjuangan rakyat Afrika tersebut membuat kesal Soviet serta Kuba.

Pergolakan perang tersebut juga berlaku disalah satu daerah Afrika bernama Mombaka, ulah dari kelompok pejuang pendukung kemerdekaan yang dipimpin Ango Sundata benar-benar membuat repot pasukan militer gabungan Soviet dan Kuba yang dikomandani oleh Jendral Vortek. Tidak kalah akal, untuk meredam gejolak daerah kedudukannya, Jendral Vortek mendatangkan salah satu tokoh militer yang paling disegani dari negaranya sana. Dia salah satu anggota pasukan khusus Spetznaz (kesatuan elit Soviet) bernama Letnan Nikolai.

Misi yang disandang Nikolai adalah memburu serta menghabisi Sundata beserta para pengikutnya. Tapi nasib berkata lain, setelah melihat dengan mata kepala sendiri kekejaman pasukan Soviet/ Kuba dalam membombardir rakyat tak bersalah Afrika, membuat nurani Nikolai tergerak. Misi yang diembannya telah terbatalkan secara sepihak, dia tidak bisa melanjutkan misi tersebut karena mengetahui betapa kejamnya perang yang dimulai oleh pasukan Soviet serta kroni-kroninya.

Mendengar gagalnya misi yang diemban Nikolai, terang saja membuat Jendral Vortek murka. Untuk menanggung akibat dari pembangkangan perintah atasan, Nikolai dijeblokan kepenjara yang dikomandoi oleh para maniak perang Kuba. Tapi berkat bantuan dari rekan sepenjara, seorang jurnalis Amerika bernama Ferguson, mereka berdua berhasil kabur dari kamp konsentrasi perang. Setelah melalui rintangan yang berhasil dilalui, kedua sahabat tersebut berpisah. Nikolai melanjutkan pelarian tak bertuju keantah berantah, sedangkan Ferguson berniat bergabung dengan salah satu kelompok pemberontak Afrika.

Ditengah perjalanan, tanpa sengaja Nikolai tersengat racun kalajengking gurun yang terkenal berbahaya. Untunglah   nyawanya masih terselamatkan oleh salah satu penduduk lokal. Mungkin takdir sudah tergarisi, akhirnya Nikolai berhasil bertemu serta bergabung dengan pasukan pemberontak Sundata untuk hidup bersama.

Mendengar bahwa Nikolai bergabung dengan para pemberontak, tidak heran jika Vortek naik pitam. Serangan membabi buta dilancarkan disegenap penjuru desa diwilayah kekuasaannya guna memburu sang desertir. Hingga akhirnya korban tak berdosapun jatuh bergelimpangan dari sisi rakyat Afrika. Melihat kebiadapan tersebut, menggunakan kemampuan militernya serta bantuan dari pasukan pemberontak Nikolai melancarkan aksi balas dendam akan kekejaman militer Soviet Kuba. Last! apakah misi balas dendam tersebut bisa berhasil? well silahkan tonton sendiri filmnya😀.

Yeah! lagi-lagi melihat seorang jagoan membantai pasukan 1 batalion dengan senjata berat adalah kenangan tersendiri bagi moviegoers yang pernah mengalami masa kecil diera pertengahan 80’an hingga awal 90’an. Suara berondongan peluru yang memuntahkan ratusan selongsong amunisi,  gelepar mayat musuh yang terbengkalai, suara gemuruh mesin helikopter membombardir target utama, dan ledakan nan eksplosif diseparuh bagian film adalah pemandangan yang luar biasa kala itu. Riuh suara penonton didalam gedung bioskop menyaksikan adegan yang dianggap spektakuler merupakan kenikmatan tersendiri dalam memanjakan indra penglihatan serta pendengaran. Ahhh!…asyiknya menikmati film semacam ini waktu itu.

Jika melihat premise cerita yang diusungnya memang simple sekali, dan melihat dibuatnya film inipun pasti hanya untuk membuktikan bahwa Amerika adalah negara yang siap membantu menyelesaikan negera ketiga yang tengah dilanda masalah. Tapi untuk sejenak mari kita lupakan unsur sisipan politik dari film perang yang sering digelontorkan oleh industrialis perfilman Hollywood kala itu. Menikmati film seperti ini adalah dengan menjauhkan segala logika berpikir, hanya duduk manis, ngemil biskuit didampingi soft drink memang teramat cocok guna dibawa bersantai. Yeah! sekali lagi dengan segala plus minus yang ada pada Red Scorpion, film ini layak untuk dijadikan tontonan akhir pekan dirumah, serta tidak salah juga menikmati nostalgia masa 80’an dengan mengkonsumsi hiburan cheesy seperti ini.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film