Ketika sang waktu menunjukan caranya untuk aku menjadi mandiri.

Posted on 7 April 2011

34


Pernah bertengkar hebat karena minta motor tidak diamini oleh orang tua? Hmmm…bagi anda yang mempunyai sifat bengal macam saya waktu dulu, pasti sudah tidak asing dengan hal tersebut. Hal yang membuat saya merasa bodoh waktu itu benar-benar telah saya alami. Hanya karena terbakar emosi sesaat, akhirnya tindakan yang tidak boleh dicontoh oleh siapapun harus terjadi.

Cerita bermula ketika saya sedang duduk dibangku kuliah semester 2 tahun 2003 silam, karena waktu itu sedang ngebet ingin mempunyai tunggangan selain Vespa, saya minta bantuan ke ayah tercinta guna menggelentorkan beberapa rupiah sebagai penebus sepeda motor idaman. Sebenarnya motor yang saya inginkan bukanlah motor baru nan mahal harganya, ataupun motor gres dari dealer yang dibeli via kredit dengan bunga gila-gilaan, melainkan seonggok Honda CB 100 K1 produksi tahun 1971. Ya…hanya Honda CB tahun jebot seharga 1,1 juta rupiah. Untuk ukuran waktu itu, hanya orang dengan karekter unik lah yang menyukai motor klasik. Coba kalo dipikir-pikir ngapain juga beli motor butut yang tidak wokeiii untuk diajak gaul ataupun mejeng nyari perhatian lawan jenis. Ingat! sebagai seorang anak muda kebanyakan, gaya dan penampilan diatas segala-galanya.

Karena hanya mempunyai modal tabungan 850 ribu rupiah saja dari hasil kerja paruh waktu sehabis kuliah, maka dengan wajah memelas plus tatapan mata teduh, saya memberanikan diri untuk meminta dana talangan sebanyak 250 ribu rupiah kepada sang ayah. Tapi bagaikan tersambar petir disiang bolong, bukan sejumlah uang yang didapat tapi segala bentuk perkataan pedas dari mulut ayah tercinta yang saya terima.

Bangga diatas motor hasil perjuangan sendiri kala itu.

“Kamu itu punya otak!, kamu itu punya tangan dan kaki!, tapi kenapa tidak kamu gunakan kemampuanmu untuk mencari uang, malah merengek minta-minta tidak jelas seperti ini!…”, “…perbuatan seperti itukah yang kamu jadikan contoh keadik-adikmu! hah?!”, kira-kira jika dibahasa Indonesiakan seperti itulah salah satu penggalan kalimat dari ayah untuk saya.

Sangat jelas terekam kata-kata tersebut dimemori otak. Maksud hati ingin mendapat bantuan, tapi apa lacur kata-kata pedas yang teraih. Mungkin karena emosi yang terendap ditelinga mulai naik kealiran darah dikepala, emosi sesaatpun juga terluap.

“Ya sudah! mulai detik ini saya tidak akan meminta-minta lagi kepada ayah sampai kapanpun!”, salah satu kalimat yang sampai sekarang juga masih terekam dikepala. Yeah! memang benar adanya, setelah kejadian tersebut saya tidak pernah sepeserpun meminta-minta uang kepada orang tua hingga detik ini. Lantas bagaimana dengan biaya kuliah, makan, dan tetek bengek lainnya? Perlu anda ketahui saya mulai dari mulai masuk hingga di wisuda selepas dari bangku kuliah menggunakan uang sendiri dari hasil kerja paruh waktu, sedangkan makan dan minum kebanyakan juga sharing atau bersedekah dari temen😀.

Dan benar saja, bagaikan kata bertuah yang keluar dari mulut surgawi, satu bulan setelah kejadian perang kecil dikeluarga tercinta. Akhirnya motor dengan hasil jerih payah sendiri menjadi kenyataan. Honda CB 100 K1 tahun 71 adalah motor yang saya beli dari hasil keringat saya sendiri. Senang rasanya, puas rasanya apabila keinginan terpendam menjadi kenyataan.

Bila saja keributan kecil yang menyebabkan saya bisa atau mampu hidup mandiri dari bujang hingga menikah bahkan mempunyai putri itu tidak terjadi, maka sikap berharap dan masih bergantung akan uluran bantuan orang tua pastilah masih terjadi. Terkadang saya berpikir, beginikan cari sang waktu menunjukan jalannya guna memberikan kemandirian seseorang dalam bertindak. Ahhh…mungkin itu hanya pemikiran tak tentu saja, yang jelas manusia atau seseorang akan bisa mandiri jika sudah pada waktunya, entah kapan itu….

Dan sebagai catatan, tindakan bodoh diatas jangan ditiru. Cukup saya saja yang mengalami.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini