Waktu…

Posted on 8 April 2011

14


Kamar 315, Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta.
Hari Jum’at, tanggal 14 Februari, Pukul 20.12 WIB.

Suasana basah karena guyuran hujan diluar menambah dingin suana kamar itu. Hembusan AC 1.5 PK sengaja dikecilkan oleh Radit. Bibirnya kering bukan karena hawa dingin yang terlalu menusuk, tapi karena dia merasa canggung oleh seorang wanita yang kebetulan sedang duduk diranjang berselimut putih layaknya hotel berbintang kebanyakan. Asih namanya, wanita berusia 25 tahun yang telah genap dipacari Radit selama 6 bulan lamanya, perempuan berparas manis, bergigi gingsul dengan lesung pipit dipipinya, menambah cantik identitasnya dimata Radit. Kulitnya yang coklat bersih khas ras melayu tampak bersinar terang karena pancaran lampu kamar, dari kedua tangannya nampak tersembul bulu halus yang tumbuh menarik. Tapi penampakan itu tidak membuat Radit sedang tertarik lagi seperti biasanya, ada hal yang nanti akan membuat pemandangan menarik tentang Asih menjadi nampak pudar dikedua pelupuk matanya.

Kedua sosok manusia ini bukan berasal dari kota Jakarta yang kebetulan sedang asyik check in short time untuk melepas penat sesaat, mereka sebenarnya adalah kawan lama satu SMU dari kota Solo yang kemudian dipertemukan oleh sang waktu di ibu kota negara. Ya, waktu telah mempertemukan mereka dulu, dan kini waktu jua lah yang tengah memproses dua pribadi ini untuk memutuskan berakhir menuju kejenjang hubungan lebih serius atau putus karena kehendak sang waktu itu sendiri.

“Dit, aku sudah tahu maksud dari tatapan matamu itu.”, Asih mulai mencairkan kebekuan suana dikamar itu yang tak sebeku hari biasanya.

“Kemarin aku juga sudah dimarahi oleh kedua orang tuaku perihal hubungan kita, seperti yang aku takutkan diawal kita jadian, hubungan kita pasti akan menuai pertentangan dari kedua orang yang kita sayangi.”, lanjut Asih.

Radit hanya menatap layu paras Asih malam itu, tapi pesona kecantikannya tetaplah membius sayang kadar bius yang ia rasakan malam ini terasa kurang menyengat. Dalam hatinya dia merasa senang karena dia tidak harus memulai percakapan yang terasa memberatkan, tapi juga direlung hatinya yang paling dalam, dia merasa takut jika perjalanan cintanya dengan wanita pujaan hati tiba-tiba kandas karena sebuah perbedaan prinsip kepercayaan.

Ya! karena perbedaan kepercayaan kedua anak manusia itulan yang akhirnya harus diputuskan malam ini, apakan akan dilebur menjadi satu dalam mahligai cinta mereka, atau tetap bertahan dengan keyakinan masing-masing dengan mengatas namakan cinta, ataukan akan terberai karena tidak bisa tersatukan karena memang cinta tak harus memiliki.

Cover album Kanye West.

“Apa yang dilakukan oleh kedua orang tuamu sudah benar adanya, Sih”, balas Radit.

“Apa maksudmu Dit?!, jadi kamu ingin menyerah begitu saja? lantas karena perbedaan kita ini kamu tidak ingin berjuang atas nama cinta? hanya segitukan kemampuanmu atas perjuangan cintaku kepadamu”. Mata Asih mulai berkaca-kaca, nafasnya sepotong-sepotong, suasana hatinya galau. Segalau perasaan Radit malam itu juga.

“Demi Tuhan Sih, aku benar-benar mencintaimu sepenuh hati. Tapi kita harus realistis dengan keadaan, dalam berumah tangga, kesempurnaan hidup yang aku cari. Bukan hanya cinta diatas segala-galanya”. Radit berusaha menenangkan belahan hatinya yang kini tengah goyah karena terhempas badai yang ditiup oleh sang waktu.

“Kesempurnaan? bukankah jika kita nanti menikah kita akan menjadi sempurna sebagai pasangan suami istri? bukankah sebenarnya Allah itu menciptakan laki-laki dan wanita untuk kesempurnaan dalam hidupnya? agar mereka bersatu, karena sesungguhnya laki-laki dan perempuan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan?…”

“…Dit, bukankah dulu diajaran agama kita masing-masing diciptakannya Hawa adalah dengan mengambil salah satu tulang rusuk laki-laki, maka ketika Adam memeluk Hawa sebenarnya dia tengah merasakan tulang rusuknya yang kini tengah kembali. Kembali untuk bersatu dan tidak akan terpisahkan oleh apapun lagi.”

Suasana kamar kembali menjadi dingin, sayup-sayup hujan diluar telah terdengar mereda. Stasiun teve MTV yang tengah menyiarkan sebuah video klip dari Samson dengan lagunya saat itu “Kenangan Terindah”, mengiringi kebekuan Radit dan Asih. Tak terasa walaupun tidak seperti malam biasanya yang berasa hangat dikamar tersebut, waktu mulai merambat pelan, jam tangan Radit menunjukan pukul 21.20 WIB.

Setelah menarik nafas panjang, Radit kembali berucap, “Sih, kesempurnaan yang aku maksud bukan hanya itu saja, tapi masih ada yang lain. Terutama tentang kepercayaan. Aku ingin benar-benar sempurna tentang masalah ini. Sekarang…okeilah aku berjuang demi cinta kamu ke aku, tapi suatu perjuangan pasti akan menuai hasil…”

“…Apakah setelah perjuangan kita selesai, kita bisa melebur menjadi satu? Kamu ikut dengan apa yang aku yakini ataupun sebaliknya. Karena dalam berumah tangga, pondasi utama selain cinta, kasih sayang, dan komunikasi yang baik antar kedua belah pihak, ada satu lagi yang sangat penting yaitu agama…”

“…Dalam urusan agama aku juga ingin menjadi yang sempurna. Walaupun mungkin dan bisa kita menikah dengan status beda agama atas dasar saling mencintai, tapi, apakah hati kecilmu iklas jika kelak anak-anak kita lahir mereka akan beribadah ke gereja dengan ayahnya, atau begitupula sebaliknya, akankah aku bisa melihat anak-anakku ikut sembahyang sholat berjemaah dengan ibunya?…”

“…Dan yang lebih berat lagi tentunya adalah pertentangan kedua orang tua kita. Andaikan benar orang tuaku memberikan restu akan pernikahan kita, tapi belum tentu juga dengan kedua orang tuamu. Seperti yang sudah kamu ceritakan tadi kalau orang tuamu marah besar mengetahui kita masih menjalani hubungan dalam tahap pacaran, apalagi jika kita melangkah kejenjang yang jauh yaitu pernikahan…aku hanya tidak mampu melihatmu menangis karena kamu tidak mendapat restu atas pernikahan kita kelak.”, Radit berusaha tegar, walaupun dadanya penuh sesak akan rasa hancurnya tentang perkataannya sendiri kepada Asih.

Asih hanya terdiam, tak terasa buliran halus air mata menetes dari sudut matanya yang lentik. Bagaimanapun cerianya dia sewaktu menjalani hungan kasih dengan Radit, tapi malam itu, dihotel Century, didaerah Senayan, dikota Jakarta, dipropensi Jawa Barat, dinegara Indonesia, dibenua Asia, diatas permukaan bumi, diantara hamparan planet tak terhitung, Asih adalah Asih dia hanyalah seorang wanita, yang mempunyai perasaan halus nan sensitif. Kini perasaan halusnya tersebut tengah robek karena hujaman penjelasan sang tercinta yang benar-benar meremukkan harapannya, harapan untuk bisa hidup bersama hingga maut memisahkan mereka berdua.

Tapi kelihatanya untuk berpisah, bukan maut yang kini tengah mereka tunggu. Hitungan waktu yang mungkin akan mengakhiri, mengakhiri cerita indah selama 6 bulan bersama dikota Jakarta.

Dengan nada suara sumbang dan terbata, Asih berkata, “Dit, jadi yakin kita ingin putus?”.

Suasana kembali hening, hanya lantunan suara dari group band Samson yang kini masih menjadi pengiring, dengan lagunya “Kenangan Terindah” menuju bait penghabisan.

Radit hanya diam seribu bahasa, matanya tak mampu menatap wajah wanita yang ia cintai, saat ini berlinang air mata. Dia hanya mempu mengalihkan pandangan kearah luar kaca kamar hotel, suasana malam stadion Gelora Bung Karno sangat kontras dengan kondisi jalan didepannya yaitu jalan Asia Afrika yang masih menunjukan keramaiannya, walaupun malam telah menjemput.

Pikiran Radit berkecamuk hebat, sesaat dia kembali teringat pertama kali dia berjumpa secara tidak sengaja dengan Asih sewaktu ada pesta reuni sekolah. Lamunannya kembali melompat kewaktu dia pertama kali mengungkapkan perasaan cinta pada wanita yang mencuri hatinya di Ancol, pikirannya masih berusaha merecover masa-masa indah selama berpacaran, mulai pertama kali dia mencium Asih dikamar kos nya daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan, hingga keberaniannya melakukan peting dikamar hotel yang juga saat ini tengah menjadi saksi jawaban akhir cerita cinta mereka. Lalu sedetik kemudian hayalannya tiba-tiba terbang jauh, meninggalkan indahnya masa sewaktu berpacaran, Radit dibawa berandai-andai dia telah menikah dengan wanita yang saat ini ada dihadapannya, hatinya sedih karena melihat anak-anaknya tidak mau diajak menjalankan ibadah dirumah Tuhan sesuai dengan yang ia lakukan setiap minggu, tapi rasa sedihnya tidak berhenti disitu saja, kedua orang tuanya maupun orang tua Asih pun tidak memberikan tanggapan gembira atas hubungan yang saat ini tengah mereka jalani.

Sebagai seorang wanita, Asih tahu air muka laki-laki yang detik ini masih ia cintai tidak memberikan respon atas pertanyaannya barusan. Radit diam, berarti dia memang benar-benar ingin mengakhiri hubungan yang telah mereka perjuangkan selama ini.

Benar adanya, detik ini sang waktu telah memproses jalan cerita cinta kedua insan tersebut. Karena waktulah mereka bertemu, karena waktulah mereka membina hubungan kasih, karena waktulah mereka bisa mengambil sikap atas rintangan cinta yang benar-benar tidak bisa terselamatkan.

Tidak lama kemudian, dengan kedua mata berurai air mata, Asih berjalan keluar dari kamar. Langkah kakinya menyadarkan Radit dari lamunan sesaat. Tapi Radit seolah tak mampu untuk menahan Asih agar tetap berada disini, setidaknya untuk malam ini saja. Mata Radit hanya mampu melihat wanita yang ia sayangi berjalan gontai sembari membuka pintu kamar untuk kembali pulang kekamar kosnya.

Tetapi….

“Asih!, demi Tuhan aku benar-benar mencintaimu”. Didepan pintu lift lantai 3 yang tengah terbuka, Radit memegang tangan Asih, dengan sedikit gerakan menarik kebelakang, ia rapatkan tubuhnya untuk memeluk pujaan hatinya. Dalam pelukan hangat Radit, Asih menangis sejadi-jadinya, tapi Radit membiarkan, biarlah segala bentuk beban berat yang baru saja dijalani barusan, setidaknya hilang untuk sesaat.