Riki-Oh: The Story Of Ricky aka The King Of Power (1991).

Posted on 15 April 2011

20


Ricky Ho adalah seorang pemuda yang divonis bersalah atas kejahatan yang memang ia sengaja lakukan. Membunuh big boss dan mengobrak-abrik sarang gerombolan TRIAD yang telah menyebabkan kekasih hatinya tewas, merupakan alasan dimana ia harus dijebloskan kebalik jeruji besi akibat perbuatan bersalahnya.

Penjara yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk merenung atas segala perbuatan dosa selama didunia luar, tidak ditemui ditempat Ricky selama ini mendekam. Diceritakan pada tahun 2001 (catat! film ini dibuat pada tahun 1991), penjara-penjara di Hongkong telah dijadikan ladang kapitalis bejat oleh pihak ‘asing’. Penjualan narkoba, pabrik opium, serta ladang ganja adalah gambaran khas aktifitas terselubung dipenjara sana.

Movie Poster.

Kebetulan rumah prodeo, tempat dimana Ricky seharusnya menghabiskan waktu untuk mencuci segala dosa yang telah ia perbuat. Dipimpin oleh psycho sipir, bertubuh tambun, bermata satu, bertangan hook layaknya kapten Hook dalam cerita Peter Pan. Aksi gila yang sering dilakukan oleh sipir sedeng tersebut kadang bikin muak orang seisi penghuni rumah tahanan, termasuk saya sebagai penonton film ini juga🙂. Berbagai kegiatan sadis serta tidak manusiawi sipir tersebut, tidak lepas dari  dukungan ‘The Gank Of Four!’ (istilah yang saya sebut sendiri :-)) sebagai kaki tangannya yang menguasi ke empat blok daerah diarea penjara tersebut.

Mem bully, mengintimidasi, serta membuat kerusuhan terhadap penghuni lapas yang lemah adalah tugas dari 4 kepala gank beserta kawanannya.

Mengetahui ada gejala tidak beres diarea penjara, hati Ricky bergolak. Terlebih lagi setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa penghuni dari isi penjara tersebut tidak semuanya merupakan orang-orang jahat ataupun bersalah. Akankah Ricky hanya berpangku tangan melihat kejadian tersebut?. O iya sebagai catatan, sosok Ricky adalah bukan pemuda sembarangan. Dia adalah orang yang mempunyai ilmu tingkat tinggi dari aliran ‘Chi-Gung’. Dengan sekali pukul atau sekali tendang, bisa-bisa kepala atau anggota tubuh korban yang bersangkutan bisa copot dari tempatnya. Badass bukan?!

Yeah! berbekal ekspektasi dari buku komik terbitan Rajawali Grafiti berjudul Ricky-Oh yang merupakan hasil adaptasi manga Jepang dengan judul sama, Dnugros kecil yang kala itu duduk dibangku SD kelas 3 nekad nonton film tersebut dengan cara ‘mbludus’. Inilah enaknya jika punya rumah dekat dengan gedung sinema teather serta mempunyai rekan yang kerja ditempat tersebut. Tapi apakah sebanding antara ‘mbludus’ dengan ekspektasi cerita novel grafis dengan hasil keseluruhan film?

Sumpah! selama 3 hari saya tidak nafsu makan, hanya seperti orang blo’on saja ketika ditanya ibu tercinta kenapa nafsu makannya menurun. Ya…setelah menyaksikan film yang kala itu beredar via sinema lokal dengan judul The King Of Power aka The Story Of Ricky-Oh, telah mengguncang hebat otak kecil saya. Bagaimana tidak, adegan kekerasan demi kekerasan dengan kadar gore serta ceceran darah overdose sangat dieksploitasi secara eksplisit. Bayangkan sendiri, apakah daya imaginasi otak anak yang seharusnya untuk ukuran sekarang masih doyan maen PS berjam-jam, kemudia sekonyong-konyong dicekoki dengan bergalon-galon siraman darah kental serta berdrum-drum cuilan tubuh akibat adegan fighting ekstra lebay dalam satu frame sebuah film. Tentu hanya 1 jawabannya, nafsu makan berkurang…

Kadang ingin tertawa jika mengingat kejadian saat itu, rela berbohong belajar kelompok kepada orang tua dengan teman sehabis pulang sekolah. Eee…tidak tahunya, sehabis jam sekolah pukul 13.00 WIB langsung tancap gas dengan mengayuh sepeda menuju kebioskop kelas teri yang bernama Nusukan Theatre.

Last!…The Story Of Ricky-Oh atau apapun itu judulnya, begitu sangat berkesan bagi saya. Walaupun sekarang suka ketawa geli jika melihat film ini saya tonton kembali via PC , berbagai adegan yang dulu nampak sadis bin mengerikan yang bikin nafas bocah kecil berumur 10 tahunan ngos-ngosan karena menahan eneg melihat adegan gory, sekarang malah terlihat culun bin lucu layaknya menikmati film-film horor Suzanna diwaktu sekarang.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film