Passion Of The Christ (2004)

Posted on 22 April 2011

16


Sebenarnya film ini termasuk ke genre exstreem violance dari pada epic religy, kenapa saya bilang seperti itu? karena Mel Gibson si Mad Max asal Aussie ini telah mengubah pandangan film tentang Yesus yang sudah-sudah terkesan manis penuh santapan rohani, tapi di Passion Of The Christ kita akan dibawa melihat sajian darah, darah, dan darah dalam hampir separuh durasinya itu sendiri.

Konon kabar yang berhembus, ide dasar Mel Gibson membuat film adalah ini setelah mendapat pencerahan dari Tuhan ketika ia depresi berat dan hampir bunuh diri. Untuk mengucap puji syukur atas jalan keluar yang sangat misterius dari sang pemberi hidup, Gibson menebusnya dengan sebuah suguhan sinema yang katanya merupakan film pencerahan bagi yang mampu menelaah isinya.

Hmmm…kalau menurut saya pribadi, film ini terlihat kurang mampu memberikan gambaran dari sisi rohani akan Yesus Kristus, melainkan hanyalah sebuah film dengan guyuran adegan full violance serta exstreem gore yang sangat bertolak belakang dari sebuah sinema bertema religius. Tapi jujur, diluar rasa ngilu sewaktu adegan penyiksaan berlangsung, saya sempat menitikan air mata. Menitikkan air mata disini berarti bukan cengeng, tapi pengimanan saya terhadap sesosok anak manusia yang telah diberi wahyu dari Illahi, dimana ia terlahir dari rahim perawan suci yang rela menderita demi penebusan dosa manusia disekelilingnya.



Luar biasa pengorbanan Yesus kala itu, dan dengan manis adegan yang membuat bulu kuduk saya merinding menahan sesak dari penderitaan-Nya sebelum berakhir mati dikayu salib, telah dibawakan dengan baik oleh Jim Caviazel.

Ya! Passion Of The Christ merupakan film tentang Yesus yang berbeda dari film-film bertema Yesus kebanyakan. Disini penonton akan dibawa oleh jalinan cerita guna mengamati sosok Kristus dimana ia menderita sengsara selama dalam masa tahanan pemerintahan Pontius Pilatus sewaktu era kerajaan Romawi masih berkuasa. 12 jam terakhir menjelang ajal-Nya adalah serangkaian atau lebih layak dikatakan sebagai deretan peristiwa paling menggugah nurani bagi yang beragama Nasrani. Disitu kita diajak melihat langsung bagaimana proses Yesus sebagai seorang guru, seorang manusia biasa, dan seorang tokoh religi mengalami ketakutan yang luar biasa ketika tahu bahwa ajal akan segera menjemput.

Proses penghakiman Yesus yang terbilang ridicolous karena sang kepala pemimpin daerah Romawi takut jika amuk warga Yahudi terjadi, maka demi menentramkan masyarakatnya, proses justifikasi bersalah tanpa sebabpun terjadi. Konyol bukan?!. Proses penghakiman ini juga tidak terlepas dari tindak konspirasi level ecek-ecek oleh murid atau pengikut Yesus sendiri. Yudas Iskariot adalah seseorang yang kemudian merasa berdosa setelah mengkhianati sang guru tauladan dan akhirnya demi menebus rasa bersalah ia gantung diri mengakhiri hidup.

Dalam scene adegan penyiksaan, saya sempat geleng-geleng kepala dengan team department special efect yang bisa memberikan detail luka pada tubuh Yesus. Percikan darah, serpihan kulit, dan bahkan cuilan daging dibagian kanan rusuk Yesuspun bisa terekam sempurna. Awas jika anda akan mual dengan adegan penyiksaan ini!. Dan yang perlu dicatat, segala bentuk model properti yang ada pada film inipun dibuat dengan tingkat detail yang telah disesuaikan pada masa Yesus masih hidup. Belum lagi bahasa Aramaic atau bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat daerah pada masa kependudukan bangsa Roma, turut memberikan andil positif tentang model keakurasian film ini yang dibuat seperti pada masa Yesus masih ada.

Jika membicarakan apakah film ini layak tonton? sayapun akan ragu untuk menjawab apakah film ini dianggap layak tonton bahkan oleh pemeluk Nasrani sekalipun. Bukan karena jalan ceritanya yang bermasalah, atau penangkapan dialek bahasa yang terdengar asing ditelinga, tapi kadar atau tingkat kekerasan dan kekejaman yang tersaji begitu fulgar akan memberikan nilai minus pada filmnya itu sendiri. Dan bahkan bagi penonton yang mempunyai lemah nyali, sangat-sangat tidak direkomendasikan untuk mengkonsumsi Passion Of The Christ. Tapi jika anda memang sudah kebal atau mempunyai sense of art yang tinggi melebihi rasa ngilu sewaktu gore scene berlangsung, selamat! anda adalah tipe penonton yang sealiran dengan saya.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film