Radit dan Jani (2008).

Posted on 13 May 2011

16


Okeiii, sebelumnya saya bilang, bahwa saya sudah memiliki hasil download film ini pada pertengahan tahun 2010 kemarin. Karena melihat genrenya yang saya kurang suka yakni drama, serta asli ini film buatan dalam negeri yang notabennya seperti sinetron kebanyakan, maka Radit & Jani sukses tertumpuk diantara ratusan judul film horor serta action yang lebih saya cintai di hardisk eksternal. Karena alasan klise itulah saya kurang begitu moody menikmati film garapan Upi yang dibintangi oleh Vino G Bastian serta Fahrani. Tapi karena sebelumnya saya sudah terpikat oleh akting Vino yang terlihat rock n roll dibeberapa film yang kebetulan disutradari oleh Upi juga, yakni Realita Cinta dan Rock n Roll (2006), serta Serigala Terakhir (2010), maka dengan tanpa ekspetasi saya lahap Radit & Jani (2008) tersebut kemarin malam.

Anjani atau mudahnya dipanggil Jani adalah seorang perempuan yang berasal dari sebuah keluarga mapan bahagia, yang diceritakan nekad kawin dengan seorang musisi rock star wannabe bernama Radit. Karena keputusan Jani itulah membuat keluarganya menjadi membiru, tapi itulah kekuatan cinta, segalanya bisa dibutakan jika perasaan tersebut tengah melanda.

Asal bersama orang tercinta, segala hal pahit dan duka bisa dilewati. Seperti itulah kenyataan kedua pasangan muda itu, walaupun hidup dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka enjoy saja menjalaninya. Tidak punya uang, sedangkan perut sudah lapar, mencuri dari mini market pun akan dilakoni, bahkan mencolong hand phone dari orang yang tengah makan diwarung merupakan salah satu kegiatan yang terlihat normal bagi Radit dan Jani. Dari hasil itulah mereka bisa sedikit bertahan hidup, bahkan sisa ‘rejeki’ yang mereka dapati barusan tidak lupa untuk dibuat having fun, pergi dugem lalu mabuk ke diskotik kelas teri dan ngedrug yang merupakan kebiasaan Radit adalah keseharian sangat manusiawi bagi pasangan rock n roll tersebut.

Awal-awalnya kehidupan mereka berdua terlihat sangat seru, yeah bisa dibilang tipikal kehidupan impian anak muda dengan otak buntu, muda senang-senang, tua bahagia, dan mati masuk surga, itulah yang ada diotak Radit. Tapi agak terlihat gamang bagi Anjani, setelah tahu kalo dirinya hamil, pola easy going yang mereka kerap lakukan terlihat begitu menyedihkan. Ya sangat menyedihkan, dimana ia harus menerima konsekuensi cinta dari Radit yang begitu ia puja, tapi kenyataannya untuk mendapat nafkah secara layak saja akan teramat susah. Karena memang Radit sendiri adalah seorang pengangguran dan hanya mengandalkan demo rekaman dari band yang mendempak nya saja ia berharap untuk bisa berbuat.

Dari sinilah jalan cerita berat mulai tergali, segala kesusahan yang dialami kedua pasangan tersebut datang silih berganti. Disaat Jani membutuhkan biaya untuk kehamilannya, sang suami berusaha matian-matian guna menjadi lelaki berguna. Pekerjaan keraspun ia rela lakoni agar bisa dianggap membahagiakan sang istri, tapi karena memang dasarnya Radit telah teraddicted obat-obatan terlarang, maka uang yang seharusnya buat kebutuhan Jani tergantikan oleh beberapa bungkus heroin.

Lantas akankah Radit mampu memberikan kebahagiaan kepada Jani seperti yang ia selalu uangkapkan ketika permasalahan akan urusan perut tengah melanda? ataukah ia malah terus terjerumus kelembah dunia hitam sebagai drug addicted yang benar-benar parah?

Pertentangan-pertentangan itulah yang akhirnya membawa ‘twist’ ekstra dipenghujung film. Ya! sebuah kejutan yang cukup berani diambil sutradara untuk mendramatisir kondisi Radit dan Jani. Awalnya kita akan terbuai oleh kenekatan dua pasangan tersebut dalam menyelesaikan tiap permasalahan hidup, segalanya nampak mudah walaupun tergambar teramat sulit. Tapi dipenghujung film koq segala perjuangan yang telah mereka lalui terasa mubazir jika tahu akhirnya mereka harus menerima kondisi seperti itu.

Okeiiii, dalam film ini saya benar-benar sangat menyukai akting Vino seperti yang sudah-sudah difilmnya yang lain. Tampang rock star dengan tampilan junkies nampak pas buat dia, apalagi ketika beradegan sakaw, layak acung jempol buat putra dari novelis almarhum Bastian Tito sang kreator Pendekar 212 Wiro Sableng. Begitu juga dengan Fahrani, sosok model dengan tato yang menghiasi beberapa tubuhnya ini nampak serasi dengan pembawaan rebel nya Anjani. Kualitas akting kedua pemerannya dalam film ini sudah benar-benar mempu menghayati peran masing-masing, terutama jika tengah menghadapi situasi sulit, mereka berdua berasa sangat klop layaknya pasangan suami istri yang tengah berjuang keluar dari rumitnya masalah hidup.

Tapi sayang, walaupun dari sisi penyajian film sudah tergolong baik, tapi tempo dan alur yang lambat membuat penontonya agak merasa bosan. Jika saja sang sutradara berani ambil point dari beberapa hal klise dibeberapa scene, pastilah akan terasa sangat berbeda. Apalagi adegan mendayu-dayu yang tergolong kurang sedikit menggigit akan terasa membuat penikmatnya serasa menyaksikan tayangan sinetron. But, overall sangat bagus mengenai dari isi keseluruhan film ini dan tentunya layak untuk dijadikan teman ber week end dirumah jika memang tidak ada acara keluar.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film