Razia telek minthi….

Posted on 26 May 2011

41


Kamis, tgl. 26 Mei 2011, pukul.10.00 WIB.
Suatu siang di salah satu jalan protokol kota Solo, tepatnya jalan Adi Sucipto, depan Gedung Solo Pos.

Polisi : “Selamat siang pak, bisa lihat surat-suratnya?”

Pak Sastro: “Siang juga pak, ini SIM karo STNK ne…”

Polisi : “Bapak tahu kesalahan bapak?”

Pak Sastro: “Kenopo pak? memang ono sing salah dengan aku atau cara bermotorku po?”

Polisi : “Bapak mengemudikan motor dijalan raya tanpa mengenakan helm jadi dalam hal ini bapak telah melanggar peraturan lalu lintas. Mari ikut saya sebentar pak”

Pak Sastro: “Mau ikut kemana?”

Polisi : “Bapak akan saya buat kan surat tilang, untuk bisa mengikuti sidang kesalahan ini”

Pak Sastro: “Sidang, gundulmu amoh kuwi! sampean itu tahu ngga kenapa saya tidak memakai helm tapi malah memilih mengenakan topi pet ini?”

“…karena dengan atau tidak mengenakan helm pun, kalo aku mengalami kecelakaan, yen Gusti Allah sudah berkehendak kanggo aku tetap selamat, yo selamat wae. Tapi walaupun aku mengenakan helm, yen Gusti Allah sudah menghendaki aku mati, ya tetep wae mati…

“…pak, menurutku, jalan hidup orang itu sudah ada takdirnya. Arep pake helm ataupun tidak, umpama maut sudah menginginkan kita berpulang ke Rahmattulah, yo tetep wae itu kehendak Gusti sing Maha Agung. Ngga pandang dijalan, dirumah, lagi makan, lagi turu, opo lagu kenthu, yen wancine mati ya mati.”

Polisi : “Maaf bapak, anda memang benar, urusan hidup dan mati itu urusan Tuhan, tapi menjaga keselamatan diri dijalan dari berbagai kemungkinan kecelakaan itu juga perlu. Dan perlu bapak ketahui juga, semua faktor keselamatan dan tata tertib berkendara dijalan raya, sudah ditulis serta disahkan dalam UU Lalu Lintas No. 22 Tahun 2009. Maka dengan berdasarkan dari UU tersebut semua pemakai jalan yang menggunakan kendaraan pribadi ataupun umum harus mematuhi peraturan yang berlaku.”

Pak Sastro: “Halahhhh! mbelgedes! telek minthi! peraturan…peraturan opo? ora usah ngomong peraturan, ora usah ngomong UU, sampean lihat sendiri, banyak peraturan sing dibuat pemerintah tapi malah banyak dilanggar karo sing nggawe dewe. Kalo udah gitu opo peraturan dan UU itu hanya diberlakukan kanggo masyarakat cilik aja?”

Polisi : “Bapak!, saya harap bapak tidak memperpanjang masalah ini ya! bapak sudah terang-terangan bersalah mengemudikan motor tanpa mengenakan helm, untuk itu mari kita selesaikan permasalahan ini disana.”

Pak Sastro: “Pak, sampean juga jangan membuat aku jengkel!. Tadi aku khan wis ngomong, mo make helm atau ngga pun jika memang Gusti Allah menghendaki kita mendapat kecelakaan dijalan, ya itu pasti itu terjadi. Tapi kalo ngga ya ngga!”

………………………………………………………………………………………………….

Bagaimana akhir kisah dari cerita ini? silahkan buat sendiri kesimpulannya…:-D

Demikian dari saya,

Salam.