Hobo With A Shootgun (2011).

Posted on 27 May 2011

14


Diangkat dari fake trailer pada film Grindhouse Double Feature nya Tarantino dan Rodrigues, Hobo With A Shotgun tampil memuaskan para grindhouser (sebutan maniak film grindhouse) untuk menikmatinya. Dari trailer palsu super orisinil dengan durasi kurang dari 2 menit, Jason Eisener sebagai manusia yang bertanggung jawab atas lahirnya jagoan dari kelas gembel mencoba memberikan tontonan alternatif dari jenis film low budget. Tapi ingat! walaupun low budget dan mengambil genre grindhouse tapi dari sisi entertaint, Hobo With A Shotgun tidak kalah dari Fast Five nya Vin Diesel (kesimpulan diambil dari penikmat film sampah), anda percaya? saya saja tidak….😀

Seorang Hobo ((Homeward Bound) diperankan oleh Rutger Hauer) tua yang lelah dengan jalan hidupnya kini tengah mencoba peruntungan mengais sisa rejeki dari tempat sampah dan memulai hidup baru di Hope Scum Town. Tapi angan yang diimpikannya tertanyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, baru saja sampai ditengah kota, kedua matanya harus menyaksikan adegan eksekusi kepala manusia yang dilakukan oleh si penguasa kota super psikopat yakni Drake (Brian Downy) beserta kedua anaknya yakni Slick (Gregory Smith) dan Ivan (Nick Bateman). Tidak berhenti disitu saja, ternyata kegilaan manusia yang meninggali kota ini juga diluar batas kewajaran, drug dealer, fedophil, prostitusi, crazy bumfight filmaker, hingga polisi korup adalah warna keseharian yang ada.

Hingga suatu saat sang Hobo ini menyelamatkan seorang pelacur bernama Abby (Molly Dunsworth) dari tindak kekejaman anak Drake yakni Slick, tapi sungguh sayang niat ingin menjebloskannya ke penjara malah menjadi boomerang. Hukum yang seharusnya ditegakkan ternyata kalah oleh penguasa korup dikepolisian. Sang Hobo ternyata harus menanggung pembalasan dari Slick dan saudaranya Ivan. Untung nasib baik berpihak kepadanya, ditengah jalan ia malah diselematkan oleh pelacur yang barusan ia selamatkan yaitu Abby.

Waktu berjalan, mungkin karena capek dengan hidupnya yang terus menerus menjadi Hobo, dan Abby yang mungkin lelah menjadi seorang pelacur. Mereka berdua berencana memulai hidup baru, memulai menjalankan pekerjaan dengan jalan benar. Menjadi tukang kebun adalah ide terbaik yang mungkin akan mereka realisasikan.

Tapi sebelum kedua tokoh kita ini memulai perjalanan hidup barunya, ternyata nasib berkehendak lain. Disaat sang Hobo akan membeli mesin pemotong rumput guna memulai usaha sebagai tukang kebun, dia dihadapkan pada pilihan untuk menjadi pemberantas kejahatan dengan menggunakan shootgun. Loh koq bisa? begini, ketika ditoko barang bekas yang menjual mesin pemotong rumput, secara tidak sengaja ia membunuh 3 begundal yang mencoba merampok uang dari kasir toko tersebut. Hobo memilih untuk membeli shootgun dari pada mesin pemotong rumput guna memerangi kejatan yang dilakukan oleh manusia-manusia busuk di kota itu, karena sang Hobo kita ini merasa muak dengan kejahatan yang tiap kali menghantui warga tak bersalah disekitarnya.

Akibat kotanya diusik oleh Hobo with a shootgun, Drake merasa geram. Dengan kekuasaan dan power yang ada ditangannya, maka digerakanlah seluruh penjahat di Scum Town untuk memburu Hobo dan membunuhnya. Nah, lantas bagaimanakah akhir nasib dari Hobo dan Abby kemudian setelah ia diburu oleh semua panjahat kota tersebut? apakah aksi Hobo dalam memerangi kejatan bisa terus berlangsung juga? silahkan saja tontong film ini…😀

Sebagaimana sinema eksploitasi yang pernah populer dan mencapai puncak popularitasnya dari akhir tahun 60’an hingga awal 80’an, unsur action, violance, gore, hingga nude scene merupakan daftar wajib yang harus hadir ditiap slot durasi pemutarannya. Begitu pula dalam Hobo With A Shotgun, unsur-unsur yang telah saya tulis tersebut dapat kita temui. Terlihat campy dan bahkan murahan, tapi memang itulah daya tarik dari film sejenis.

Tentunya hal menarik yang sedikit menyita perhatian saya adalah teknik pewarnaan gambar, sangat-sangat mirip dengan film-film yang di direct melalui kaset betamax era 80’an. Apalagi logo Technicolor yang dulu sempat menjadi andalan studio film di Hollywood guna menarik masa penonton berbondong ke bioskop, karena film terbitannya sudah menggunakan sistem pewarnaan tercanggih kala itu juga hadir di preambule pada film ini. Benar-benar detail yang unik untuk memberikan sentuhan otentik film-film generasi 70’an – 80’an oleh Eisener.

Mengenai akting para pemain yang dibuat ala kadarnya, bahkan malah dibego-begokan didepan layar, bagi para fans berat tontonan macam ini merupakan guilty pleasure yang tidak terhingga. Lupakan dialog cerdas, lupakan logika bagaimana dan seperti apa, lupakan kerapihan plot story, dan juga lupakan spesial effect, karena di film yang dibuat khas kejayaan sinema grindhouse tempo dulu, hal-hal tadi sungguh tidak diperlukan. Bahkan kesan konyol diwaktu adegan memasuki babak menegangkan, bisa muncul secara spontan. Sebagai contoh: dimana Abby tangannya hancur karena tercabik oleh tameng super yang terbuat dari kipas angin full steel, teriakan seperti wanita orgasme malah membahana, kesan sakit yang seharusnya mencuat berganti situasi tolol. Karena dengan patahan tulang tangan yang hancur akibat rajaman kipas supernya sendiri, Abby menusukan ke tubuh Drake dan anehnya setelah berkali-kali ditusuk bukannya mati malah dengan tersengal ia mengumpat dengan gaya bahasa idiot sambil mencoba kabur. Edyannn, kocak, dan seru pokoknya….

Dan o iya, bagi anda yang pernah menyaksikan Cannibal Holocaust, pasti tidak asing dengan theme song di opening credit nya bukan? Maka di Hobo With A Shotgun, alunan musik tersebut bisa anda nikmati juga plus ada secuil penampakan adegan pembuka dari film mastepiece Regero Deodato tersebut…hmmm benar-benar nostalgia film eksploit.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film