“ayah aku bosan belajar, aku ingin bermain!”

Posted on 2 June 2011

23


Panggil saja namanya Benny, dia adalah tipikal sosok bocah laki-laki yang ceria, dilihat dari postur tubuhnya saja yang subur pastilah membuat orang-orang disekelilingnya gemas ingin meremas bulat pipi serta perutnya. Disekolahpun si Benny ini juga termasuk dalam golongan pelajar yang berotak encer, tercatat selama ia duduk dibangku Sekolah Dasar sejak kelas 1 hingga kelas 3 sekarang ini, prestasinya tidak jauh dari peringkat 5 besar pelajar terpandai di kelas.

Tapi entah kenapa dalam kurun waktu hampir beberapa bulan ini prestasinya merosot tajam, gairahnya dalam belajar yang biasanya rakus dalam melahap buku ilmu pengetahuan terlihat menurun. Jika biasanya dia enggan main bola atau motor-motoran dengan teman sebayanya, dibeberapa minggu terakhir ini Benny nampak begitu menikmati dunia kanak-kanaknya. Waktu sepulang sekolah yang biasanya dipakainya untuk tidur beristirahat siang, kini tergantikan dengan bersendau gurau dengan teman-temannya, waktu sore hari yang biasanya adalah jam rutin untuk belajar hingga pukul 8 malam kini telah tergantikan oleh jam bermain play station. Dan anehnya, jika sang mamah menyuruhnya belajar, Benny nampak cemberut, dan jika dipaksa oleh sang ayah untuk tetap belajar, dia malah ngamuk tidak karuan. “Ada apa ini? koq tidak seperti Benny biasanya…”, begitulah tanya dalam hati kedua orang tua Benny spontan.

Berhubung kondisi ekonomi kedua orang tua Benny termasuk dalam golongan menengah keatas, maka permasalah yang saat ini ‘menimpa’ putranya tersebut dikonsultasikan ke psikiater khusus. Nah! dari hasil beberapa kali interview dan pendalaman masalah mengenai perubahan sifat si bocah tambun layaknya Bernard Bear tersebut telah terdapat titik terang.

Kurangnya intensitas dalam menikmati dunia kanak-kanak, itulah inti dari semua penyebab perubahan sifat Benny saat ini. Setelah ditelusur jauh kebelakang, ternyata kedua orang tua Benny lah yang membawa andil cukup besar dalam merubah karakter si anak, dari semula yang dikenal sebagai seorang bocah bertipikal ‘nerds’ nan penurut kemudian menjadi hyper aktif untuk membunuh waktu belajar demi bermain, bermain, dan bermain sepuasnya. Ada apa ini? kenapa koq bisa seperti ini? pasti itu pertanyaan yang keluar dari diri anda juga bukan?

Perlu diketahui, kedua orang tua Benny adalah pegawai kantoran yang bisa dibilang jabatannya tidak berada dilevel kelas kacangan. Bisa dipastikan jam terbang mereka juga tidak main-main. Profesinya menuntut mereka harus menyisihkan waktu kurang lebih 10 jam perhari dalam menyelesaikan rutinitas pekerjaan harian. Maka dari kesemuanya itu, sesuatu yang harus dikorbankan akan pekerjaan mereka adalah kurangnya perhatian akan buah hati.

Karena sebagai sosok orang tua dengan pola pikir modern yang selalu mengagungkan nilai pendidikan formal diatas segalanya, maka pada umur 3 tahun Benny sudah harus dibiasakan bangun pagi untuk masuk ke taman edukasi formal disalah satu playgroup ternama dikotanya, karena mewarisi bakat jenius dari kedua orang tua, pada umur 4 tahun Benny telah menjajal kemampuan akademisnya diprogram edukasi tingkat lanjut yakni kindergaten. Tepat pada umur 5 tahun, lagi-lagi berkat otak encernya dan juga bimbingan kedua orang tua yang mengharuskan tiada hari tanpa belajar, belajar, dan belajar, maka kali ini dia sudah menapakkan kakinya dan duduk manis dibangku Sekolah Dasar. Luar biasa bukan si Benny tambun ini? umur 5 tahun sudah masuk SD lhooo…

Bandingkan dengan bocah kebanyakan dinegeri ini, umur 5 tahun bukankah waktu yang sangat menyenangkan untuk meng`eksplore dunianya sendiri bersama dengan teman-teman sebayanya…

Itulah hal yang selama ini tidak sempat terlintas dipikiran kedua orang tua Benny. Mengabaikan indahnya masa kecil sang putra untuk terjun bermain dan menikmati masa kanak-kanaknya secara normal sesuai dengan usiannya, maka sekarang diumur yang baru memasuki 7 tahun, Benny seolah merasa bosan dan suntuk dengan semua rutinitas belajarnya. Jiwa kanak-kanaknya berontak, dia merasa ingin dan pingin menikmati masa-masa indahnya dengan bergumul bersama rekan sepermainannya. Dia hanya merasa ingin menjadi seperti bocah seusianya pada umumnya. Tiada hal yang lebih indah selain meng`eksplore dunianya sendiri untuk mengerti, menikmati, akan indahnya masa kanak-kanak disamping belajar ilmu pendidikan formal tentunya.

Dan berkat arahan dari sang psikiater, akhirnya antara Benny dan kedua orang tuanya menemukan jalan keluar yang bisa dianggap sebagai win-win solution bagi mereka bersama, apakah solusi itu….saya rasa anda akan mengerti jawabannya jika anda sudi meluangkan beberapa waktu demi buah hati anda, dan mencoba memahi apa yang diinginkannya dari kacamata seorang anak, bukan orang tua๐Ÿ˜€.

Demikian dari saya,

Salam.

****************************************************************

Artikel ini terinspirasi dari cerita tetangga belakang rumah yang mempunyai kejadian seperti diatas.

Posted in: Petuah & Opini