Menggugat Tuhan.

Posted on 12 July 2011

19


Bagi saya pribadi ini mungkin adalah cerita basi dari level masyarakat kelas bawah yang ‘mungkin’ banyak terjadi disekitar kita, tapi tidak ada salahnya jika…lagi-lagi…saya sharing disini.

Begini, beberapa waktu kemarin saya dipertemukan oleh teman sewaktu kita masih duduk bersama dibangku SMU. Panggil saja Chandra namanya, selain mempunyai otak encer, pribadinya yang hangat dan orangnya nan ramah, membuat banyak orang hormat padanya. Karena terlahir dari keluarga yang mempunyai garis hidup menengah kebawah, Chandra yang saya kenal selalu mempergunakan waktu luangnya untuk belajar dan bekerja serabutan waktu itu. Karena cita-citanya kelak ia ingin bersekolah lebih tinggi dari orang tuanya yang kalau tidak salah cuman lulusan STM saja.

Benar saja, sewaktu lulus dari SMU ia mendapat program beasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri di Semarang…hingga akhirnya predikat Sarjana yang ia idamkan dulu akhirnya bisa terengkuh juga. Hmmm…jadi malu sendiri kala itu kalau mengingat soal impian Chandra ini, dimana teman-teman sebaya termasuk saya masih berkutat dengan alkohol, video bajakan Asia Carera maupun cerita stensil copy’an Erny Arrow, tapi tidak untuk dia, dia sudah berpikiran maju kedepan…ingin bersekolah tinggi tanpa memberatkan orang tua dan ingin mendapat pekerjaan layak serta lebih baik dari orang tuanya juga.

Sang waktu pun terus berjalan…

Hingga akhirnya hampir 10 tahun putus komunikasi dengan si Chandra ini, maka disaat yang tidak terduga, ketika saya beserta istri dan anak tengah keluar meninggalkan parkiran toko buku Gramedia Solo menggunakan motor…tiba-tiba dari arah belakang terdengar sayup seseorang memanggil, dari cara berpakaian yang tampak lusuh serta raut muka yang nampak letih…saya terus memandangi lelaki yang barusan memanggil saya tersebut. Dan woooalahhh!…dia ternyata Chandra, tapi koq?

Sambil menunggu pesanan ayam goreng yang tengah diracik, kamipun meluncur dengan obrolan-obrolan ringan…dari memperkenalkan anak istri saya sampai mengingat ‘nostalgila’ SMA dulu adalah topik yang asyik untuk membunuh waktu tunggu. Gaya bicaranya nan khas masih nampak seperti Chandra yang dulu tapi pola pikirnya yang lebih jauh kedepan…koq seolah hilang termakan usia…ada apa gerangan, tanya saya dalam hati.



Entah keceplosan atau hanya ingin sekedar meringankan beban dipundak, tanpa canggung Chandra menceritakan betapa beratnya hidup yang dijalani selama ini. Selepas menyandang gelar Sarjana, seperti pemuda kebanyakan dinegeri ini…mencari pekerjaan adalah ritual wajib yang kerap kali dilakoni agar dibilang ‘sukses’ dalam raihan hidup nantinya. Satu persatu surat lamaran baik lokal maupun luar kota, baik manual ketik komputer maupun via email, ia sebar kebanyak tempat. Satu hari…satu minggu…satu bulan…satu tahun…bahkan sampai sekarangpun belum ada beberapa tempat maupun perusahaan yang sudi menerimanya bekerja, aneh bukan?!…masa dari banyak tempat koq tidak ada yang nyantol. Belum lagi saat ini semenjak ditinggal pergi ayahanda ke alam baka 5 tahun silam, praktis Chandra sebagai putra sulung dari 4 bersaudara menjadi tiang penyangga kebutuhan keluarga. Sambil menunggu panggilan dari lamaran pekerjaan yang ia sebar, kerja serabutan adalah pilihan satu-satunya untuk menyambung hidup mulai dari kurir, office boy, hingga buruh lepas telah ia jalani. Entah karena sudah hopeless dengan kondisi perjalanan nasibnya, hingga satu kata yang membuat saya geleng-geleng kepala meluncur dari mulutnya, salah satu kata tersebut adalah…ketika dia ingin menggugat Tuhan, kenapa? dari segi ilmu dia tidak kalah dengan sarjana-sarjana yang lain, dari segi kemampuan untuk berkompetisi juga bisa diunggulkan, tapi dari segi nasib kenapa ia tidak seberuntung dari kawan-kawannya termasuk saya…dia benar-benar merasa Tuhan tidak adil bagi dirinya, sudah 5 waktu tiap hari ia tunaikan untuk berkomunikasi dengan-Nya tapi kenapa selama ini Tuhan tidak mendengar juga permohonannya…kesal, capek, dan letih dalam menjalani hidup merubah semangatnya yang dulu untuk meraih masa depan lebih baik dari pada orang tuanya dulu sedikit demi sedikit mulai memudar.

Disini saya hanya bisa membesarkan hatinya saja untuk tetap terus berjuang dalam menjalani kerasnya hidup. Jangan cengeng dalam menempuh cobaan, tidak ada gunanya juga menggugat Tuhan, apa kalau Tuhan sudah digugat maka ia akan memberikan kemudahan? ngga juga khan…

Mungkin juga karena saya capek memberikan ‘wejangan’ ke Chandra, dalam hati pun juga mengumpat kenapa ayam goreng yang dipesan tidak kunjung masak, bahkan sudah menginjak menit ke 5 kita menunggunya. Untunglah kali ini Tuhan mendengar protesku, sebentar kemudian mas-mas pramusaji datang membawakan pesanan yang kami inginkan….nyam-nyam!

So, lesson learned yang bisa diambil dari artikel ini adalah? tetaplah tegar dalam menjalani kerasnya hidup, tidak usah cengeng, tidak usah menyalahkan siapa-siapa akan nasib keberuntungan yang belum perpihak…karena saya yakin Sang Maha Pencipta tidak tidur, ia akan selalu membantu membimbing hambanya yang giat berusaha dan pantang menyerah dalam menjalani lika-liku liarnya hidup ini.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini