Kristen itu (agama) Brisik, Islam apalagi!

Posted on 20 July 2011

67


Salah satu cerpen ringan yang dulu pernah ‘menghangat’ didunia maya tahun 2007’an karya blogger asal Kebumen Jawa Tengah yakni Akhmad Murtajib. Jujur bagi orang yang ber-iman ‘tipis’ setipis kertas seperti saya, bacaan ini sangat bagus dan inspiratif sekali.  Bagi anda yang belum pernah membaca diwaktu lampau dan tertarik tapi kesulitan mencari cerpen tersebut, silahkan baca diblog ini karena blog wordpress gratisan Mas Tajib sudah ditutup. Sekali lagi bacalah sampai selesai maka anda akan mengerti makna dibalik judulnya yang bagaikan bom waktu siap meledak….Duarrrrr!!!!

*************************************************

“Brisik, nganggu wong turu (Brisik, mengganggu orang tidur)!” Shohib muring-muring dalam hati. Suara nyanyian di luar sana begitu nyaring, mengganggu tidur Shohib. Capai sepulang dari Jakarta urusan bisnis membuatnya sangat ngantuk, tetapi suara nyanyian itu membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Guling kekiri, lalu kekanan, kekiri lagi, kekanan lagi, lalu ditutup rapat telinganya dengan bantal. Tetapi masih saja suara nyanyian di luar sana terdengar.

Beranjak dari tempat tidur, Shohib mengambil CD. Gambar penyanyi cantik berjilbab putih Wafiq Azizah terpampang di sampul CD itu. “Cakep juga ya,” pikir Shohib dalam hati. CD itu dikeluarkan dari sampulnya, lalu dimasukan VCD dekat tempat tidur. Klik, dibunyikan VCD itu, musik mengalun, disusul suara Wafik. Cukup damai syair-syair yang dilantunkan Wafiq. Apalagi cukup mudah dipahami maknanya karena syair-syair itu berbahasa Indonesia, yang kandungannya diambil dari shalawat-shalawat nabi Muhammad SAW.

Wajah cantik Wafiq Azizah memang sebanding dengan suaranya, apalagi iringan musik nyanyian itu begitu mendayu. Tidak hanya mengusir suara nyanyian di luar sana, tetapi juga menenangkan hati. Untuk sementara, Shohib merasa tenang karena suara nyanyian dari luar itu menghilang seketika, kalah dengan musik dan nyanyian Wafiq dari speaker mahal yang dipunyainya.

“Haleluya…” suara nyanyian dari luar masuk lagi, lebih bergemuruh. “Haleluya…” puluhan orang menyuarakan nyanyian itu. Sekitar 16 orang.

Musik Wafiq yang tadinya memenuhi ruang dengar Shohib terpecah, karena suara nyanyian itu kembali menyusup ke ruang dengarnya. Musik shalawat, yang dibawakan Wafiq Azizah biasanya memang menenangkan hati Shohib, tetapi nampaknya tidak untuk malam itu. Karena suara nyanyian di luar sana begitu kuat memenuhi ruang dengar Shohib. Musik shalawat itu bertabrakan dengan suara nyanyian dari luar, sehingga terdengar malah semakin brisik.

Dikeraskan volume musik sholawat itu. Sebentar bisa menguasai ruang dengar Shohib, dan menenggelamkan suara nyanyian dari luar. Lebih keras lagi, sampai seluruh pelosok rumah mendengarnya. Memang suara dari luar itu hilang, ditelan kerasnya musik yang diputar di kamar Shohib. Istrinya, yang lagi nonton TV bersama dua anaknya, juga mendengar keras suara Wafiq dari CD yang diputar suaminya.

“Mas,…aja seru-seru, brisik (Mas, jangan keras-keras, brisik)!” istri Shohib meminta suaminya mengecilkan musiknya. Shohib tidak mendengar permintaan istrinya. Volume malah ditambah sedikit lagi.

“Mas…..jane krungu pora, aja seru-seru (Mas, dengar apa tidak, jangan keras-keras)!” istrinya berkata lagi, lebih keras. Tapi, Shohib tidak mendengar suara istrinya. Atau mungkin mendengar, tetapi pura-pura tidak mendengar. Kejengkelan terhadap suara nyanyian luar itu, membuat Shohib tidak mendengar suara istrinya.

Merasa tidak didengar, istrinya, Munawaroh beranjak dari tempat duduknya, menuju kamar. Tanpa permisi, langsung dikecilkan volume VCD itu. Kecil, sehingga suara dari luar yang tadi tertelan suara Wafiq dan musiknya, kini datang lagi, “Haleluya……”.

“Ngapa sih, Roh (Kenapa sih, Roh)?” Suaminya marah ketika mendapati volume VCD dikecilkan. Roh adalah nama akhir Munawaroh. Shohib biasa memanggil istrinya dengan nama itu, Roh atau Waroh.

“Brisik!” jawab Waroh singkat. Langsung menuju depan TV, nonton sinetron lagi.

Shohib turun lagi dari tempat tidurnya, dan mengeraskan lagi volume VCD. Suara Wafiq bersama musiknya yang merdu mengisi lagi ruang dengar Shohib. Lebih keras dari sebelumnya.

“Mas….brisik…ora duwe kuping apa (Mas…brisik…tidak punya telinga ya)?” Tanya istrinya, agak keras. Masih duduk di meja depan TV. Channel TV dipindah. Semua channel TV ternyata sedang iklan, lalu Waroh berdiri, menuju kamar dimana Shohib berada.

“Mas, ora duwe kuping apa (Mas….tidak unya telinga ya)?” Tanya lagi istrinya, lebih keras. Volume VCD dikecilkan lagi.

“Nangapa si Roh (Kenapa sih, Roh)?” Shohib lebih keras lagi. Mendelik.

“Brisik! Ra duwe kuping apa mas (Brisik! Tidak punya telinga ya)?”

“Roh, mbok ra usah ribut, nangapa? (Roh, tidak usah rebut, kenapa)”

“Brisik. Nek kepengin nyetel musik mbok aja seru-seru. Brisik ngerti pora jane (Brisik. Kalau ingin memutar musik jangan keras-keras. Brisik tahu apa tidak)?” kata istrinya, mangkel.

Shohib bangun dari tidurnya, duduk di tepi tempat tidur.

“Brisik endi karo suara di Gereja kae (Brisik mana dengan suara di Gereja itu)?”

Waroh kaget mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang sering dia dengar dari bibir suaminya ketika Gereja samping rumahnya semakin ramai tiga bulan terakhir. Gereja yang hanya berjarak 50 meter, samping kanan rumahnya.

“Roh, nyong kie mbene bali, kesel, kepengin turu, ning suara tembangan nang Gereja kuwe, nganggu. Apa ora ngerti (Roh, saya baru pulang, capai, ingin tidur, tapi nyanyian di Gereja itu mengganggu. Apa kamu tidak tahu)?” Shohib berkata lagi.

“Iya..nyong ngerti, tapi nek nyetel musik seru-seru padabae brisik. Emange sing duwe kuping njenengan thok apa mas? Nyong be duwe kuping, kie…kie…pandeng (Ya..saya tahu, tapi kalau memutar musik keras-keras ya sama saja brisik. Yang punya telinga kamu saja ya, lihat nih saya juga punya kuping),” kata Waroh sambil mendekatkan kupingnya di depan Shohib. Dengan cara itu, biasanya suaminya langsung menarik tangan Waroh, memeluknya dengan mesra, lalu menciumnya (bukan porno, lho!). Bila sudah begitu, redalah semua kemarahan Shohib. Hafal betul Waroh meredakan kemarahan suami tercintanya, karena selalu begitu caranya.

Prak!! Tangan Shohib tiba-tiba menampar pipi Waroh. Betapa kaget Waroh, seumur-umur baru kali ini suaminya menampar pipinya, keras. Kaget, tidak mengerti, sakit, semua berpusat di diri Waroh.

“Mas Shohib….,” Waroh menyebut nama suaminya. Air mata perlahan menetes dan membajiri pipi. “Mas Shohib menamparku?” Tanya Waroh lagi, seolah tidak percaya, padahal baru saja mendapatkan tamparan itu. Tamparan keras, dari tangan Shohib yang begitu kuat, kekar, dirasakan begitu sakit tamparan itu.

Waroh masih berdiri depan Shohib, suamianya. Bengong, dan semakin tidak mengerti. Shohib juga diam, seolah tidak berdosa barusan menampar Waroh.

“Haleluya,” suara nyanyian itu kembali terdengar.

“Brisik!” bibir Shohib kembali berucap. Istrinya masih benong depan Shohib.

“Haleluya,” suara nyanyian itu sayup-sayup.

“Brisik!!!!!” teriak Shohib keras ketika mendengar suara itu untuk yang kesekian kalinya.

Begitu teriak, Shohib berdiri, ambil baju, keluar kamar. Istrinya masih masih tidak mengerti, bahkan tidak tahu kalau suaminya sudah keluar kamar. Begitu sadar, Waroh langsung keluar kamar.

“Mas, arep nang endi (Mas, mau kemana)?” Tanya istrinya.

“Brisik!!” jawa suaminya singkat.

Membuka pintu depan, Shohib pergi, entah kemana.

“Brisik!!” Masih terdengar suara Shohib ditelah angin malam (bgaimana yach cara menelan-nya?.

***

“Nek kaya kie terus, ngganggu (Kalau begini terus, nganggu)!” Shohib menjelaskan pada petugas ronda di Gardu. Rupanya Shohib keluar rumah menuju Gardu ronda yang jaraknya 500 meter dari rumahnya. Shohib sendiri tidak pernah ronda. Dia lebih memilih membayar Rp. 5.000 sebagi ganti ronda satu malam, apalagi kesibukan bisnisnya tidak memungkinkan untuk ikut ronda.

“Coba pikir, malam-malam begini yanyi-nyanyi. Yang dipanggil-panggil Yesus lagi, yang disebut-sebut Haleluya lagi. Masa sih saya harus mendengar nyanyian begitu, nyanyiannya orang kafir. Lama-lama bisa merusak iman saya. Iya kan kang?” Shohib menjelaskan, meminta persetujuan. Diambilnya sebatang rokok, lalu disulutnya, kebul-kebul…..asap beterbangan kesana kemari.

“Ya, saya juga merasa demikian. Makanya saya milih ronda malam Minggu. Biar tidak mendengar nyanyian-nyanyian itu, apalagi dari sini kan tidak terdengar suara nyanyian itu. Kalau saya jadi pak Shohib, saya pasti tidak pulang kalau malam minggu. Atau bikin acara bisnis di malam minggu. Bukannya apa-apa, tidak mau mendengar suara nyanyian orang kafir itu. Merusak iman!” pak Tholib, yang rumahnya juga dekat dengan Gereja, menyepakati Shohib.

“Nah…bener kan kang (betul kan kang)? Ngganggu (mengganggu). Bukan Cuma saya. Pak Tholib juga terganggu. Pak Jhoni tergangu tidak?” Shohib menyentuh paha pak Jhoni.

“Kalau rumah saya dekat Gereja itu, ya terganggu. Tapi kan rumah saya jauh, jadi tidak terganggu. Sebenarnya saya kesini bukan karena jatah ronda saya malam minggu. Saya kejatah malam Rabu. Saya kesini karena di rumah ada anak-anak lagi belajar kelompok.” Kang Jhoni menjelaskan.

“Tapi intinya terganggu kan kang?” Tanya Shohib pada kang Jhoni.

Belum dijawab Jhoni, seseorang datang, “Assalam’alaikum”.

“Wa’alaikum salam,” serentak semua yang disitu menjawab salam orang itu. Rupanya yang datang Panji, salah satu penduduk desa itu.

“Gayeng temen umuke. Ana apa jane (Menyenangkan sekali ngobrolnya. Ada apa sebenarnya)?” Tanya Panji, lalu ikut duduk lesehan di Gardu itu.

“Biasa pak, ngobrol apa bae, ngalor ngidul (ngobrol apa saja),” Shohib mewakili menjawab pertanyaan Panji.

“Kan endi pak, rapih temen (Darimana pak, rapih sekali)?” Jhoni meneruskan bertanya.

“Kan ngumah bae, kepengin ngisis. Nang kene rame, ya mampir. Lah endi kopine? Deneng garingan? (Dari rumah saja, ingin cari angina. Disini ramai, ya mampir kesini. Mana kopinya? Masa tidak ada?)” Panji menggeser duduknya, lendehan (bersandar) di dinding Gardu, dikebulkan rokoknya keatas. Asap tebal mengepul-ngepul memenuhi ruang sempit Gardu ronda itu. Jendela dan pintu gardu yang sempit, tidak begitu membantu mengeluarkan asap. Malam itu, angin seolah sedang istirahat, suasana panas sekali.

“Kang Medi agi njiot kopi, dela maning tekan (Kang Medi sedang ambil kopi, sebentar lagi datang),” Jhoni menjelaskan.

“Ceritanya begini pak,” Shohib mengawali lagi pembicaraan. “Saya baru pulang dari Jakarta tadi sekitar pukul tuju, capai sekali, ngantuk. Mau tidur, eh… orang kristen di Gereja itu brisik. Main Gitar, Piano, dan bernyanyi-nyanyi haleluya, haleluya, lalu memanggil-manggil Yesus. Terus terang saja mengganggu. Saya jadi tidak bisa tidur. Padahal dulu tidak, tetapi tiga bulan terakhir, selalu brisik begitu.”

“Saya jadi khawatir kang,” Shohib melanjutkan ceritanya, “Bukan cuma menganggu ketentraman, tapi juga mengganggu iman. Karena kalau sering mendengar kata haleluya, haleluya, Yesus, Yesus, itu bisa merusak iman. Saya khawatir nanti banyak warga sini yang masuk kristen. Saya barusan minta pendapat pak Tholib dan kang Jhoni. Mereka sepaham dengn saya..”

Panji diam mendengar cerita itu. Disedot lagi rokoknya. Lalu dibuka bajunya, menjadi telanjang dada.

“Panas sekali ya?” Tanya Panji. Belum ada yang menjawab, seseorang datang.

“Kie pak kopine (nih kang kopinya).” Rupanya Medi yang datang, membawa ceret (tempat air dari aluminium) berisi kopi, dan gelas lima buah. “Eh…wis suwe kang Panji (Eh…sudah lama kang Panji)?” Tangan mereka bersalaman.

“Mbene bae, seler be urung entong (Baru saja, satu batang rokok juga belum habis),” jawab Panji.

“Monggo kang Panji, kopi nasgintel, panas legi tur kenthel (Silahkan kang Panji, kopi nasgintel, panas, manis dan kental).” Media menuangkan kopi di gelas, dan menyerahkan ke Panji. Thok, suara gelas menyentuh lantai.

“Benar begitu pak Tholib, kang Jhoni?” Panji menyambung pembicaraan lagi.

“Betul kang,” Tholib dan Jhoni membenarkan.

“Terus, apa yang harus kita lakukan?” Panji bertanya.

Diam, tidak ada yang menjawab. Sepertinya bingung. Shohib yang dari awal banyak ngomong juga diam mendengar pertanyaan Panji.

“Apa yang harus kita lakukan?” Panji mengulangi pertanyaan.

“Lapor pak RT, biar mereka dinasehati!,” Johni memberi pendapat.

“Jangan pak RT, langsung saja pak lurah dan polisi,” Tholib juga memberi pendapat.

“Deneng ana lapor-laporan, ana apa sih (Kok ada lapor-laporan, ada apa sh)?” Medi bertanya, tapi tidak nyambung, karena tadi bikin kopi dulu.

“Engko bae rika kang Medi! Engko tek ceritani (Nanti saja, kang Media! Nanti saya kasih ceritanya,” Jhoni memberi saran Medi.

“Ya wis, aja klalen lho (Ya sudah, jangan lupa ya),” jawab Medi. Duduknya digeser, lendehan (bersandar) dinding gardu, dekat Panji. Kaos juga dilepas, telanjang dada. Kerempeng, terlihat dada Medi dengan gambar rangka tulang.

“Kalau menurut saya, tidak usah lapor. Lempari saja Gereja itu dengan batu. Mereka kan takut, dan besok sudah tidak brisik lagi,” Shohib memberikan pendapat.

Diam semua begitu Shohib memberikan pendapat. Agak lama, tidak ada tawa, tegang.

“Dilempar batu? Kenapa?” Panji meminta pejelasan.

“Biar tidak brisik. Biar tidak merusak iman. Bukankah begitu?” Shohib geram.

Diam semua.

“Kalau saya jangan dilempari seperti itu. Laporkan saja ke pak lurah biar dia yang mengurusi,” Tholib memberikan solusi, karena semua diam lagi.

“Kesuwen (terlalu lama), pak lurah malah bisa membela Gereja. Bisa dipastikan itu,” Shohib langsung menjawab.

Semuanya diam lagi.

“Bagaimana menurut kang Panji?” Shohib meminta pendapat Panji.

“Menurut saya, didelengna bae, nek kesel kan liren dewek (biarin saja, kalau sudah cape kan berhenti sendiri),” Jawab Panji, lalu menyedot lagi rokok yang tinggal puntung pendek.

“Lho kok dibiarkan,” potong Shohib, “Itu sama saja membiarkan brisik. Juga sama dengan membolehkan warga sini masuk kristen. Apalagi disini banyak anak-anak. Kalau mereka sering mendengar kata haleluya, Yesus, kan berbahaya!”

“Pak Shohib berani melempari Gereja itu sendirian?” Tanya Panji.

“Ya jangan sendirian, bersama-sama, lewat semak-semak timur Gereja, kan gelap.”

“Pak Tholib, kang Jhoni, berani?” Panji Tanya lagi.

“Waduh, gak,” jawab pak Tholib.

“Apalagi saya,” Jhoni menjawab.

“Rika (Anda), kang Medi?” Panji Tanya Medi, sambil memegang dengkul Medi.

“Babar blas ra wani (sama sekali tidak berani),” kata Medi.

“Sampean semua tidak berani, apalagi saya yang tidak sepakat. Sudahlah, delengna bae, nek kesel kan liren dewek,” Kata Panji.

“Seperti ini saja,” pak Tholib menyarankan, “laporkan ke pak lurah, lebih baik itu.”

“Ya, silahkan lapor sendiri, mau lapor tidak?” Panji bertanya.

“Yang dilaporkan apa?” Pak Tholib malah seperti bingung.

“Bagaimana sih, katanya Gereja itu brisik, merusak iman. Ya itu yang dilaporkan,” Panji mengulangi perkataan Shohib sebelumnya.

“Tidak setuju. Kalau lapor pak lurah, ya seperti yang saya katakan tadi, pak lurah bisa saja membela Gereja. Alasannya, itu hak azazi. Sekarang pak lurah berteman dengan mas Kholid, pemuda utara desa yang ikut LSM. Setelah bergaul dengan mas Kholid, sekarang pak lurah pinter ngomong hak azazi,” kata Shohib. Matanya berkerut, seperti marah, tapi bingung.

“Nah… kalau melempari Gereja tidak berani, lapor lurah juga tidak setuju. Lalu bagaimana?” Panji tanya lagi.

Diam semua. Persoalan sudah ada, tapi pemecahannya bingung. Semunya berfikir, mencari-cari pemecahan.

“Sudahlah, seperti pendapat saya tadi, delengna bae, nek wis kesel kan liren dewek,” Panji mengulangi pendapatnya.

“Kang Panji bagaimana sih. Kita diganggu kok malah diam. Iman tambah rusak juga diam. Maunya bagaimana sih?” Shohib bertanya lagi.

“Kalau kita brisik, apa orang kristen tidak terganggu?” Tanya Panji.

“Maksudnya?” Shohib. Kaget.

“Lho, kita sehari sampai lima kali memakai pengeras suara, keras, untuk adzan. Apa orang kristen tidak terganggu? Apa mereka tidak khawatir iman mereka rusak karena sering dengar adzan?” Panji menjelaskan.

Semua diam. Shohib menggeser posisi duduknya. Mikir.

“Tapi itu kan untuk ibadah, ya tidak mengganggu. Masa sih, orang beribadah kok mengganggu,” Shohib bicara lagi.

“Itu menurut kita kang. Menurut orang kristen? Apa adzan dengan memakai pengeras suara itu tidak mengganggu mereka?” Panji bertanya lagi.

Semua diam. Shohib juga diam. Tapi nampaknya ada perubahan di wajah Shohib mendengar argumen itu. Sejak awal yang mrengut, jadi cerah.

“Kalau dipikir-pikir betul juga ya. Kita mengganggu orang kristen sehari lima kali. Sementara orang kristen mengganggu kita seminggu sekali, setiap malam minggu. kristen memang agama brisik, Islam apalagi” Shohib berkata lirih, membenarkan.

“Pada-pada nganggu, aja pada ngganggu (Sama-sama mengganggu, jangan mengganggu),” Medi tiba-tiba nyemlong (berucap).

“Lah kuwe, jebul rika cerdas kang Medi (Lah itu, ternyata kamu cerdas kang Medi),” Panji nyenggol kaki Medi dengan kakinya.

Malam semakin larut.

“Ya wis nyong bali sit (Ya sudah, saya pulang dulu),” Shohib minta diri.

“Jangan lupa kang, pada-pada nganggu, aja pada ngganggu,” Medi memberi pesan lagi.

“Nyong dadi seneng, ra kaya mau mumet…brisik… (Saya jadi senang, tidak seperti tadi, mumet….brisik….,” kata Shohib.

Shohib ambil sandal, pulang.

***

Wajah Shohib menjadi merah. Bagaimana tidak? Dia pulang didapati istrinya sedang dikerubungi orang kristen. Dua perempuan berjilbab Gereja memijit kaki dan tangan istrinya, Waroh, yang bersandar di dipan (semacam tempat tidur kecil, untuk bersantai) yang ada di ruang tamu rumahnya.

Tidak bisa berkata apa-apa si Shohib, apalagi di situ ada banyak orang kristen yang biasa dia lihat di Gereja itu. Ada juga si pendeta. Shohib mendekati istrinya, yang sudah menemani hidupnya selama duabelas tahun disitu. Dipegang tangan istrinya.

“Kang, njaluk ngapura ya (kang, minta maaf ya)?” istrinya terbata-bata.

Shohib tidak berkata apa-apa, hanya menganggukan kepala. Lama keduanya berpandangan. Tapi Shohib tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Bingung, apalagi disitu banyak orang kristen.

“Nyuwun sewu pak Shohib (Maaf pak Shohib),” tiba-tiba sang pendeta mengucapkan sesuatu, “Setengah jam lalu, bu Waroh menjerit. Saya dan teman-teman baru keluar Gereja , mau pulang, langsung kesini. Saya lihat bu Waroh jatuh di halaman rumah, dan pinsan. Saya dan teman-teman tidak tahu kenapa. Lalu kami bopong bu Waroh ke dipan ini.”

Shohib bingung. Apalagi ketika pendeta itu mengatakan baru membopong istrinya. “Dibopong orang kristen? Pendeta? Orang Kafir? Yang suka brisik itu?” batinnya bertanya-tanya.

“Tapi kenapa Waroh, istrinya? Kenapa jatuh di halaman? Sebabnya apa, apalagi bibirnya sampai berdarah?” batinnya bertanya lagi. Tapi tak ada jawaban. Shohib juga tidak segera menjawab pendeta itu, karena tiba-tiba anaknya dari dalam rumah keluar terus memeluk Shohib.

“Bapak saking pundi sih? Ibu kat mau nangis-nangis, terus nggoleti bapak, terus dawah teng ngarepan (Bapak darimana? Ibu dari tadi menangis, mencari bapak, lalu jatuh di halaman),” anaknya bercerita.

Mendengar itu, Shohib baru ingat. Sebelum pergi ke Gardu ronda, dia marah-marah kepada istrinya, gara-gara orang kristen di Gereja itu brisik. Lalu Shohib memutar musiknya Wafiq Azizah, keras-keras. Istrinya mengecilkan volume VCD, dan dia marah karena itu, lalu menempelengnya. Setelah itu dia pergi ke Gardu ronda itu.

Rasa bersalah tiba-tiba muncul di hati Shohib. “Tapi mengapa yang menolong orang kristen? Pendeta? Orang Kafir? Yang brisik?” batin Shohib bertanya lagi. Tetapi tidak ada yang menjawab.

“Pada-pada ngganggu, aja pada ngganggu.” Tiba-tiba Shohib ingat perkataan kang Medi di Gardu tadi. “Terimaksih kang Medi, kamu memang orang baik. Kapan-kapan saya belikan becak baru,” tiba-tiba batin Shohib bernadhar (berjanji) ketika ingat Medi, yang hanya tukang becak, tetapi banyak mengajarinya tentang kearifan.

“Mohon pamit pak Shohib,” tiba-tiba pendeta mohon diri.

“Oh..oh…maaf…maf..pak pendeta…..monggo…,” jawab Shohib terbata-bata, grogi.

***