Antara enaknya jadi rakyat Indonesia dengan jajan bareng mbak Tanti, tapi?!….

Posted on 22 July 2011

34


Walaupun ini sebenarnya bukan topik aktual tapi masih anget koq untuk dibahas…yuk lanjut!

Jujur!…sumpah!…suer!…ternyata jadi ‘rakjat’ dinegeri yang berlabel Indonesia ini sungguh wuenak puool. Ngga percaya? lha wong harga bensin dengan kualitas ‘telek lencung’ aja cuman dibandrol Rp.4.500,- per liter coba bandingkan dengan negara-negara tetangga terdekat yang kondisi ekonominya lebih sejahtera dibanding negeri ngeri ini…lhak yo isoh mrongos ‘mereka’ melihatnya, terus ada lagi ni…rokok yang harusnya khusus diperjual belikan bagi konsumen berumur minimal 17 tahun aja bisa dinikmatin anak es-de dengan mudahnya…udah gitu bisa dibeli eceran lagi…piye jal?…apa ngga wuenak puool itu…klepas-klepus…bulll, masih butuh bukti lagi? bagi saudara-saudara kita yang bertempat tinggal didaerah pinggiran (atau mungkin terpinggirkan) yang jelas-jelas buat makan dengan layak 3 kali sehari aja sudah megap-megap…karena pingin dianggap sebagai bagian ‘masyarakat aktual‘…ngambil kredit motor dengan de-pe 0 persen tanpa survey juga guampang…cukup pagi dateng ke dealer, sore barang sudah dikirim kerumah kontrak’an tipe 21 alias RSSSS (Rumah Sangat Sulit buat Slonjoran Sekeluarga)…walaupun nanti konsekuensinya tambah mangap-mangap mulutnya karena jatah cacing diperut juga ikut kesunat buat bayar cicilan dengan bunga mencekik leher selama 4 tahun…tapi yang penting terlihat wuenakkk didepan dulu dan juga mampu dipandang wahhh sama tetangga kanan-kiri tho?

Memang fenomena aneh bin ajaib ini sangat lumrah terjadi disekitar kita dan mungkin saking umumnya sudah kita anggap sebagai pemandangan sehari-hari lah. Lak yo ngono tho?

Saya sendiri sebagai rakyat ‘gemblung’ dari negeri yang kata-katanya sudah merdeka selama hampir 66 tahun ini juga tidak habis pikir, kenapa koq pemerintah kita bisa dengan ‘entengnya’ memberikan akses kemudahan bagi rakyatnya secara tidak langsung. Apa gara-gara sistem democrazy yang sejak tahun 1998 kemarin diteriakkan jadi ‘mereka’ peka dengan jeritan suara kaum jelata? Lihat saja…buat contoh ni…rakyat pengin bensin murah, hal tersebut dikabulkan walaupun belakangnya nanti pecas ndahe untuk ngoprek cara bagaimana bayar hutang subsidi yang dipinjamkan oleh badan negara dunia bersistem ‘bang plecit’ dengan bunga nggilani…yang penting rakyat seneng sik soal masalah lain pikir belakang. Contoh kedua…rakyat menghendaki alat transportasi yang mudah dijangkau kepemilikannya dan difasilitasi akses kemudahannya…yaaa…seperti yang sudah saya bilang diatas, melalui ‘perpanjangan tangan’ dari pihak terkait, sektor industri khususnya otomotif digenjot habis-habisan supaya apa? supaya kepemilikan moda transportasi pribadi yang diinginkan rakyat terpenuhi walaupun sebenarnya ada udang dibalik bakwan bu Ngatiyem…wuenak kriuk-kriuk!…lha kalo kendaraan pribadi sudah muncrat tidak karu-karuan kemana-mana akibat kocok’an vagina mbak Hartanti lonte pinggir jalan yang kenceng tapi lower…walhasil pemerintah ‘gulung koming’ memikirkan bagaimana lagi cara untuk menampung aspirasi kaum bawah agar mereka bisa menikmati fasilitas ultra-sableng ini…yak! pelebaran jalan merupakan salah satu kunci jalan keluar…walaupun sebenarnya itu akan memperuwet kondisi pada akhirnya…yang penting untuk sementara rakyat ngrasain wuenakkk dululah…kalo pelebaran jalan sudah dianggap gagal, lagi-lagi jurus doggy style ala pemerintahan kita akan dikerahkan…seperti mbak hartanti menelan sperma mas Kamto si buruh angkut pasar yang rasanya tidak wuenakkk tapi demi memuaskan pelanggan maka dibilang, “lagi mas…?”…so pembatasan jumlah kendaraan ‘mungkin’ dianggap solusi jitu, tapi….mbuh lah!

Sebenarnya sebagai rakyat cilik nan gemblung yang dianggap basi, jadi heran sendiri dengan saudara-saudaraku yang berpikiran keminter dinegeri ini…tiap hari mintanya ini-itu ketangan penguasa negeri, opo yo ora mikir dibalik fasilitas yang diberikan pastilah ada apa-apanya dibelakang…mbuh besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan, jika segala udang dibalik bakwannya tersingkap…apa ngga sampean sendiri yang nantinya kelimpungan menanggung beban ‘depresi’ pemerintah kita? coba renungkan itu…

Tapi bola-bali masyarakat kita ini mempunyai mental yang kurang mampu prihatin walaupun keadaannya sudah mendukung, diminta berpikir lebih jauh kedepan tapi pinginnya malah penak didepan…lha kalo sudah dioprak-oprak baru getun dibelakang…menghujat yang nggak-nggak kesistem yang ada, padahal jika dikaji agak kedalam segela akar permasalahan yang timbul diatas asalnya juga dari bawah…

ahhh…dari pada mikirin masalah yang ruwet seperti ini mending ngenthu lagi dengan mbak Hartanti aja lah…tapi lha koq mbak hartanti malah mlayu ya?…lohhh koq malah ngambil sepeda ku ya? padahal itu sepeda besok mo tak buat angkat-angkat barang dagangan pak Alim kepasar…waduh cilaka ni!….hoi!…mbak sepedaku mo dibawa kemana? ini aq mo nambah ‘jatah’ lagi!…piye tho iki?!

“Sorri mas! digang depan ada garukan Satpol PP katanya lagi nglakuin Operasi Pekat…maklum mo bulan puasa, aq pinjem pit mu sik ya! sesuk ‘jatahmu’ tak dobeli gratis!”😀

Posted in: Petuah & Opini