Arti sebuah ngopi.

Posted on 27 July 2011

25


Situ suka ngopi? kalo iya…akur deh dengan saya, emang menikmati secangkir kopi bagi para kopimania sensasi rasanya melebihi aktivitas ‘blow-job’, ngga percaya? saya juga koq….

Kopi tubruk alias kopi berampas hitam pekat merupakan favorit saya walaupun jika dibelikan Cappucino dengan taburan Choco Grano diatasnya adalah impian saya bagi seorang dermawan seperti situ yang lagi baca tulisan ini ;-D. Jujur! dalam sehari saya hanya mampu menghabiskan 4 gelas kopi kalau tidak mau malemnya terserang imsonia, emang ngopi adalah peneman rutinitas yang sempurna bagi saya…seperti saat ini juga ketika artikel ngga penting ini diketik, kopi tubruk dengan sedikit taburan garam adalah peneman rehat siang nan istimewa.

Ngga cuman ketika berada didepan komputer kantor aja, disaat ngobrol dengan rekan kerja atopun nyantai bareng dengan tetangga dirumah…rasanya terasa hambar jika kopi tidak terhidang. Apalagi ketika datang bertamu dengan waktu yang agak lama…disaat siempu rumah tidak berbasa-basi menawarkan minum…yeah sekedar ngopi lah….dijamin akan terasa hambar kunjungan tersebut…hehehehe.



Menurut pandangan saya sebagai sosok yang keminter, kopi merupakan salah satu wujud simbol yang mengandung makna sosiologis nan mendalam lho. Bingung tho? kalo iya…akan saya perjelas artinya dengan cara bodoh.

Saat ini saya tinggal disebuah rumah daerah pinggir perkotaan, seperti yang situ tahu atau mungkin tengah alamin…yang namanya hidup individual khas masyarakat kota besar telah mewabah kelevel kelas bawah seperti ditempat saya tinggal. Hampir jarang rumah-rumah dikanan-kiri, depan-belakang milik tetangga yang terbuka…padahal setahu saya, sama seperti para pemilik rumah yang berstatus pekerja pada umumnya…pukul 5 ato 6 sore adalah waktu saatnya tiba dirumah. Tapi entah apakah mereka capek atau malas untuk bertegur sapa dengan sesamanya yang tinggal satu komplek, pintu rumah yang mereka banggakan enggan terbuka walaupun sedikit saja.

Sungguh terlalu mereka ini! sampai sebegitu pentingkah kehidupan pribadi saat ini? perlu diketahui, para ‘manusia-manusia penyendiri’ ini hanyalah berstatus pekerja pabrik, karyawan swasta, atapun PNS golongan ‘kacung’…ya…golongan kacung yang jika ditafsir penghasilan perbulannya tidak lebih dari 1,5 juta rupiah…lahhh! dengan penghasilan segitu saja mereka sudah bergaya hidup sok semugih…sok kaya…sok tajir…sampai-sampai acara ‘bergumul’ dengan tetangga satu komplek aja  dianggap sebagai bentuk ‘beban hidup’.

Padahal apa sih susahnya cangkruk’an bareng? apalagi kalo ditemani dengan segelas kopi…bagi yang ngga suka ngopi khan bisa diganti teh ato air putih asal jangan rokok aja, sekedar saling untuk bertegur sapa atau berbincang ringan membahas mulai dari motor baru, politik telek minthi, hingga siapa sih karyawati ‘hot’ ditempat kerja masing-masing…khan enak tho…bukan hanya stress beban kerja yang hilang tapi semangat persaudaraanpun tentunya akan terbentuk dengan baik.

Ya…dengan ditemani kopi sebagai teman ngobrol, walaupun tanpa topik berarti orang-orang bisa saling duduk bersama….jadi arti dari makna sosiologis nan mendalam sebuah kopi…bagi saya adalah media pertemuan antar masyarakat yang kini kian lama kian tenggelam dengan gaya hidup individualisme tingkat akut…parah!

Akhirnya…mari kita tingkatkan semangat paseduluran dikehidupan sekitar situ tinggal, mari ngopi-ngopi…

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini