Bener-bener stress!

Posted on 14 September 2011

8


Kali ini saya pengin cerita kepada sodara-sodara sekalian, tapi ini bukan cerita seks ato seputar urusan selakang lho ya…jadi nanti kalo ada nyang merasa kecewa atas cerita saya ya mohon dimaapin aja. Kali ini saya mo cerita tentang polisi + kusir – kuda = stres, sebenernya cerita ini adalah hasil komen dari salah satu artikel saya nyang dibuat oleh pengunjung ber’nick-name Sobek-Sobek. So cekidot…

Situ udah pernah denger istilah ‘debat kusir’? kalo belum syukur deh, soale saya mo ngejelasin asal mula kata dari tersebut. Ceritanya sih begini…

Pada suatu ketika dinegeri nyang judulnya Endonesia, tengah terjadi kejadian konyol antara seorang pengendali kuda alias kusir dengan seorang polisi patroli jalan raya karena hal sebage berikut…

“Selamat pagi pak, mohon berhenti sejenak”, datang seorang Polisi nyang barusan turun dari motor dinasnya, Kawasaki D-Tracker 150, lalu menghampiri sebuah delman yang berusaha ia hentikan karena dianggap melanggar rambu lalu lintas.

“Iya pak, ada yang bisa dibantu?”, jawab pak Kusir.

“Bapak tahu itu tanda rambu lalu lintas apa?”, tanya si Polisi sambil tangannya menunjuk kesebuah rambu yang berdiri tegak dibawah traffic lights tepat dibelakang mereka.

“Tahu pak, dilarang bebelok kekiri sewaktu lampu merah”.

“Lha kenapa sodara nekat belok ke arah kiri?”

Kali ini pak Kusir cuman diam sebentar sambil menenangkang kudanya karena tiba-tiba raungan sepeda motor matik warna merah dengan knalpot racing tengah berusaha mengejar lampu hijau yang beberapa detik kemudian berganti merah.

“Sumpah pak saya ndak berniat ngelanggar rambu tersebut”, kilah pak Kusir.

“Tapi buktinya anda telah melanggar, ya udah gini aja mari kita selesaikan urusan ini di pos ujung sana!”, ajak si polisi sambil tangannya menunjuk arah pos tempat dimana ia selalu menghabiskan waktu tugasnya sembari mengawasi kondisi lalu lintas, siapa tahu aja ada pengguna jalan yang bisa dicari-cari kesalahannya, maklum kebutuhan tanggal tua jek!

Karena merasa tidak melakukan kesalahan maka pak kusir pun juga berusaha mengelak, “Baik pak! saya ngaku melanggar, tapi itu bukan kemauan saya lho, sumpah pak…”

“Ah…! itu kan akal-akalan bapak saja, sudah-sudah mari kita selesaikan ke pos saja!”, tegas si polisi.

“Sabar pak…sabar, seperti yang saya bilang tadi, saya ini tidak ada keinginan melanggar rambu tersebut, tapi bagaimana kalau si kuda saya yang punya keinginan? saya kan nggak bisa bahasa kuda…”, kilah si kusir.

Sedetik kemudian pak polisi pun bengong sambil ngelirik si kuda berwarna coklat didepannya tersebut, dan anehnya begitu tahu dirinya tengah dilirik sikuda pun nyengir sambil meringkik.

Belum hilang rasa sewot si polisi, pak kusirpun lagi-lagi nambahin kedongkolannya, “Gimana pak? silahkan aja kalo mo dimintai keterangan atopun diproses, soale khan saya udah ngasih penjelasan tapi kuda saya belum…”

Mungkin karena merasa dilecehkan, si polisi pun bicara ngotot seraya menahan emosi ke kusir kuda kampret tersebut, “Ah! pintar-pintar saja anda mengelak! logikanya kuda tersebut adalah milik anda! sudah-sudah! sekarang sebaiknya ikut saya saja ke pos, mari kita selesaikan pertanggung jawaban masalah anda disana!” (ehh…bener-bener emosi nih polisi, tu buktinya dari kata ‘bapak’ berubah jadi ‘anda’, pake tanda seru lagi).

Karena merasa kekeh tidak bersalah sikusir kudapun tidak kalah sengit ngebalas gertakan si polisi, “Bapak ini gimana tho?! khan sudah saya kasih penjelasan dan keterangan, jangan mentang-mentang bapak make seragam lantas saya takut! tidak ada undang-undangnya pak menyalahkan orang karena logika!”

Karena merasa terpojok dan gondok berurusan dengan orang yang ‘salah’, salah sangka dipikir ni orang akan dengan mudahnya mengeluarkan rupiah demi menutup masalah jalanan, tapi…

Baiklah kalo gitu! bagemana kalo bapak berdamai saja…”, pinta si polisi.

“Damai gimana pak maksudnya?”, tanya pak kusir sambil kebingungan.

Ya, demi menutup kasus ini bapak harus membayar saya biar masalah ini tidak diperpanjang sampe kekantor”, jawab si polisi sambil memonyong-monyongkan bibirnya ke wajah pak kusir.

“Ooo…gitu ya?”

“Iya…”

Akhirnya wajah si polisi tersebut agak berubah ceria karena dianggap sebentar lagi ia akan menerima uang ‘damai’ dari pak kusir.

“Baiklah pak!, silahkan bapak sendiri yang ngomong kekuda saya, saya tak sarapan dulu diwarung depan sana…”, tutup pak kusir kesal sembari berlalu ninggalin si polisi dengan wajah blo’on nya.

Demikian dari saya,

Salam.