Drive (2011).

Posted on 6 October 2011

9


Kisah seorang laki-laki yang dari awal sampe akhir film jarang menyebutkan nama aslinya dan memilih orang lain disekeliling untuk memanggil dirinya Driver (Ryan Gosling) merupakan sosok yang cool, tapi expert. Kesan cool ia pancarkan dari mimik wajahnya yang emang sedingin es dan tidak banyak bicara, sedangkan kata expert ia berikan dari kemampuannya dalam mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan mobil, dari menjadi montir, pembalap, stuntmen film, hingga menjadi sopir khusus jika ada orang menyewanya untuk melarikan diri dari perampokan.

Dan dari keahliannya dengan membawa kabur para perampok inilah menyeret Driver kesebuah labirin berujung fatal. Karena niatnya membantu suami dari tetangganya, Irene (Carrey Mulligan) seorang ibu muda dengan problematika hidup sejak ditinggal masuk penjara sang suami, Standart (Oscar Isaac), yang secara tidak sengaja pula membuatnya jatuh cinta. Kini setelah bebas, ternyata Standart terlilit banyak hutang ketika masih berada dibalik jeruji besi. Untuk menutup hutang tersebut, Standart bersama rekannya merencanakan perampokan yang melibatkan Driver sebagai juru kunci kabur dari tempat kejadian. Tapi ketika aksi perampokan itu menjadi berantakan, ternyata malah membawa petaka tersendiri bagi Driver karena uang yang Standart rampok sebenarnya milik sindikat Mafia kelas kakap dan parahnya kini uang tersebut berada ditangannya. Bisa anda tebak sendiri kan bagaimana kisah lanjutannya?

Menyaksikan film berjudul Drive (2011) ini mengingatkan saya akan sosok Frank Martin dalam franchise The Transporter, seorang driver handal yang jago kabur dari kejaran pihak berwajib ketika tengah menjalankan tugas dari orang yang membutuhkan kelihaiannya. Tapi bedanya difilm ini unsur aksi benar-benar dipangkas kadarnya hingga 70% kemudian sisa slotnya diisi oleh unser drama dan thriller. Walaupun Drive bukanlah film aksi murni yang mengambil tema chasing car sebagai backgroundnya ala film sejenis, tapi percayalah selama 100 menit durasi tayangnya, saya sebagai penonton akan dibuat tidak pernah bosan mengikuti alur yang terjalin walaupun diparuh awal pace cerita agak berjalan lambat.

Duduk dibangku sutradara yakni Nicolas Winding Refn yang sebelumnya telah sukses membawa Valhalla Rising (2009) sebagai film bertipikal art house gelap, kini lelaki asal Denmark tersebut didapuk kepercayaannya buat mendirect Drive sesuai dengan apa yang sebelumnya berhasil ia eksekusi. Saya bilang Drive juga bisa masuk tipikal film bergenre art house walaupun kadar ceritanya tidak seberat Valhalla Rising, hal itu bisa dilihat dari gaya penampilan sinematographinya yang mengambil basis dual tone, yakni ketika adegan bersetting malam hari, sistem pencahayaan bisa nampak remang dengan balutan indah visual kota Los Angles yang angle gambarnya selalu dishoot dari atas. Dan ketika setting siang hari berganti, pencahayaan film berasa terlalu benderang dengan sudut pandang gambar yang tidak lazim, misal pengambilan gambar terlalu fokus pada mimik si Driver yang dingin kemudian dikontraskan dengan sapuan bersih jalanan kota L.A.

Overall, Drive menurut saya merupakan salah satu film wajib tonton. Bagi anda yang mencari tontonan sinema berseni tinggi, maka hal itu bisa anda dapatkan, memang dibeberapa scene akan ditemui beberapa adegan disturbing macam kepala diinjak sampai pecah ataupun aksi pembunuhan dihotel, tapi percayalah itu malah menjadi penyedap dalam alur cerita. Dan, o iya…mengenai music scoring, rasa-rasanya soundtrack bergenre lagu seperti era 80’an terasa pas untuk menambah tensi cerita.

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Resensi Film