Mereka bilang itu Kristenisasi!

Posted on 8 October 2011

47


Sebelumnya saya bilang, artikel ini bener-bener ndak penting. Jadi kalo ada kata yang ndak bikin enak mata, telinga, maupun hati situ ya jangan buang-buang energi buat nyampah disini. Wokei?

Suatu pagi disebuah daerah dikampung Praon, Nusukan, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah, Endonesia.

“Lho bu, kok disini? nungguin siapa didepan gereja?”
“Eh, mmm, anu bu…itu…e…”
“Lho kok keliatan bingung gitu?”
“Gini lho bu, sebenarnya saya lagi nungguin si Ahmad ma adik-adiknya, kata bapaknya ia disuruh ngikut sekolah minggu digereja sini aja tiap minggu”
“Astopilluloh bu Darmi! jadi sampean mbalik agamanya si Ahmad? iling bu! itu sama aja ndidik anak sampean jadi kafir, kafir itu besok adanya diintiping neroko!, sekali lagi ileng lho bu!”
“Ya, sebenarnya saya juga keberatan bu, tapi mau gimana lagi?!. Bu Watik kan tahu sendiri, bapaknya si Ahmad kerjanya cuman buruh bangunan, jadi pendapatannya ndak seberapa tho. Terus Ahmad masih ada 2 adik lagi, si Putri dan si Akhsan yang masih butuh biaya sekolah. Abot bu kalo aku ndak ngikutin anak-anakku di sekolah minggu sini.”
“Lha kenapa harus ke sekolah minggu? sudah jelas itu tempatnya wong Kristen bu! wong aneh sing nyembah palang pentheng sambil nyanyi lunjak-lunjak. Ojo nganti bu wong Islam masuk gereja, mau dibawa kemana harga diri sampean?!”
“Lha aku musti gimana bu? kalo ngikut sekolah minggu dan rajin hadir, pihak gereja akan ngasih bantuan pembayaran SPP, sudah gitu setiap bulannya mendapat bantuan alat tulis serta keperluan sekolah secara cuma-cuma, dan tiap kali datang ke sekolah minggu, anak-anak yang hadir akan diberikan bingkisan walopun isinya cuman jajanan pasar ala anak kecil. Tapi mereka senengnya minta ampun…Dan yang penting bantuan mereka bisa meringankan beban hidup kita sekeluarga, bu.”
“Astopilluloh! itu namanya sampean sudah terkena Kristenisasi bu!”

Oke cerita preambule diatas saya hentikan cukup sampe disitu aja, karena kalo saya terusin mungkin situ akan capek bacanya, yang penting pointnya udah dapet dulu kan?

***************

Tidak dipungkiri, dinegeri berjudul Republik Endonesia ini banyak warga berstatus dibawah garis kemiskinan masih berjubel jumlahnya, sangat kontras memang dengan pidato-pidato pak presiden jika sedang ada acara kenegaraan menyebutkan jumlah angka kemiskinan cenderung menurun karena sektor ekonomi mikro sebagai tulang punggung kelangsungan hidup wong cilik berangsur membaik, secara teoritis sih memang seperti itu tapi kalo dilapangan kan lain cerita, ya ndak bos?!. Dan secara kebetulan serta bener adanya, mereka masyarakat yang bernasib kurang beruntung ituh dalam KTP nya bertuliskan agama Islam.

Sementara dilain pihak, masyarakat yang tiap minggu datang berbondong-bondong kesebuah tempat yang berjudul Rumah Tuhan untuk menyayikan lagu pujian serta ngedengerin kotbah dari pemimpinnya, nyatanya juga tengah mencari jemaat baru guna mengisi banyak baris kosong dikursi belakang tempat ibadahnya. Seperti yang saya tahu, untuk mencari jemaat baru ini pihak yang menamakan kepercayaanya Kristiani melakukan pendekatan dengan cari ‘touching your heart‘.

Melakukan kegiatan amal berupa pemberian bantuan atopun santunan kepada warga kurang mampu dilingkungan sekitar adalah ‘rayuan‘ utamanya untuk menarik simpati calon jemaat. Sebage satu contohnya sudah saya tuliskan dipreambule atas, jadi jangan bingung bagemana cara pihak yang menamakan dirinya missionaris tersebut melakukan perekrutan.

Memberikan ‘pelayanan‘ dengan penuh kasih, tanpa nampak adanya dinding pemisah antara sipemberi dan yang diberi adalah penampakan yang sering kali saya lihat. Setelah acara ‘remeh temeh‘ sukses terlaksana, tidak lama kemudian ‘dongeng‘ akan Yesus Kristus yang merupakan Tuhan serta Juru Selamat bagi yang percaya pada-Nya akan diselipkan, syukur-syukur orang-orang yang dibantu nantinya mau berbelok pemikiran untuk ninggalin ‘baju lama‘ lalu mengenakan ‘baju baru‘ serta turut serta meneriakan ‘Haleluya‘ dibarisan belakang kursi kosong Rumah Tuhan barunya.

Dan sialnya orang-orang ndak mampu yang masih terjebak dalam taraf hidup dibawah garis kemiskinan tersebut tidak sedikit yang rela menanggalkan baju lamanya demi mendapat baju baru. Logikanya, siapa sih yang ndak mau dikasih sesuatu berbau kemudahan duniawi dengan imbalan kalo mati nantinya masuk ke surgawi? ini bukan lagi masalah mempertahankan ‘baju lama‘ bos tapi sudah merambah keurusan perut, kalo sudah menyangkut urusan perut, insting manusia pastinya akan bekerja instan, walopun itu harus menjilat ludah sendiri asal bisa tetap bertahan hidup kenapa ndak dilakuin, iya ndak?

Nah, sekarang yang menjadi topik akan bu Watik temannya bu Darmi diatas adalah, tatkala ia mengingatkan soal Kristenisasi kepada karibnya tersebut, apa yang akan dilakukannya sebagai sesama sekepercayaan? Contoh seperti diatas bukanlah hal yang saya buat-buat, sering kali saya melihat atopun mendengar hal seperti itu, lha wong Rumah Tuhan yang saya maksud letaknya tepat disebelah barat rumah orang tua saya. Cuman yang mbikin saya nyengir akan homo sapiens yang gemar menasehati tapi ndak bisa ngasih jalan keluar nan bijak kepada sesamanya adalah, apakah yang akan ia lakukan jika kondisinya dibalik, itu saja.

Kenapa tidak melakukan hal yang sama dengan para missionaris tersebut, setidaknya. Secara berkelompok memberikan bantuan terencana kepada saudara seiman yang membutuhkan bantuan biar ndak berpaling dari Tuhannya, bukan cuma ngumpulin zakat buat nambal sulam rumah ibadah agar nampak lebih mewah ketika dipakai sujud berjamaah menyembah Sang Pemberi Hidup. Lha kalo ada pihak lain menawarkan sesuatu yang lebih kepada rekan seimannya agar terentas dari masa sulit, eee…malah menyalahkan yang bersangkutan serta mengucilkannya seraya memberikan label Murtad. Toh didunia ini ndak ada namanya pemberian yang benar-benar gratis bos, jikalopun orang yang kurang mampu itu ditolong lantas mengucapkan terima kasih dengan cara mengikuti ‘rayuan‘ sipemberi pertolongan, ya jangan disalahkan. Lha wong dari sesama seagamanya aja masih sibuk ngurusin urusan perut sendiri gitu kok, padahal kalau cuman menyisihkan 2,5% harta buat mbantu sodaranya biar tidak terkena Kristenisasi, emang seberapa berat sih?

Wis jan lucu banget manusia-manusia macam gini. Lantas apa hal yang sodara-sodara lakuin jika sering melihat fenomena diatas? Apakah ikutan nyengir seperti saya?

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini