Antara rokok, pahala, dan dosa.

Posted on 18 October 2011

35


Lagi-lagi saya mbuat artikel yang ndak mutu. Saya harap situ ndak mbaca artikel ini sampe selesai karena hanya akan mbuang enerji sia-sia! Kalo ndak percaya ya silahkan, jangan salahin saya nantinya.

“Yah, ayah, tau nggak yah…Pak Sarbini Rt.4 itu lho kalo ngerokok yak ampunnn!, udah persis kaya asep cerobong kereta api aja, ngebulll terus. Apa ndak khawatir ma kesehatannya ya?”
Kesehatan opo tho mah?
“Ya kesehatan paru-parunya, lha wong tiap hari diasepin gitu kok”
Ah siapa bilang merokok merugikan kesehatan, bo’ong itu
“Bo’ong gimana tho yah? udah jelas-jelas dibungkusnya juga udah dikasih peringatan gitu kok”
Halah! tau ndak mah?! tulisan peringatan kaya gitu tu tuh hanya hasil permainan tangan berkuasa yang ndak keliatan. Itu hasil tipu muslihat wong barat, sebenarnya. Wong barat itu sama dengan kafir, tahu kan kafir itu apa mah? sekutunya setan
“Lho kok malah mbawa kafir segala tho ayah ini. Bukane tulisan peringatan dibungkus rokok itu atas dasar dari himbauan pemerintah kita yang masih peduli akan kesehatan rakyatnya? piye tho ayah ini?!”
He..he..pinter juga mamah ini. Sebenernya gini mah, menurut analisa ayah, pak Sarbini ato para perokok lainnya itu rela mengeluarkan uang demi menikmati kebul itu juga ada niat baik dibelakangnya lho…
“Baik gimana tho yah? wong ngrokok kok baik yang ada juga malah mendatangkan penyakit”
Eh, kalo ayah ngomong itu jangan dipotong dulu! denger penjelasan ayah dulu sampe selesai. Maksud ayah, dengan pak Sarbini ngerokok berarti secara tidak langsung beliau ini telah membantu banyak kelangsungan hidup para manusia-manusia dibelakang industri tersebut untuk tetap bisa melangsungkan hidupnya secara wajar. Lha kalo pak Sarbini tidak merokok ato orang-orang yang gemar menghisap rokok tiba-tiba berhenti merokok, bagaimana dengan nasib orang-orang yang ayah sebutin tadi? bagaimana dengan nasib anak-anak mereka? bagemana dengan nasib keluarga mereka? Bukannya di agama kita juga diajarkan untuk saling membantu sesama tho mah. Dan perlu diketahui, tidak sedikit dari mereka para pelaku bisnis rokok ini merupakan orang sekepercayaan seperti kita. Jadi sudah seharusnyalah saling membantu sesama seiman. Iya tho?
“Berarti kalo tidak merokok itu sama aja dengan menyengsarakan sesama seiman ya?”
Bener mah, dan hukumnya menyengsarakan sesama seiman itu dosa lho!
“Oooo…gitu ya yah? berarti mulia sekali ya yah pahal orang yang merokok kaya pak Sarbini itu”
He’eh
“Lha tapi bagemana dengan anak istrinya yah? bukane kalo menjadi perokok pasif itu lebih rawan terserang penyakit paru-paru dari pada siperokok itu sendiri? lha kalo gitu kan juga dosa namanya udah nyakitin keluarga sendiri”
Mah, coba berpikir lebih luas. Apalah arti dosa kecil dibanding pahala besar yang diraih nanti ketika sudah tiba waktunya? bener para perokok macam pak Sarbini pasti melakukan dosa terhadap keluarganya ato satu dua orang disekitarnya karena udah menjadikan mereka sebagai perokok pasif. Tapi mah lihatlah lebih jauh, lebih dosa mana dengan menghentikan bantuan kepada sesama seiman dengan tidak membeli tiap batang rokok demi kelangsungan hidup mereka? coba bayangin jika saudara seagama kita tidak bisa menyekolahkan anaknya karena pabrik dimana mereka bekerja sebagai buruh rokok bangkrut karena produknya tidak ada yang mbeli, coba rasakan kelaparan tiap orang yang tidak bisa membeli kebutuhan makan karena hasil panen tembakaunya terbeli dengan harga dibawah pasaran karena banyak industri rokok merugi gara-gara pasar sepi. Sekali lagi cobalah berpikir lebih akan hal itu mah?
“Jadi lebih baik mengkorbankan keluarga sendiri untuk bisa membantu sesama ya yah?”
He’eh. Dan tentunya ni mah, perlu mamah ketahui. Orang-orang macam istri ato anak pak Sarbini itu pasti mendapat pahala serta kemuliaan dari Awlloh yang sangat luar biasa besarnya, karena apa? karena mereka sudah membantu menjalankan perbuatan baik dari sang kepala keluarga buat kebaikan sesama umat seagama
“Bentar yah, sik bentar aku tak mikin bentar ya…”
Mikir apa lagi tho mah? kan udah ayah jelasin semua
“Gini lho yah, masa dengan ngerokok walopun itu banyak merugikan diri sendiri ato orang lain, tapi nyatanya malah mendapat banyak pahala dan berakhir masuk surga. Kok aku malah bingung setelah ayah kasih penjelasan ya…”
Lho kenapa mesti bingung mah? Asal para perokok itu sebelum ngudut nyebut ‘Bismillah’ niscaya pahala yang ayah sebutin tadi pasti didapat, semakin banyak rokok yang dibeli semakin banyak pula pahala yang diperoleh. Yakinlah mah, perhitungan Awlloh itu tidak pernah meleset!
“Ooo…gitu ya”
He’eh mah
“Baik yah, mamah paham sekarang! mulai besok ayah harus ngerokok! biar bisa mendapat pahala kayak pak Sarbini gitu, wokei?”
????

Demikian dari saya,

Salam.