Balada si Rochmad (bagian.1)

Posted on 22 October 2011

28


Namanya juga anak laki-laki yang tengah memasuki masa puber, melihat gambar wanita pamer gumpalan lemak disekitar dada atopun indahnya daging segar bawah selangkang sewaktu mengangkang merupakan kenikmatan tersendiri bagi Rochmad. Sebelum saya bercerita lebih jauh akan lakon dia kali ini, saya akan memberikan informasi terlebih dulu kalau Rochmad ini adalah seorang siswa SMP empat tahun yang lalu, mempunyai postur tubuh tinggi besar layaknya anak muda jaman sekarang karena sejak kecil oleh ibunya dibiasakan makan minum dengan menu empat sehat lima sempurna. Dari sisi sosial Rochmad tergolong seperti anak muda kebanyakan, sekolah, les, pacaran, ato maen bersama rekannya adalah keseharian yang menyenangkan. Harap dicatat, walopun dia seperti kebanyakan anak muda saat ini yang kalau sudah maen lupa akan waktu apalagi Tuhannya, setidaknya menjalankan ibadah lima waktu seperti ajaran sang bapak yang berprofesi sampingan sebagai guru TPA dikampungnya selalu rajin ia jalankan. Maklum, pendidikan agama bagi keluarga Rochmad adalah yang pertama dan utama. Maka tidak heran jika Rochmad kecil tumbuh dengan doktrin religius tingkat tinggi dibanding rekan-rekan sebayanya.

Meskipun ia punya seorang ayah yang dianggap alim ulama dikampung, yang namanya anak muda tengah mencari jati diri, haus akan informasi juga menghinggapi pikiran Rochmad. Entah itu informasi penting macam palajaran sekolah hingga informasi ndak penting macam indahnya surga dunia lewat kacamata seksual juga ia rengkuh. Terutama sejak ia dekat dengan Nugroho teman sekelasnya yang mencemari otak Rochmad dengan majalah pria dewasa macam Penthouse atopun Playboy, maka sisi buruk Rochmad yaitu suka konak ndak jelas sering menggebu-gebu. Dan parahnya lagi, kini ia bingung harus bagaimana melampiaskan penisnya yang udah cenat-cenut ndak karauan itu. Bahkan dengan dibantu mimpi basah tiap minggupun itu dirasa masih kurang, bagi seorang Rochmad seminggu sekali itu dianggap masih jarang.

“Lha kan ada Santi, kenapa bingung Mad? masa punya pacar cuman diajak makan, nonton….itupun kalo pergi make uangmu. Rugi dikantong tauk!”, gurau Nugroho sembari sok pinter ngasih arahan ke Rochmad perihal kasusnya diatas.
“Wong edan! tapi bener juga sih, Sinta kan ayu, putih, mulus terus susunya itu lho Nug, walopun kecil tapi lancip. Tapi masak aku harus nikahin dia dulu? kan belum tentu bapak setuju, lha wong aku masih SMP tho?!”, jawab Rochmad polos atas arahan Nugroho.
“Geblek kamu! siapa suruh nikahin Santi? diajak ngeseks aja, gampang tho?”
“Lha apa iya Santi mau diajak ngeseks ma aku Nug?”
“Alahhhh…soal mau ndak mau itu urusan gampang!. Khan ada potenzol, wis nanti tak beliin”
“Lha kalo dia hamil bisa mati aku! terus gitu orang tuanya nuntut ke bapakku buat nikahin anaknya, bisa-bisa suram masa depanku. Wong Santi itu keliatane cantik tapi kan ndak pinter, masa aku harus punya istri wanita yang ndak pinter, gengsi dong!”
“O’on-o’on…ngapain takut hamil? terus apa gunanya kondom dijual bebas kalo gitu?”
“Ogah! tetep aja aku ndak mau. Apa kata orang-orang kalo tahu Rochmad anaknya pak Darto guru ngaji dari kampung Tegal Mulyo tiba-tiba ngelakuin seks sebelum nikah? bisa-bisa digantung aku, Nug. Terus gitu, yang namanya seks tanpa ada ikatan nikah itu namanya zinah, zinah itu dosa lha kalo dosa tempatnya dineraka. Aku nggak mau masuk neraka, Nug.”

Dan sesaat kemudian kedua mahkluk aneh inipun terdiam. Rochmad menenggelamkan matanya ke layar hape Nokia N-Gage QD’nya Nugroho yang penuh jejalan film bokep format 3GP. Begitu pula Nugroho, ia masih bingung buat nyari jalan keluar sambil mikirin nasib sohibnya yang tengah kebingungan melampiaskan hormon testoteronnya tersebut.

“Mad, gimana kalo dengan mbak Watik pembantumu itu? dia kan putih, mulus, ndak kalah ma Santi lho. Kata kitab suci kan boleh make budak untuk gituan, iya tho?”, ucap Nugroho sembari merebut hapenya dari genggaman Rochmad untuk ikutan nonton video 3gp yang barusan ia dapat dari salah satu konter hape di Plasa Singosaren Solo.
“Badala! salah tafsir kamu Nug dan disini bukan di Arab. Yang jelas juga mbak Watik itu bukan budak, tapi orang yang diminta kerja dirumahku, dia digaji ma bapakku, tauk!”, balas Rochmad sambil merasa terganggu karena keasyikannya nonton tengah diporak-porandakan Nugroho.

Lagi-lagi kedua anak manusia ini mengalami jalan buntu dalam berdiskusi. Tapi tidak lama kemudian…

“Mad, kalo yang satu ini pasti kamu setuju dengan aku”
“Apa itu Nug?”
“Masturbasi!”, jawab yakin Nugroho untuk Rochmad.

JDERRR!!!! bagaikan tersambar petir, akhirnya Rochmad pun mendapat pencerahan dari sohibnya tersebut. Jawaban tepat yang ia butuhkan sudah ada digenggaman, sekarang tinggal pengaplikasiannya aja. Sehari, seminggu, sebulan dan sampai ia merasa puas dengan aktivitasnya tersebut yakni masturbasi, Rochmad menjalani hari-harinya dengan penuh keceriaan. Bahkan tiap kali ada majalah dewasa terbaru, ia bahkan lebih dulu tahu isinya dibandingkan Nugroho yang dianggap sebagai tentor dalam hal ilmu seksual. Semakin ia banyak tahu isi dari majalah tersebut, semakin puas pula melampiaskan nafsunya.

Tapi apapun yang namanya kenikmatan duniawi itu tidaklah kekal adanya, begitu pula dengan nikmat masturbasi si Rochmad tersebut. Ketika suatu saat dimana bapaknya tengah memberi ceramah sewaktu ada acara sholat jum’at dimasjid dekat rumahnya, ia mendengar dengan kedua telinga terbuka lebar bahwa masturbasi itu sama dengan zina, zina dengan tangannya sendiri. Dan yang namanya zina itu dilaknat oleh Tuhan. “Dari pada berzina lebih baik menikah“, begitu kira-kira tutup ceramah bapaknya Rochmad kepada hadirin yang datang siang itu sambil tangannya mengelus jenggot.

(Bersambung)